26 January 2020

Semangkuk Sup dan Drama Yang Berkisah Sejarah Dan Kekuasaan

KONFRONTASI - Drama ‘Semangkuk Sup Makan Siang’ atau ‘Cultuurstelsel’ dipentaskan di Balai Budaya Rejosari Kudus, Sabtu (25/3) malam. Dalam pentas tersebut tiga aktor yang bermain yakni Theodorus Christanto, Rendra Bagus Pamungkas, dan Whani Dharmawan memikat penonton yang datang dengan pesan sejarahnya.

Naskah ditulis dan disutradarai Hedi Santosa itu banyak mengundang warga Kudus dan beberapa pegiat seni di Kudus untuk datang ke Balai Budaya Rejosari. Kegiatan yang dilakukan atas dukungan Djarum Foundation Bhakti Budaya dengan Lembaga Pelatihan Pribadi dan Korporasi WhaniDProject (www.whanidproject.com) berbeda dengan pertunjukan sebelumnya yg pernah di gelar di Yogyakarta dan Jakarta.

Hedi Santosa menjelaskan bahwa dalam pentas keliling ini ia memberlakukan beberapa perubahan dalam pementasannya. Perubahan itu untuk melakukan penyegaran kembali agar naskah dan permainan teater bisa menyambung komunikasi kepada penonton lebih intim lagi, tanpa mengorbankan estetika yang sudah dikonsepsikan.

Karenanya, Hedi menambahkan naskah diedit lago dan praktik pertunjukan diolah kembali menyesuaikan bentuk open air, bermain di tengah taman di bawah pohon durian di kawasan Budaya Rejosari tersebut.

Naskah yang dipenuhi narasi tentang reaktualisasi nilai Cultuurstelsel pada situasi kekinian ini yang merepresentasikan tentang persoalan retrospektif perihal kebangsaan, yang kemudian melahirkan budaya Indonesia di hari ini.

Whani salah satu aktor dalam pentas tersebut mengatakan pementasan ini berisi percakapan retrospektif tentang sejarah Indonesia, terutama masa Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel), yang digagas oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830 atau pasca perang Diponegoro yang mengakibatkan kebangkrutan Belanda.

“Drama ini hanya berbicara tentang kekosongan hidup. Mempertanyakan apa dan siapa sesungguhnya kekuasaan. Dengan geram dan garang kekuasaan diperbincangkan namun ternyata tetap hanya berhenti sebatas rerasan, umpatan keras, dan tak pernah ada jawaban,” papar Whani.

Pertunjukan disutradarai Hedi Santosa didampingi asisten sutradara Gati Andoko. Sedangkan untuk ilustrasi musik digarap oleh Giwang Topo dan penata kostum Atinna Rizqiana memikat banyak penonton.

Asri Candra Puspita, warga Kudus, alumni Bahasa Prancis Universitas Semarang seusai pertunjukan mengatakan, pementasannya sangat menarik, mengingatkan tentang kekosongan sebuah kehidupan, ada nilai yang diungkapkan dalam pertunjukan tersebut. "Nilai itu adalah nilai kita yang terkadang menghilangkan diri di dunia nyata dan lebih memahami dunia maya. Seperti sekarang ini kita lebih akrab dengan media sosial, itu dunia maya,” katanya.

Seusai pertunjukan juga diadakan diskusi, hadir dalam diskusi sebagai narasumber yang membedah adalah Edy Supratno, Sejarahwan Kudus yang menceritakan cultuurstelsel di Jawa saat itu dengan korelasi pentas dan ide yang digarap.(Juft/Mrdk)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...