17 July 2018

Rocky Gerung: Pemberangusan Buku Kiri Cermin Rezim Antipikiran

KONFRONTASI-Pemberangusan buku kiri yang terjadi saat ini dinilai menggambarkan rezim yang antipikiran.

"Rezim antipikiran itu pasti tidak suka dialog," kata Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Rocky Gerung, Selasa, 17 Mei 2016.

Menurut dia pemerintah tampak konyol saat berusaha memberangus pikiran kiri atau komunisme di Indonesia. Karena pada dasarnya, ideologi tersebut telah tersebar secara viral di dunia maya. Rocky menyebut pemerintah saat ini norak.

Dia justru mempertanyakan bagaimana cara pemerintah memberangus logo, gambar, buku, dan berbagai atribut komunisme yang telah ada di internet.

"Ini negara yang antipikiran, sehingga jalan pikiran yang dianggap berbahaya diberangus," ucap dia.

Menurut Rocky, tidak ada satu pikiran atau paham yang berbahaya di dunia. Justru, yang berbahaya adalah gerakan politik dari suatu paham tersebut. Dia menyarankan agar pemerintah bersikap demokratis dengan menggunakan metode dialogis.

Artinya, jika pemerintah tidak sepakat dengan paham komunisme, harus dibantah dengan cara membuat rumusan tesis dan antitesis. Karena komunisme adalah susunan pemikiran dengan berbagai rumusan termasuk teori matematika.

Selain itu, Rocky menuding penegak hukum di Indonesia hanya mencari sensasi. Penegak hukum baik Polisi dan TNI, dianggap ketagihan terhadap aksi intelijen dengan cara memberangus buku dan atribut komunisme. Pemberangusan buku, kata dia, sebagai bentuk antiperadaban.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti bahkan menginstruksikan untuk terus merazia buku kiri di Indonesia. Kata Badrodin, TNI juga memiliki kewenangan yang sama untuk menangkal bergolaknya komunisme. Badrodin juga telah memerintahkan bawahannya untuk gencara merazia buku di Indonesia.[mr/tmp]

Category: 
Loading...