10 December 2018

Resensi: Pemberontakan Petani Banten 1888

Banten merupakan salah satu dari 10 provinsi terkecil di indonesia dari segi teritorial, dengan luas wilayah 9.160,70 km²  dan dihuni oleh penduduk sebanyak 11,83 juta jiwa. Sebelumnya, Banten secara administratif masuk kedalam teritorial provinsi Jawa Barat, sampai kemudian memisahkan diri dan berdiri pada tahun 2000 bersamaan dengan derasnya arus Reformasi dan semangat Otonomi Daerah. Letak Geografis provinsi Banten terletak di wilayah ujung barat Pulau Jawa.

Kekayaan Alam, obyek wisata, serta kebudayaan yang ada di Banten menjadikan daya tarik tersendiri para wisatawan lokal maupun Internasional. Tidak hanya itu, banten juga terkenal akan narasi panjang sejarahnya. Banten atau dahulu dikenal dengan nama Bantam pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan ramah. 

Banten pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara adalah Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947, dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian Raja Purnawarman. 

Berlanjut sampai kemudian Sultan Maulana Hasanudin mendirikan Kesultanan Banten bersamaan dengan masuknya Islam dan berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara antara lain Samudra Pasai dan Kerajaan Demak. (Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java)

Perlu dicatat pula bahwa; Belanda pertama kali menginjakan kaki mereka di tanah Nusantara yaitu di tanah Banten, waktu itu Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Muhammad (1580–1605). Ditanah Banten pula Belanda mulai melakukan monopoli perdagangan dengan didirikanya VOC (1602). Berdirinya VOC adalah narasi dimulainya Kolonialisme Belanda di Nusantara (1602-1942).

Konflik didalam Kesultanan Banten waktu itu antara yang Pro dan Kontra terhadap Belanda menjadi kabar baik bagi Belanda untuk semakin memecah belah Kesultanan. Tentu saja konflik yang terjadi didalam Kesultanan Banten adalah hasil dari buah siasat Politik Devide At Impera Belanda, yaitu pecah belah dan kuasai. Terbukti siasat politik ini berhasil dan belanda berhasil menguasai Kesultanan sampai kemudian membubarkanya.

Banten adalah salah satu dari sekian banyak Daerah yang mulai melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Diawali perlawanan Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan Perang Jawa (1825-1830), perlawanan Santri dan Kiyai di Tegal Rejo,  adalah awal dari bangkitnya semangat perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Di Banten sendiri terjadinya perlawanan terhadap Belanda terjadi pada tahun 1888, yang di pimpin oleh Kiyai Wasid. 33 tahun pasca perlawanan tahun 1888, di banten kembali meletus  perlawanan terhadap Kolonial Belanda, yaitu tahun 1926 yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemberontakan Petani Banten 1888
 
Dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888, yang ditulis oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, penulis menceritakan semacam “kronologis” terjadinya pemberontakan yang dipimpin oleh Elit agama dan Saudagar di Banten waktu itu. Dalam buku ini pula Penulis menceritakan latar belakang terjadinya pemberontakan; dari mulai kesenjangan Sosial-Ekonomi, beban pajak yang terlalu tinggi, masuknya kebudayaan barat, sampai persoalan keagaamaan serta menginginkan Kesultanan Banten berdiri kembali. 

Namun nampaknya latar belakang yang paling kuat kenapa masyarakat banten waktu itu begitu yakin untuk melakukan pemberontakan adalah soal keyakinan. Pemerintah Kolonial Belanda melalui residen A.J. Spaan  (1881-1884) melarang warga setempat untuk melakukan acara-acara keagamaan. Ini yang kemudian menimbulakan reaksi negatif dari masyarakat pribumi terhadap pemerintah. 

Pemberontakan 1888 di Banten adalah bukan kali pertama terjadi. dalam kurun 1820-1845 pemberontakan sudah banyak terjadi di Banten walau dalam skala kecil yang dilancarkan oleh bandit-bandit dengan mencuri harta para pejabat setempat. Banten merupakan pusat pemberontakan, persemaian kerusuhan yang terkenal. Daerah Jawa khususnya Banten adalah daerah yang paling rusuh waktu itu.  

