Skip to main content
x

Rizal Ramli: Ada 3 juta Petani baru, ditengarai akibat Industri Rontok

KONFRONTASI- Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan ada 3 juta petani baru dampak dari pandemi Covid-19. Tokoh nasional sekaligus Begawan ekonomi Rizal Ramli  (RR) mengatakan, hal tersebut merupakan angka yang besar. Dia juga percaya, hal tersebut terjadi kerena industri rontok.

“Bisnis juga payah, perhotelan juga payah. Para profesional ini akhirnya tidak punya pilihan, akhirnya pulang kampung dan mencoba jadi petani,” kata Rizal Ramli dalam sebuah webinar, ditulis Selasa (3/8/2021).

Sebenarnya, lanjut Rizal, meningkatnya minat menjadi petani adalah angin segar. Terlepas hal itu karena keterpaksaan, karena sektor lain banyak yang tutup.

Rizal menambahkan, kebanyakan petani Indonesia tidak punya tanah, hanya buruh tani. Mereka tidak punya kartu kepemilikan tanah.

“Padahal kalau mau dapat beli pupuk, harus pakai kartu pupuk, mesti menunjukkan bukti kepemilikan,” lanjit dia.

Eks Menko Ekuin ini melanjutkan, petani kita rata-rata sudah di umur 50 tahun. Jadi untuk mengurus akses perbankan untuk permodalan, merasa minder.

“Belum lagi di tanya-tanya apa segala macam,” imbuh Rizal.

Rizal Ramli saat panen padi di Serang | Foto: Istimewa

Ia pun bertanya pada diri sendiri, mengapa sistem yang sudah bagus kemudian rusak. Analisanya, gara-gara anak-anak muda di sekitar Presiden Jokowi sibuk main kartu, termasuk di pertanian.

“Dulu kan sudah ada sistem KUD yang pupuk dijual di situ, bibit di jual di situ, bahkan kredit bisa dapat di situ. Kok sistem yang bagus ini, yang sudah jalan ini, mau di obrak-abrik karena hanya sejumlah milenial ingin mencari untung dari permainan kartu,” jelas Rizal.

“Akibatnya, selain subsidi pupuk dikurangi oleh pemerintah, akibatnya kebanyakan petani itu malas beli pupuk yang disubsidi, karena dia harus punya kartu. Dia harus ke kota bukan beli di KUD. Itulah yang menjelaskan mengapa petani kita makin miskin,” imbuh dia.

“Karena dia membeli pupuk yang tidak disubsidi, jadi rasio harga gabah dan pupuk yang disubsidi itu kurang dari satu. Tidak aneh nilai tukar petani dibawah angka satu. Artinya petani bukan makin kaya tapi dia makin miskin,” tandas Rizal.

Laporan: Muhammad Lutfi