Skip to main content
x

Kemkes: Sampai Akhir Januari KLB DBD Terjadi di 9 Kabupaten

KONFRONTASI -  Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan (Kemkes) menyebutkan hingga akhir Januari 2016, kejadian luar biasa (KLB) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah terjadi di sembilan kabupaten, dan dua kota dari 7 provinsi di Indonesia.

Daerah tersebut ialah Kabupaten Tangerang (Provinsi Banten), Kota Lubuklinggau (Sumatera Selatan), Kota Bengkulu (Provinsi Bengkulu), Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar (Bali), Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo (Provinsi Sulawesi Selatan), Kabupaten Gorontalo (Provinsi Gorontalo), dan Kabupaten Kaimana (Papua Barat).

“Sepanjang bulan Januari, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan jumlah kematian 25 orang,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemkes, Oscar Primadi, di Jakarta, Jumat (5/2).

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun kejadian penyakit ini di Indonesia cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan turun pada Februari hingga ke penghujung tahun.

Selain sosialisasi terus menerus oleh Dinas Kesehatan dan Kemkes, penanganan KLB DBD juga dengan mengirim tim teknis untuk penyelidikan epidemioligi serta penanggulangan vektor dengan fogging focus, pemberian larvasida (abate) dan insektisida. Sementara untuk deteksi dini Kemkes sudah mengirim Rapid Diagnostic Test (RDT). Adapun dukungan logistik dari pemerintah pusat didistribusikan berdasarkan permintaan daerah, karena di beberapa daerah sudah ada yang memiliki logistik masing-masing.

“Beberapa lokasi KLB seperti Kaimana diberi tambahan RDT untuk percepatan penemuan dini kasus, saat ini kasus DBD di Kaimana sudah tidak ada,” kata Oscar.

Saat ini, kata Oscar, yang masih berkembang kasusnya di lokasi KLB Kabupaten Banten. Alat dan bahan pengendalian vektor siap didistribusikan ke sana bersama tim teknis dari Pusat. Pada daerah yang sudah terjadi KLB di mana penanganan perawatan dilakukan di RS, daerah harus memobilisir semua sumber daya kesehatan yang ada, termasuk untuk menampung pasien di RS.

Sementara Kemkes siap mendistribusikan bantuan obat-obatan yang diperlukan. Upaya ini selain mengoptimalkan kemampuan tiap daerah, juga untuk lebih mengaktifkan peran POKJANAL DBD yang ada di daerah.

Perlu diketahui, sebuah daerah dikatakan KLB DBD bila jumlah kasus baru DBD dalam periode bulan tertentu menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya. Selain itu, timbulnya kasus DBD pada suatu daerah yang sebelumnya belum pernah terjadi. Juga karena angka kematian DBD dalam kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Sementara itu, terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko. Pertama, lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes Agepty, nyamuk penular DBD. Kedua, pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang disebut 3M Plus. Ketiga, perluasan daerah endemik akibat perubahan dan manipulasi lingkungan yang terjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru, serta keempat meningkatnya mobilitas penduduk.

Untuk menekan terjadinya KLB DBD, perlu membudayakan kembali PSN 3M Plus secara berkelanjutan sepanjang tahun dan mewujudkan gerakan satu rumah satu jumantik.   (Juft/Brt-1)

NID
66123