18 October 2019

Rizal Ramli Jamin Selesaikan Masalah Garuda Hanya 1 Tahun

KONFRONTASI  -   Calon presiden (Capres) Rizal Ramli menyebut maskapai nasional Garuda Indonesia selama tiga 3 tahun berturut-turut mengalami kerugian hingga saat ini mencapai USD 256 juta. Sebelumnya tahun 2014, Garuda mengalami kerugian USD 399,3 juta dan tahun  2017 mengalami kerugian USD 213,4 juta. Ekonom yang akrab disapa RR ini pun memberikan jaminan akan membuat Garuda sehat kembali dalam tempo 1-1,5 tahun jika dipercaya menjadi presiden Indonesia.

"Kami akan rumuskan strategi perbaikan Garuda. Jika dilaksanakan sungguh-sungguh maka Garuda bisa untung kembali dalam waktu kurang dari dua tahun," tegasnya di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Ekonom yang akrab disapa RR menuturkan, agar Garuda bisa untung kembali dalam waktu 2 tahun maka sebagai prasyarat awal perlu dilakukan overhaul komisaris dan manajemen PT Garuda Indonesia Airways. Karena kasus BUMN Garuda ini sebenarnya relatif kecil dibanding dengan masalah yang dihadapi semua BUMN dan total persoalan perekonomian Indonesia.

"Kami ingin menunjukkan contoh analisa masalah dan solusi untuk kasus Garuda. Kami juga memiliki rancangan dan solusi ekonomi Indonesia keseluruhan untuk tumbuh 10 % tahun 2019-2024 sebagai calon presiden Republik Indonesia," paparnya.

RR mengungkapan, dua minggu sebelum diangkat menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya di Kabinet Presiden Jokowi, Agustus 2015, mengatakan, Garuda sudah merugi sebesar USD 399,3 juta (2014), dan akan terus merugi kalau tidak diambil langkah-langkah perombakan dan perbaikan. Di hadapan Jokowi, RR juga mengungkapkan memiliki pengalaman menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan pada saat menjadi Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur pada 2000-2001.

"Saat itu Garuda tidak mampu membayar kredit sebesar USD 1,8 miliar,  pembelian pesawat yang di-mark-up dan leasing yg di-mark-up lebih dari 50% pada saat rezim Orde Baru," ungkapnya.

Konsorsium kreditor yang dipimpin bankir Jerman, sambung RR, mengancam akan menyita semua pesawat Garuda yang terbang ke luar Indonesia. Namun kala itu RR mengancam balik akan mengajukan konsorsium kreditor tersebut ke pengadilan di Frankfurt, Jerman, karena menerima bunga odious interest (bunga najis) dari  pembiayaan mark up tersebut. 

"Jika terbukti di pengadilan, maka harga saham dari konsorsium bank tersebut akan turun, harus bayar denda, dan kemungkinan eksekutifnya kena pidana," paparnya. 

Lebih lanjut RR mengatakan, sejumlah ekskutif konsorsium bank tersebut lalu tergopoh-gopoh ke Jakarta dan menemuinya untuk meminta damai. Kala itu RR mengatakan hanya bisa damai jika dilakukan restrukturisasi kredit USD 1,8 miliar tersebut dengan “token guarantee” (garansi ecek-ecek), yaitu USD 100 juta (5, 5 % dari total loan), dan indirect melalui bank komersial, bukan dari Kementerian Keuangan supaya negara terhindar dari risiko default.  

"Konsorsium bank tersebut mula-mula ngotot minta full guarantee (USD 1,8 miliar), tapi akhirnya menyerah terhadap tuntutan," jelasnya.

RR juga menuturkan, pada bulan Juli 2015 tersebut Garuda punya masalah besar, karena pembelian pesawat ugal-ugalan dan  mark up (yang kemudian terbukti di KPK), jenis pesawat bombardier dan air bus A380. Oleh karena itu RR ingin kembali menyelamatkan Garuda, seperti pada tahun 2000-2001 saat menjadi Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur.  

Itulah yang menjelaskan, kenapa saat pelantikan Menko Maritim pada  12 Agustus 2015, RR  berpidato dengan mengatakan agar Garuda melakukan evaluasi terhadap pembelian Garuda untuk jenis pesawat jarak jauh, karena pasti akan merugi. Dada saat bersamaan Dr Rizal Ramli juga meminta PLN untuk melakukn evaluasi terhadap proyek 35.000 MW.

Menurutnya, kasus Garuda adalah contoh dari mismanajemen dan ketidakmampuan, ketidakprofesionalan Menteri BUMN, Rini Soemarno. Apalagi Presiden Jokowi tetap mempertahankan Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN. Padahal kinerja Rini yang jeblok merupakan bagian dari masalah, bukan solusi BUMN. Apalagi sejauh ini BUMN digunakan sebagai alat mobilisasi dana, politik, dan bancakan.

Perlu dicatat, RR juga pernah menyelamatkan PLN yang nyaris bangkrut pada tahun 2001. Yang saat itu asset PLN hanya Rp 50 triliun dan modal PLN minus Rp 9 triliun dengan cara revaluasi aset,  sehingga PLN jadi sehat kembali (asset naik menjadi Rp 202 triliun dan modal naik Rp 119,4 triliun). Oleh karena itu ia memiliki tanggung jawab moral dan intelektual sebagai Menko Maritim dan Sumber Daya yang membawahi Kementerian Perhubungan dan Kementerian ESDM. Agar kasus krisis PLN dan Garuda tahun 2000-2001 tidak terulang kembali.

Ia menilai, sebetulnya di setiap korporasi merugi adalah soal biasa. Bisa karena sebab-sebab eskternal dan internal. Namun yang paling penting adalah perusahaan harus memiliki strategi untuk membalikkan situasi atau turn around strategy. Adapun masalah utama Garuda di antaranya adalah pengangkatan direksi Garuda tidak berlandaskan kompetensi, jumlah direksi terlalu banyak (8 orang direksi hanya akomodasi politik).

Selain itu manajemen tidak berani mengambil keputusan untuk pembatalan dan rescheduling pembelian pesawat-pesawat yang tidak diperlukan. Flight dan rute manajemen payah. Yang dilakukan manajemen hanya pemotongan biaya via cross cutting, cross the board. Sangat berbahaya jika yang dipotong anggaran di sektor training. Padahal bisnis penerbangan intinya adalah safety-nya Juga seharusnya direktur operasi tidak dilebur menjadi jadi direktur produksi.

"Permainan atau patgulipat di Garuda terjadi juga dalam hal pembelian logisitik. Sistem pengadaan tidak kompetitif, sehingga harga yang dibeli konsumen kemahalan," ungkapnya.

Strategi marketing Garuda, sambung RR, juga amburadul. Yang seharusnya premium airline malah “dicampur” dengan strategi low cost carrier, seperti Citylink. Padahal Garuda disegani karena reputasi, safety yang tinggi, dan memiliki kualitas pelayanan terbaik di dunia, dengan cara memberikan terlalu banyak discount, bazar discount dan promo tiket, sehingga brand premium Garuda luntur.

"Kami ingin membantu Pemerintah Indonesia dan Presiden Jokowi untuk memberikan solusi, karena reputasi Presiden Jokowi akan merosot kalau Garuda tidak diselamatkan," paparnya.(KONF/HA-TER)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...