6 December 2019

Rizal Ramli: Visi Ekonomi Pak Jokowi Bagus, Tapi Strategi dan Personalianya Payah

KONFRONTASI-Ekonom senior Rizal Ramli menilai visi  Presiden Jokowi terkait tata kelola negara sangat bagus, namun dalam implementasinya yang terjadi justeru sebaliknya.

“Kalau lihat pengalaman lima tahun yang lalu, visinya bagus Pak Jokowi, kepingin produksi pangan yang bagus, anti impor, dan lain-lain. Tapi begitu terjadi, kebanyakan beda arah. Misalnya kepingin batasi impor, tapi impor Indonesia malah ugal-ugalan karena menteri yang dipilih raja impor,” papar Rizal dalam acara dialog “Wajah Baru Pembantu Jokowi” yang disiarkan CNN Indonesia, 24 Oktober 2019.

Contoh lain, Kata Rizal, Jokowi ingin ekonomi yang berpihak pada rakyat, yang pro nawacita dan trisakti, tapi kebijakannya makin lama makin neoliberal karena memilih menteri yang pada dasarnya SPG (Sales Promotion Girl) Bank Dunia.

“Mestinya Pak Jokowi belajar dari pengalaman dari lima tahun pertama, harus ada konsistensi antara visi, strategi dan personalia. Karena percuma visinya gede-gede kalau strategi dan personalianya tidak mumpuni,” ungkapnya lebih lanjut.

Rizal mengaku sempat merasa surprise dan kagum oleh pidato Jokowi saat pelantikan. Dalam pidatonya Jokowi menargetkan rakyat Indonesia punya gaji Rp27 juta/bulan pada 2045. Menurut Rizal cita-cita Jokowi tersebut bukan hal yang aneh dan tidak mustahil untuk diwujudkan karena ada  negara lain yang mampu mencapai hal itu.

“Tiongkok, misalnya, bisa tumbuh di atas 12 persen dalam waktu 25 tahun, jadi raksasa nomor 2 di dunia. Jepang juga sama, sehabis perang dunia kedua, di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ikeida, tumbuh di atas 12 persen, dan jadi raksasa dalam tempo 20 tahun,” ungkapnya.

Tapi begitu Jokowi memilih personalianya dalam bidang ekonomi, Rizal tak yakin cita-cita Jokowi tersebut bakal terwujud.

“Wah ini sih kelas 5 persen, bahkan mungkin tahun depan akan lebih anjlok lagi” katanya.

Rizal melihat hal tersebut sebagai inkonsistensi antara visi, strategi dan policy (kebijakan). Misalnya terkait utang, Rizal melihat kebijakan surat utang yang diterbitkan Menkeu dengan bunga tinggi, menunjukkan minimnya kreativitas dan terobosan dalam mengelola keuangan negara.

“Misalnya baru dilantik, menteri keuangannya sudah keluarin surat utang lagi, karena target penerimaan pajak untuk tahun ini baru terealisasi 63 persen. Sampai Desember, perkiraan kami baru bisa tercapai 82-85 persen, jadi masih kurang 15 persen. Kemudian dia terbitkan surat utang baru dengan bunga yang lebih tinggi. Terakhir kupon surat utang yang diterbitkan 8,3 persen, ini jangan-jangan supaya kelihatan over subscribe, biasa naik 9 bahkan 10 persen,  ” terangnya.

Banyak yang menduga Sri Mulyani, dipilih lagi menjadi menteri keuangan karena hubungannya dengan kreditor dan internasional bagus. Namun menurut Rizal, itu penilaian yang tidak canggih. Karena siapapun yang bisa memberi bunga utang tinggi pasti akan disukai kreditor, tapi rakyat yang kemudian akan terbebani dengan utang dan bunganya tersebut.

“Yang bayar kan rakyat. Bayarnya dalam bentuk apa? Bayarnya diuber pajaknya yang kecil-kecil, jual pempek diuber pajaknya, jual yang lain diuber. Kemudian yang kedua naikin segala macam, naikin harga listrik, naikin harga BBM. Kalau ilmunya Cuma bisa ngutang dengan bunga tinggi, ini kita menciptakan masalah downgrade. Makanya saya perkirakan, jika model pengelolaan ekonomi seperti ini diteruskan, tahun depan ekonomi hanya akan tumbuh 4-4,5 persen,” demikian Rizal Ramli.(mr/cnn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...