Sebut Vaksin Bisnis Besar Taipan, Guru Besar UI: Hanya 'Monyet' di Indonesia yang Perlu Divaksin

KONFRONTASI -   Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih tidak percaya bahwa vaksin-vaksin asal Tiongkok yang dibeli oleh Indonesia akan manjur mengobati Covid-19. 

Bahkan ada yang berpendapat bahwa pembelian vaksin ini adalah sebuah skema bisnis besar konglomerat.

Sehubungan dengan hal tersebut, guru besar Universitas Indonesia menyebut bahwa pengadaan vaksin ini merupakan bisnis besar taipan.

Sejauh ini, Indonesia tengah melakukan tahap finalisasi pembelian tiga vaksin corona dari beberapa perusahaan vaksin di Tiongkok.

Ketiga vaksin Tiongkok itu berasal dari Sinovac, Sinopharm, dan CanSino.

Seperti yang telah diketahui, Achmad Yurianto menyatakan bahwa Kemenkes telah menyelesaikan uji klinis fase 3 di sejumlah negara. Tim finalisasi pembelian vaksin terdiri dari Kemenkes, Kemenag, MUI, hingga BPOM.

Yuri mengatakan, vaksin itu juga telah digunakan di negara asalnya (Tiongkok) dengan tujuan untuk mencari vaksin yang aman.

Aman yang dimaksud dari sisi manfaat terhadap pencegahan untuk menjadi sakit karena Covid dan aman dari sisi kehalalannya.

Ketiga vaksin corona Tiongkok ini telah melakukan uji klinis di luar negara asalnya. Salah satunya Sinovac yang dilakukan di Indonesia, vaksin Sinovac telah menyelesaikan uji klinis fase 3 selain di Tiongkok juga di Brasil.

Sementara, di Indonesia dikabarkan baru akan selesai pada Desember yang dilaksanakan oleh Bio Farma dan Unpad.

Namun guru besar UI, Ronnie H. Rusli punya pandangan lain terkait rencana pembelian vaksin tersebut.

Melalui akun Twitternya @Ronnie_Rusli, ia menyebut pengadaan vaksin merupakan bisnis besar oleh kalangan tertentu.

Dirinya juga menambahkan bahwa sistem impor vaksin dilakukan oleh importir, bukan pemerintah.

Jawab pertanyaan dari seorang warganet yang menanyakan bahwa benarkan Impor vaksin Covid-19 tersebut bukan uang dari anggaran Kemenkes.

"Bukan Vaksin itu di beli, memangnya Kemenkes yg menyediakan obat2an Kemotherapi di RSUP/RSUD atau obat sakit jantung, segala Vaksin yg ada di RS. Kemekes hanyah regulator kesehatan. Kalau obat2n itu urusan POM,Jawab Ronnie.

Ronnie kemudian mengutip pernyataan dari Elon Musk yang secara tegas mengungkapkan tidak akan pernah menggunakan vaksin virus corona.

"Tesla founder Elon Musk has said that 'neither he nor his family will likely take future coronavirus vaccines' even when they are readily available, saying the pandemic has diminished [his] faith in humanity. Hanya monyet di indonesia perlu di vaksin, yg bukan monyet gak perlu," tuturnya.

"Kemungkinan besar dia sudah tahu kalau Vaksin C19 gak ada gunanya," katanya menambahkan.(Jft/PR)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...