Skip to main content
x

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 102

Episode 102
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Berpuluh tahun Cut Nyak Dhien bersama anak buahnya di hutan belantara di kaki gunung Leuser, kadang makan kadang lapar. Jika lapar mendera sementara makanan layak tak ada yang dimakan, Cut Nyak Dhien memakan daun-daunan untuk bertahan hidup. Begitu juga Pang Laot, pendamping Cut Nyak Dhien yang berperan sebagai panglima. Cut Nyak Dhien adalah perempuan yang  tabah, teguh pendirian dan selalu bersikap  tawakal. Sesekali perang tanding antara marsose dan pengikut-pengikut Cut Nyak Dhien juga terjadi, walaupun hari demi hari, pasukan Cut Nyak sering mundur atau kalah bertempur. Bayangkan, kehidupan Cut Nyak Dhien yang bukan lagi seni kemis, tetapi dari hari senin sampai hari kamis, kelaparan, jumat sampai hari Ahad, juga berjumpa akanan dedauanan atau jika ada rezeki yang luarbiasa, rakyat dari desa yang jauh di kamoung-kampung di bawah gunung mengantarkan beras, lauk pauk, garam. Jika ini yang mereka temukan, ditambah lagi anak buah Cut Nyak Dhien mendapat seekor rusa atau kabing hutan yang dapat dijerat atau diburu, mereka makan besar dan kegembiraan demikian terasa ddatangnya nikmat Allah swt, dari langit. Allah sayang kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya.                           

Sebagaimana kehidupan, masa kecil, masa muda dan masa menurun dan ketuaan datang menegur secara perlahan. Cut Nyak Dhien kini langkahnya sudah tak seperti dulu, tungkai kakinya yang dulu penuh, kini kurus seakan tinggal tulang dibalut kulit, dan langkahnya pun terseok-seok menuruni lembah mendaki bukit. Sering Pang Laot Ali membimbingnya kemana ia ingin pergi, mencari sesuatu yang diingini.  Ketika ia ingin shalat wajib dan diimami Pang Laot Ali, atau panglima yang lain. Sementara pang Laot Ali adalah panglima yang merupakan tangan kanan Cut Nyak.                            

Suatu hari tubuh Cut Nyak melemah. Badan kurusnya terbujur di sebuah gua ditengah hutan rimba. Bagaimana pun penderitaan makin berat dirasa dan Pang laot melihat putri bangsawan ini kian sengsara,  karena kurang makan, beban perjuangan yang harus selalu dijalankan, usia makin menaik tajam tapi kondisi fisik terus menurun. Kadang Cut Nyak Dhien mengeluh karena penyakit encoknya seperti memeras-meras tulang belulang di seluruh tubuhnya. Dan ia panggil Pang Laot:

“Pang laot, ke sinilah!”   

Tiba-tiba laki-laki kepercayaannya itu datang dan berbicara tentang keadaan rakyat Aceh di kampung – kampung di Aceh Raya, Aceh Jaya, Aceh gayo, Pidie dan Singkil sampai ke sudut-sudut negeri.
“Kaphe-kaphe Belanda masih memburu-buru orang-orang yang erbahaya Cut Nyak!” Jaswab Pang Laot.

“Iya, makanya kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita di sini diketahui oleh kaphe-kaphe busuk itu!” Ujar Cut Nyak Dhien. Tak lama mereka berbicara, Pang Laot pun pergi, diiringi beberapa pengawal pribadi.

Dan ketika  Cut Nyak Dien mencari-cari sesuatu di gua persembunyiannya, matanyapun tak seperti dulu lagi. Ia melihat tidak seterang penglihatannya sebagaimana sebelumnya. Penglihatannya rabun,  penyakit encok menggerumun. Selain itu jumlah anak buah alias pasukannya juga menurun.

Suatu hari datanglah Pang Laot Ali ke markas persembunyiannya, dan berkata:               

“Cut, sudah saatnya kita tidak lagi bertahan seperti ini, di tengah penderitaan yang makin menggunung, hidup terpencil, makanan semakin sulit didapatkan.”                 