Tokoh Pemberontakan
 
Didalam buku ini; penulis menggambarkan siapa tokoh atau pemimpin Pemberontakan 1888, latar belakang, beserta moif-motif lainya. Seperti tertulis diatas bahwa latar belakang terjadinya pemberontakan yang paling menonjol adalah soal keyakinan masyarakat yang terusik oleh pelarangan acara keagamaan yang dibuat oleh pemerintah setempat waktu itu, dalam hal ini residen Banten. Bersamaan dengan pelarangan itu, para elite agama seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Wasid dan para elite agama lainya, berkumpul membicarakan tentang pemberontakan terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Ada motif lain selain soal keyakinan, yaitu motif mendirikan kembali Kesultanan Banten yang pernah berjaya pada masanya.
Dalam proses konsolidasi, terjadi silang pendapat terkait kapan pemberontakan akan dilancarkan. Dalam buku ini, penulis menggambarkan sosok Haji Wasid yang paling bersikeras agar segera melancarkan pemberontakan. Proses konsolidasi terus dilakukan oleh para elit agama dengan mendatangi tarekat-tarekat keagamaan; seperti tarekat Qodiriyah, tarekat Naqsabandiyah dan tarekat-tarekat keagamaan lainya.
 

Pemberontakan terjadi begitu singkat dan cepat serta mudah dipadamkan oleh tentara pemerintah. Cilegon, Serang, lebih tepatnya di Distrik Anyer, adalah lokasi pertama pemberontak melancarkan seranganya, dengan membunuh pejabat serta pamong praja kolonial belanda.

Pemberontakan yang berlangsung kurang dari 1 bulan ini terjadi antara tanggal 9 s/d 30 Juli 1988. Para pemberontak ditangkap, dipenjara, dibuang, sampai dibunuh.  Sementara pemimpin yang berhasil melarikan diri dikejar oleh tentara pemerintah, termasuk Haji Wasid. Haji Wasid melarikan diri bersama pengikutnya ke Arah selatan, melewati caringin, sumur, menuju ujung kulon. namun kemudian akhirnya tertangkap di dekat Sumur dan dibunuh beserta pengikutnya. Pemberontakan berhasil dipadamkan oleh pemerintah Kolonial, dan terbunuhnya Haji Wasid menjadi akhir dari pemberontakan itu.

Banten merupakan salah satu dari 10 provinsi terkecil di indonesia dari segi teritorial, dengan luas wilayah 9.160,70 km²  dan dihuni oleh penduduk sebanyak 11,83 juta jiwa. Sebelumnya, Banten secara administratif masuk kedalam teritorial provinsi Jawa Barat, sampai kemudian memisahkan diri dan berdiri pada tahun 2000 bersamaan dengan derasnya arus Reformasi dan semangat Otonomi Daerah. Letak Geografis provinsi Banten terletak di wilayah ujung barat Pulau Jawa.

Kekayaan Alam, obyek wisata, serta kebudayaan yang ada di Banten menjadikan daya tarik tersendiri para wisatawan lokal maupun Internasional. Tidak hanya itu, banten juga terkenal akan narasi panjang sejarahnya. Banten atau dahulu dikenal dengan nama Bantam pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan ramah. 

Banten pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara adalah Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947, dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian Raja Purnawarman. 

Berlanjut sampai kemudian Sultan Maulana Hasanudin mendirikan Kesultanan Banten bersamaan dengan masuknya Islam dan berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara antara lain Samudra Pasai dan Kerajaan Demak. (Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java)

Perlu dicatat pula bahwa; Belanda pertama kali menginjakan kaki mereka di tanah Nusantara yaitu di tanah Banten, waktu itu Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Muhammad (1580–1605). Ditanah Banten pula Belanda mulai melakukan monopoli perdagangan dengan didirikanya VOC (1602). Berdirinya VOC adalah narasi dimulainya Kolonialisme Belanda di Nusantara (1602-1942). 

Konflik didalam Kesultanan Banten waktu itu antara yang Pro dan Kontra terhadap Belanda menjadi kabar baik bagi Belanda untuk semakin memecah belah Kesultanan. Tentu saja konflik yang terjadi didalam Kesultanan Banten adalah hasil dari buah siasat Politik Devide At Impera Belanda, yaitu pecah belah dan kuasai. Terbukti siasat politik ini berhasil dan belanda berhasil menguasai Kesultanan sampai kemudian membubarkanya.

