22 October 2018

Sepak Terjang Rizal Ramli Saat Menjadi Kepala Bulog di Era Gusdur

KONFRONTASI - Nama Rizal Ramli dalam sepekan terus menjadi sorotan, tentunya bukan karena kasus korupsi seperti yang banyak diberitakan media pada umumnya saat ini, mantan Kepala Bulog di era presiden almarhum Gusdur, Rizal bisa dikatakan termasuk salah satu orang yang memiliki tangan besi dengan memecat sejumlah petinggi di Bulog karena terindikasi kasus korupsi.

Dalam wawancara resmi yang dilakukan di kediamannya, di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, Rizal menceritakan pengalamannya saat ia ditunjuk oleh almarhum Gusdur untuk dipercaya menjadi kepala Bulog.

Berikut petikan wawancara tim indonesiakita.co kepada Rizal Ramli.

Apa yang mendasari Gusdur mempercayai anda menjadi kepala Bulog Bang Rizal?

“Padahal banyak yang bagus-bagus, tapi entah mengapa saya yang ditunjuk. Tapi pada dasarnya hanya satu yang menjadi pedoman saya atas pesan almarhum (Gusdur) yakni, bikin petani senang, udah itu aja, selebihnya terserah kamu mau ngapain aja yang penting jangan bikin petani sengsara,” ujarnya.

Langkah pertama menjadi kepala Bulog, apa yang Bang Rizal lakukan?

“Di masa-masa itu Bulog adalah “sapi perah” baik untuk kepentingan politik maupun untuk kepentingan individu pejabat-pejabatnya. Juga merupakan sarang mafia. Banyak petinggi Bulog yang melakukan korupsi walaupun sudah mendapatkan berbagai fasilitas.

“Begitu ditugaskan ke Bulog, kami data, dapat sekitar 50 pejabat (yang terindikasi korup). Saya panggil mereka dan saya minta untuk  mengundurkan diri. Kami kasih yang pensiun tambahan, setahun ekstra, sampai biaya mudik satu keluarga,” jelas Rizal.

Apa ada yang marah, atau tersinggung atas sikap anda saat menjabat sebagai kepala Bulog?

“Loh, bahkan ada yang berlatar belakang dari militer, ada sekitar delapan direksi dari kalangan militer sempat mengancam saya, dan saya kan orangnya gak bisa digertak, apalagi saya ini penasehat ekonomi TNI dari tahun 1992-1997,”

“Jadi, saya panggil kedelapan perwira TNI yang mau dipecat itu. Saat mereka menolak dipecat, Rizal Ramli menghubungi Panglima TNI ketika itu, Laksamana Widodo AS. Speaker phone saya nyalain. Saya katakan: Mas Widodo, di depan saya ini ada jenderal yang tidak mau saya pecat, malah ngajak saya berantam,” tambah Rizal.

Lalu apa yang dikatakan Pak Widodo kepada Bang Rizal?

“Pak Widodo teriak: Siapa mereka, Mas Rizal? Nama dan NRP-nya tolong dicatat. Mendengar suara Panglima TNI, perwira-perwira TNI ini langsung angkat tangan, minta ampun dan tak mau dipecat. Setelah tak ada lagi pemain di Bulog, saya bebas melakukan yang terbaik di Bulog. Inikan tugas, amanah, apalagi untuk rakyat Indonesia masa kita mau main-main sih. Bahkan dalam waktu singkat antara 2000 hingga 2001, Bulog berhasil mencatat keuntungan sekitar Rp 5 triliun,” tutupnya.

Di era saat ini, dimana Bulog dipimpin oleh Budi Waseso, Rizal menyatakan kagum dengan sikap mantan Kepala BNN tersebut. Menurutnya, langkah menolak impor beras yang dilakukan oleh Buwas merupakan sikap partriotisme dan jelas mendukung kepentingan banyak pihak.

“Era Pak Buwas, luar biasa, beliau berani menahan impor beras, dengan fakta, data dan kemampuan keberanian beliau, maka saya yakin petani Indonesia bisa makmur, ekonomi Indonesia terbantu, dan yang paling penting kita tidak terjerat kepentingan rente yang jelas-jelas mencekik kita, karena apa, kita dibikin ketergantungan impor nantinya,” tegas Rizal.

Rizal berharap, sikap yang dimiliki oleh Buwas bisa diikuti oleh menteri lainnya, baik di bidang apapun. “ Tentunya bisa dicontoh itu Pak Buwas, beliau jelas mengedepankan petani Indonesia. Lagian kurang apa sih, gaji jadi menteri sudah besar, fasilitas sudah ada, mau apa lagi coba, kurang apa. Sekarang yang terbaik adalah bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk rakyat,” tutupnya. (Juft/INDONESIAKITA))

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...