22 January 2019

Rizal Ramli: Pinjaman Besar dengan Yield Tinggi Bisa Jadi 'Bom Waktu' untuk Bangsa Ini

KONFRONTASI-Ekonom senior Rizal Ramli menyesalkan tindakan mengandalkan stabilitas dengan pinjaman semakin besar dan yield semakin tinggi berbahaya.

"Itu kok ada yg ngaku-ngaku prestasi hebat soal anggaran? Manipulatif banget sih? Wong penerimaan naik hanya karena asumsi harga minyak dibuat rendah ($48/brl) di APBN 2018, ternyata $68/brl. Wong tax ratio Indonesia rendah banget, dibawah Laos, Philipina, Malaysia. Gitu kok sesumbar," katanya.

Menurutnya, tax ratio terendah (9,5%) tahun 2018 dibandingkan 2015 (11,6%) atau ketika dirinya menjabat Menko tahun 2000-2001 (12,5%). Bahkan setelah ubah definisi (merah), tetap rendah. Itulah mengapa perlu tambah utang terus dgn yield tertinggi di kawasan (8,5%), Vietnam hanya 5%

Rizal menjelaskan, RI memiliki utang dengan yield tertinggi (8,5%) di kawasan, padahal Vietnam hanya 5%. 

"Bankir-bankir dan Boldholder asing senang,, ya dapat bonus Hadiah Menkeu terbaik deh Rakyat dan bangsa dirugikan trilliunan! Ini kejahatan kerah putih. Rupiah menguat dengan suntikan bunga pinjaman bunga tinggi," sesalnya

Mengandalkan stabilitas Rupiah dgn pinjaman yg semakin besar (surat utang tgl 3/1/2019 Rp 28,25T, dan Global Bond $3M Jan 2019) dengan yield yg semakin tinggi, menurut Rizal, baik dalam jangka pendek — tapi berbahaya untuk jangka menengah. 

"Bagaikan beri “bom” untuk pemerintah berikutnya. Begini kok dibilang pengelolaan “prudent” (hati2)? Dimana hati-hatinya? Kalo tax ratio tinggi15,6% sesuai Target Resmi Presiden Jokowi baru prudent," demikian Rizal

 

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...