17 July 2018

Sinetron Perang Antar-Geng: Rizal Ramli Beberkan Praktik Kotor Freeport Indonesia

KONFRONTASI - Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli membeberkan praktik kotor PT Freeport Indonesia untuk terus bercokol di tanah Papua dengan mengeksplorasi kekayaan alamnya. 

"Diiming-imingi (pejabatnya) bahwa kalau disetujui kontraknya akan berinvestasi 18 miliar dolar," ujarnya dalam diskusi Indonesia Lawyer Club (ILC) bertema 'Sudirman VS Novanto, Sinetron Perang Antar-Geng?' Selasa malam (24/11).

Padahal, ungkap Rizal, dana sebesar USD 18 miliar itu hanyalah capex atau biaya bisnis yang disisihkan dari keuntungan Freeport sebesar USD 6 miliar tiap tahun. Artinya, pemerintah Indonesia hanya kebagian sedikit dari keuntungan yang diambil perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.

Cara kedua adalah menakut-nakuti pemerintah dengan mengancam menarik investasi yang nantinya bakal berdampak reputasi buruk Indonesia di mata dunia internasional.

"Padahal teman-teman lupa, ini (Freeport Indonesia) pemiliknya adalah perusahaan go public di Amerika Serikat. Kalau produksinya turun, reveneu-nya turun maka chairman-nya bakal diganti," bebernya.

Menurut Rizal, taktik tersebut digunakan banyak perusahaan asing untuk terus mempertahankan kontraknya di Indonesia, bukan saja dilakukan oleh Freeport. Hal yang sama juga terjadi pada perpanjangan kontrak karnya penambangan batu bara di Belitung, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu.

"Teknik ini dipakai di setiap kontrak karya yang besar di Indonesia," jelas Rizal.

Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu memastikan bahwa praktik kontrak tambang dan migas selama ini melenceng dari aturan pasal 33 UUD 1945. Di mana, sumber daya alam di Tanah Air justru digadaikan kepada investor-investor asing.

"Nah kalau pejabatnya mentalnya inlander, kalau percaya dengan omongan orang asing begitu saja tanpa sikap kritis akan takut sekali kalau kontrak ini dihapuskan. Atau dia menggampangkan tang ngecek apa itu betul fresh money atau hanya capex yang dikumpulkan tiap tahun," tegas Rizal.[]IAN/RM

Category: 
Loading...