“Apa katamu Pang Laot? Lalu apa maksud =mu dengan berkata begitu?” Sergah Cut Nyak Dhien.

Pang Laot menarik nafas dalam.                 

“Iya Cut, kita menyerah saja kepada Belanda, karena keadaan semakin sulit dan sangat tak menguntungkan!”                

“Pang Laot!” Cut Nyak Dhien yang lemah dan tubuhnya sudah kurus dimakan usia, gemetar ia berdiri lalu menunjuk muka Pang Laot:               

“Jangan kau berkata itu lagi. Aku mulai curiga denganmu, rupanya kau sudah mulai tgermakan ‘cirik berandang’, ya Pang Laot?”

Pang Laot jadi malu mendengar ucapan Cut Nyak Dhien. Perempuan tua yang sangat marah itu, kembali duduk, dengan penuh gemetar ia turun dari berdirinya. Beberapa anak buahnya membantu perempuan tua itu untuk duduk di dalam gua yang sempit itu.

Tak lama Pang Laot meminta izin untuk pergi, meninggalkan Cut Nyak Dhien, perempuan tua tapi masih kukuh dan masih merasa tangguh melawan kaphe-kaphe Belanda sendiri di dalam guanya yang dingin.

Rupanya, turunnya Pang Laot dari gunung kali ini, mendatangi pos kaphe-kaphe Belanda di Meulaboh. Ia melaporkan kepada komandan distrik Meulaboh di kantor kolonial kaphe-kaphe Belanda tentang keberadaan Cut Nyak Dhien. Koamndan di pos itu bertanya, mengapa kau membocorkan tentang keberadaan Cut Nyak Dhien yang merupakan komandan kamu sendiri? Pang Laot menjawab bahwa ia makin hari merasa kasihan karena kondisi Cut Nyak semakin menyedihkan. Matanya rabun, kondisi fisiknya kian lemah dan anak buahnya juga semakin sedikit.

“Baik saya terima laporan ini Pang Laot” Ujar Jacobus van Kluet. Tak lama kemudian ia memutar telepon di mejanya dan menghubungi gubernur Jenderal Hindia Belanda berkuasa di Kutaraja.                      

“Tuan van heutsz! Ada berita gembira hari ini. Kita akan pesta besar beberapa waktu yang akan datang!”                 

“Ada apa ini, Jacobus van Kluet?”                 

“Cut Nyak Dhien, singa Aceh yang paling garang dan sangat galak itu, telah kita ketahui tempat kebeeradaannya.                   

“Wow, oke kalau begitu. Persiapkan segala sesuatunya untuk menangkapnya!” Ujar van Heutsz dari Kutaraja.

Sementara itu koprs angkatan perang kaphe-kaphe Belanda merasa kasihan kepada bangsa dan orang Aceh. Mereka melihat bahwa setiap orang Aceh menganggap pasukan marsose itu adalah pasukan biadab dan orang Aceh merasa sulit menaklukkannya. Pasukan kaphe-kaphe Marsose kebanyakan terdiri dari  orang Tionghoa-Ambon yang tak membiarkan  semua yang ada di jalan yang dilewatinya utuh. Bila marsose lewat, semua yang dilewati pasti porak poranda dan hancur berantakan. Walaupun ada juga pasukan-pasukan mujahidin Tanah Perlawana yang berani menghadapinya dan memperoleh kemenangan di bbeberapa medan pertempuran. Akhirnya dengan resmi Van der Hejden membubarkan pasukan kaphe-kaphe  Marsose. Ini  menyebabkan van Heutsz gubernur jenderal yang berkuasa setelahnya memperoleh kesuksesan.  Dengan memanfaatkan  ketakutan terhadap kaphe-kaphe marsose yang telah dibubarkan itu, van Heutsz menyewa orang Aceh untuk menjadi cuak-cuak (mata-mata) untuk menaklukkan para pejuang Tanah Perlawnan yang dicap van Heutsz sebagai  teroris atau pemberontak. (Bersambung)

 

NID
62029