Unggah Foto Baca Buku 'How Democracies Die', Rocky Gerung Sebut Lebih Elegan dari Menurunkan Baliho

KONFRONTASI -   Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menggemparkan jagat maya hanya dengan mengunggah foto dirinya sedang duduk sambil membaca buku karangan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, How Democracies Die.

Pasalnya unggahannya tersebut menuai berbagai penafsiran politik dari berbagai kalangan. Anies mengunggah foto tersebut di sejumlah akun media sosialnya, antara lain Facebook dan Twitter.

Foto itu memperlihatkan Anies dengan kemeja putih dan sarung, sedang duduk sambil serius membaca buku How Democracies Die.

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang membaca buku How Democracies Die.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang membaca buku How Democracies Die. Twitter.com/@aniesbaswedan

 

Pada latar belakang foto itu tampak lemari kabinet yang memajang buku dan sejumlah ornamen, meja panjang yang menampilkan sejumlah foto, dan lukisan kaligrafi yang tergantung di tembok putih.

Unggahan yang sempat menghebohkan jagat maya itu, akhirnya mendapat respons dari pengamat politik Rocky Gerung.

Rocky menilai hal itu lebih elegan dari pada aksi penurunan baliho tokoh sentral Habib Rizieq Shihab, dan memaki-maki artis seksi Nikita Mirzani.

"Enggak perlu begitu. Anies hanya kasih contoh, saling kirim sinyal dengan cara-cara soft power. Tentu dengan judul-judul yang satire, dan lucunya di sebelahnya (meme viral), ada foto Jokowi baca Sinchan,” kata Rocky dalam tayangan video pada kanal Rocky Gerung Official, Senin 23 November 2020.

Rocky menyebut cara ini sebagai sebuah pertarungan yang menarik ketimbang melakukan aksi panas seperti halnya manuver show off force di Petamburan.

“Mestinya begituan kan, bertanding begituan saja, saling meledek dengan kemampuan intelektual,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga mengkritik buruknya sikap pemerintah dalam menanggapi persoalan beberapa pekan terakhir. Kata dia, seolah tengah terjadi pemburukan terhadap demokrasi, bahkan membuatnya tidak tertahan lagi.


Sebab menurutnya, istana dianggap tidak punya orkestrasi yang mengabstraksikan politik sebagai sesuatu yang konseptual.

“(Mereka) Justru terpancing oleh kehadiran Habib Rizieq, lalu Istana kumpulkan buzzer, dimulai dengan rapat rahasia yang belakangan terbongkar. Persoalan kita saat ini (harusnya) agar supaya suhu politik tetap panas, tapi tidak membakar. Maka itu perlu kemampuan akal, bukan kemampuan buzzer,” kata dia lagi.

Rocky kemudian membeberkan sinopsis buku yang dibaca Anies, terbit pada 2018 itu.

“Sinopsis buku itu kan agak paradoks, karena dia mau katakan demokrasi justru memburuk, karena mereka yang terpilih secara demokratis justru memperalat opini publik untuk mempertahankan kekuasaan,” ujarnya.

“Memperalat oligarki untuk menghabiskan sumber daya, agak ajaib bahwa kita ada di dalam trek demokrasi, tiba-tiba kita kaget bahwa kenapa trek ini menurun. Padahal orang yang kita pilih harusnya paling tidak mempertahankan,” sambungnya.(Jft/GALAMEDIA)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...