Banten adalah salah satu dari sekian banyak Daerah yang mulai melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Diawali perlawanan Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan Perang Jawa (1825-1830), perlawanan Santri dan Kiyai di Tegal Rejo,  adalah awal dari bangkitnya semangat perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Di Banten sendiri terjadinya perlawanan terhadap Belanda terjadi pada tahun 1888, yang di pimpin oleh Kiyai Wasid. 33 tahun pasca perlawanan tahun 1888, di banten kembali meletus  perlawanan terhadap Kolonial Belanda, yaitu tahun 1926 yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
 
Pemberontakan Petani Banten 1888
Dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888, yang ditulis oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, penulis menceritakan semacam “kronologis” terjadinya pemberontakan yang dipimpin oleh Elit agama dan Saudagar di Banten waktu itu. Dalam buku ini pula Penulis menceritakan latar belakang terjadinya pemberontakan; dari mulai kesenjangan Sosial-Ekonomi, beban pajak yang terlalu tinggi, masuknya kebudayaan barat, sampai persoalan keagaamaan serta menginginkan Kesultanan Banten berdiri kembali. 

Namun nampaknya latar belakang yang paling kuat kenapa masyarakat banten waktu itu begitu yakin untuk melakukan pemberontakan adalah soal keyakinan. Pemerintah Kolonial Belanda melalui residen A.J. Spaan  (1881-1884) melarang warga setempat untuk melakukan acara-acara keagamaan. Ini yang kemudian menimbulakan reaksi negatif dari masyarakat pribumi terhadap pemerintah. 

Pemberontakan 1888 di Banten adalah bukan kali pertama terjadi. dalam kurun 1820-1845 pemberontakan sudah banyak terjadi di Banten walau dalam skala kecil yang dilancarkan oleh bandit-bandit dengan mencuri harta para pejabat setempat. Banten merupakan pusat pemberontakan, persemaian kerusuhan yang terkenal. Daerah Jawa khususnya Banten adalah daerah yang paling rusuh waktu itu.  

Tokoh Pemberontakan
 
Didalam buku ini; penulis menggambarkan siapa tokoh atau pemimpin Pemberontakan 1888, latar belakang, beserta moif-motif lainya. Seperti tertulis diatas bahwa latar belakang terjadinya pemberontakan yang paling menonjol adalah soal keyakinan masyarakat yang terusik oleh pelarangan acara keagamaan yang dibuat oleh pemerintah setempat waktu itu, dalam hal ini residen Banten. Bersamaan dengan pelarangan itu, para elite agama seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Wasid dan para elite agama lainya, berkumpul membicarakan tentang pemberontakan terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Ada motif lain selain soal keyakinan, yaitu motif mendirikan kembali Kesultanan Banten yang pernah berjaya pada masanya.
 
Dalam proses konsolidasi, terjadi silang pendapat terkait kapan pemberontakan akan dilancarkan. Dalam buku ini, penulis menggambarkan sosok Haji Wasid yang paling bersikeras agar segera melancarkan pemberontakan. Proses konsolidasi terus dilakukan oleh para elit agama dengan mendatangi tarekat-tarekat keagamaan; seperti tarekat Qodiriyah, tarekat Naqsabandiyah dan tarekat-tarekat keagamaan lainya.
 
Pemberontakan terjadi begitu singkat dan cepat serta mudah dipadamkan oleh tentara pemerintah. Cilegon, Serang, lebih tepatnya di Distrik Anyer, adalah lokasi pertama pemberontak melancarkan seranganya, dengan membunuh pejabat serta pamong praja kolonial belanda. 

Pemberontakan yang berlangsung kurang dari 1 bulan ini terjadi antara tanggal 9 s/d 30 Juli 1988. Para pemberontak ditangkap, dipenjara, dibuang, sampai dibunuh.  Sementara pemimpin yang berhasil melarikan diri dikejar oleh tentara pemerintah, termasuk Haji Wasid. Haji Wasid melarikan diri bersama pengikutnya ke Arah selatan, melewati caringin, sumur, menuju ujung kulon. namun kemudian akhirnya tertangkap di dekat Sumur dan dibunuh beserta pengikutnya. Pemberontakan berhasil dipadamkan oleh pemerintah Kolonial, dan terbunuhnya Haji Wasid menjadi akhir dari pemberontakan itu.(Juft/alikhotim.co.id)

______________________________________
Oleh: Mohammad Khotim Ali
Judul Buku: Pemberontakan Petani Banten 1888

Penulis: Prof. DR. Sartono Kartodirdjo

Penerbit: Pustaka Jaya

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...