13 November 2019

Rizal Ramli Harapan bagi Terobosan Ekonomi 2018: Neoliberalisme Habisi Nawa Cita. Maukah Jokowi Berubah?

KONFRONTASI- Teknokrat senior Rizal Ramli PhD menilai, banyak pihak yang mencoba memecahkan masalah ekonomi-politik  Indonesia secara gradual dan incremental. Tetapi karrna banyak masalah sudah ribet & babalieut, cara gradual dan incremental  sering menimbulkan komplikasi & eskalasi masalah ekonomi-politik yang makin ruwet. Maka perlu terobosan & out of the box 

'' Tanpa terobosan yang out of the box, ekonomi Indonesia makin merosot dan tidak memberikan harapan bagi rakyatnya sendiri,'' kata  Rizal Ramli, mantan menko ekuin dan mantan menko kemaritiman.

Masyarakat sudah tidak heran kalau para analis  dan relawan Jokowi menilai, Tim Ekonomi Kabinet Kerja tidak kompeten dan tidak solid, ekonomi rakyat memburuk, daya beli rakyat terpuruk dan  pertumbuhan stagnan. Jika Darmin-Sri Mulyani- Rini Soemarno (Rinso) tidak diganti, maka ekonomi makin buruk lagi. 

''Oleh sebab itu Jokowi sebaiknya rekrut kembali  Rizal Ramli masuk kabinet sebagai menko ekuin, kata para analis. Kalau tidak Rizal, maka Neoliberalisme Darmin-Sri Mul -Rinso bakal menghabisi legitimasi Jokowi dengan gagalnya ekonomi dewasa ini,'' kata  Reinhard MSc, aktivis LSM dan para relawan Jokowi.

Pandangan senada juga disampaiikan oleh Nehemia Lawalata, analis ekonomi-politik dari aktivis senior GMNI yang berpendapat bahwa memasuki 2018 ini, rakyat tak punya harapan bagi kehidupan yang lebih baik karena Neoliberalisme ekonomi ala Sri Mulyani-Darmin dan Rini soemarno sudah gagal dan tak ada gunanya dipertahankan di kabinet. ''Nawa Cita dirusak Neolib, maka Presiden harus berubah, dengan cara merombak kabinet dan menarik RR ke kabinet atau pimpin Bank Indonesia. Yang mendesak adalah rombak tim ekonomi kabinet karena sudah gagal ,'' katanya.

Sementara itu, Institute Development of Economics and Finance (Indef) menilai bahwa saat ini kondisi ekonomi di Tanah Air masih stagnan alias tak bergerak. Padahal, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) hampir memasuki usia tiga tahun.

 

Peneliti Senior Indef Didik J Rachbini menyebutkan, hal ini tercermin dari nilai ekspor Indonesia yang justru merosot tajam. Pada 2013, realisasi ekspor Indonesia mampu tembus USD200 miliar, namun saat ini justru tidak mencapai USD100 miliar.

"Padahal, ekspor ini tanda dinamika kebijakan, kredit bank, employement, dan pemerintah hidup. Tapi sekarang, hampir nyaris USD100 miliar. Jadi separuh tergerus. Ini gawat. Satu angka saja mencerminkan hampir keseluruhan dinamika ekonomi di Indonesia," katanya .

Selain itu, konsumsi dan daya beli masyarakat yang sebelumnya menjadi andalan pemerintah justru anjlok. Bahkan, sejumlah peritel melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya karena sektor ritel yang tengah lesu saat ini.

"Seluruh supermarket konsumsi yang dulu diandalkan sekarang anjlok semua. Hypermart layoff karyawan. Tandanya, daya beli melemah," imbuh dia.

Politisi PAN ini menambahkan, tingkat kesenjangan di Tanah Air juga masih tinggi. Menurutnya, Indonesia masuk tiga besar negara yang tingkat ketimpangan dan kesenjangannya paling tinggi.

"Indeks gini rasio, walaupun ini pengeluaran dan tidak mencerminkan aset itu tetap naik. Indonesia termasuk tiga negara besar yang paling senjang di dunia. 1% dari pemilik account di bank, menguasai 80% dari total uang. Itu kesenjangan luar biasa," tutur Didik.(KF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...