17 August 2018

Rizal Ramli, Gubernur BI dan Stagnasi Ekonomi di 5%: Kegagalan Kebijakan Pengetatan

KONFRONTASI- Sungguh, mimpi buruk Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sudah  terjadi ketika kemarin memproyeksikan Indonesia bakal sulit naik level dari negara berpendapatan menengah (middle income) ke berpendapatan tinggi (higher income) atau negara maju pada 2030. Sebab, pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai.

"Ini terus terang mungkin mission impossible kalau kita asumsikan dan kemudian lakukan proyeksi di BI. Kita bicara proyeksi long term pakai pendekatan supply side,” kata dia dalam Diskusi Publik Indonesia 2030: Peluang dan Tantangan Ekonomi di Gedung Pakarti, Jakarta, Rabu (6/6). Indonesia bisa saja naik level lebih cepat yaitu di tahun 2040 jika pertumbuhan ekonomi bisa digenjot lebih tinggi yaitu mencapai 6,4%. Namun, untuk mencapai ini, Indonesia harus kerja sangat keras. Menurut Gubernur BI, perlu kerja yang lebih keras untuk naik level. Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata bisa mencapai 5,6%, Indonesia diprediksi bisa naik level pada 2045 dengan pendapatan per kapita di atas 10 ribu. Per 2017 lalu, pendapatan per kapita Indonesia baru mencapai US$ 3.876.

perry warjiyo

Masyarakat belum lupa bahwa teknokrat senior Rizal Ramli PhD pernah mengingatkan Gubernur BI Perry Warjiyo dan pemerintahan Jokowi dan dunia usaha bahwa  Indonesia harus bangkit dan harus tumbuh 9%-10%  kalau kita ingin  sejahtera, adil, maju dan jadi besar seperti Jepang dan China RRC.

Dalam kaitan ini, Rizal Ramli mengatakan, kalau pertumbuhan hanya sekitar 5%, stagnan begini terus, maka sampai 2030 Indonesia hanya jadi negara tertinggal di Asia, dan banyak rakyatnya tetap miskin. Bahkan Indonesia makin tertinggal dari Vietnam kalau stagnasi ekonomi di 5% terus berlanjut. Harus ada reformasi, gebrakan Rajawali untuk mewujudkan kebangkitan Indonesia.

Tokoh nasional Rizal Ramli [RR]  menyadari dan mengingatkan bahwa tugas pemerintah Jokowi adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan dan yang lebih penting adalah tingkat kesejahteraan rakyat, bukan semata produk domestik bruto [ GDP] 1 trilyun dolar AS.

‘’Hari ini kita boleh bangga bahwa GDP Indonesia 1 trilyun dolar AS, tapi GNP kita lebih rendah karena banyak kontribusi orang asing di dalamnya. Tapi kalau GDP kita dibagi 260 juta penduduk Indonesia maka GNP kita hanya 3600 dolar AS. Kita itu terendah dibandingkan Malaysia 10 ribu dolar AS [nyaris tiga kalinya], Thailand 6000 dolar AS nyaris dua kalinya, Singapura 53ribu dolarAS- nyaris 15 kali kita. Jadi, selain besarnya GDP penting, yang jauh lebih penting adalah tingkat pendapatan dan kesejahteraan rakyat. Jangan dilupakan hal ini,’’ujar RR. 

‘’Nah tahun 2030 ada beberapa cara dalam melihat  proyeksi ini, dan ada yang menggunakan purchasing parity power, bukan makai nominal dolar. Hitungan begini tak semua setuju, karena dalam membeli satu burger di Indonesia dengan dolar, maka akan berbeda dengan dolar AS di negara lain, termasuk dampaknya dan sebagainya. Saya mohon maaf bahwa  debat soal purchasing power parity itu banyaklah dan terus berlangsung,'' kata RR, mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman dalam dialog di TV One Selasa malam [3/4/18]

Hasil gambar untuk jokowi dan sri  ula dan darmin

Menurut RR, dua-tiga tahun terakhir pertumbuhan ekonomi  stagnan, mandeg pada angka 5%, dan itu nggak usah dibantah-bantah karena Pak Jokowi mengakui  kok pertumbuhan ekonomi kita rendah. Maka pertanyaannya pak Jokowi: ‘’Bisa nggak kita mencapai hal pertumbuhan 7% atau lebih?’’ Pak Jokowi mengeluh mengapa pertumbuhan ekonomi kita rendah, gimana caranya agar bisa 7%, atau lebih. Bagaimana caranya? Hemat saya, harus tinggalkan model kebijakan makro ekonomi yang super konservatif ala World Bank   yaitu pengetatan, austerity karena ini gagal di seluruh dunia

Tantangan yang dihadapi Indonesia terletak pada persoalan mengatasi kesulitan ekonomi. Sosok presiden yang dibutuhan adalah yang memahami ekonomi dan di saat bersamaan memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat.

"Kalau mau pertumbuhan ekonomi 10 persen, pilih Rizal Ramli jadi presiden," kata budayawan Jaya Suprana saat menyampaikan orasi di acara peluncuran buku "Nalar Politik Rente" karya Dahnil Anzar Simanjuntak di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Rabu (28/2).

Sejauh ini, tim ekonomi pemerintahan Jokowi gagalmemenuhi target pertumbuhan yang dicanangkan sebesar 7 persen. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi mentok di kisaran 5 persen.

Soal kemampuan Rizal Ramli tak perlu diragukan. Dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rizal dipercaya menduduki kursi Menko Ekuin. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan dari minus 3 persen tumbuh menjadi hampir 6,5 persen.

Utang negara dan indeks kesenjangan ekonomi pun berkurang. Pemerintah juga mampu tidak melakukan impor beras dengan tetap menjaga stabilitas pasokan dan harga.

PENJELASAN GUBERNUR BI

Perry menjelaskan, kontribusi sumber daya manusia (human capital) terhadap perekonomian perlu ditingkatkan, begitu juga dengan rasio investasi riil. "Itu indikator untuk menaikkan jadi higher income," ujarnya. Adapun peluang yang dapat dilakukan hingga 2030 adalah mengandalkan pola hidup dengan tingkat saving (tabungan) lebih rendah, konsumsi tinggi, dan permintaan (demand) yang besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tenaga kerja terdidik perlu ditingkatkan di tengah bonus demografi.

IMF menyebut banyaknya tenaga kerja, digitalisasi hingga peningkatan ekspor berpotensi mengubah masa depan ekonomi Indonesia. 

Peluang berikutnya adalah pengembangan ekonomi digital. "Penggunaan internet di Indonesia begitu cepat, apalagi kalangan anak muda," kata dia.

Sementara itu, tantangan terhadap perekonomian ke depan terutama berasal dari dinamika ekonomi global. Menurut dia, Indonesia harus bisa mengontrol tantangan tersebut. Untuk itu, pemerintah perlu fokus mendorong ekspor khususnya nonmigas dan fokus pada sektor perdagangan, insentif, dan regulasi pasar.

Di sisi lain, Kepala Divisi Indonesia dan Filipina, Departemen Asia dan Pasifik International Monetary Fund (IMF) Luis Breuer mengatakan ada tiga hal yang dapat mengubah ekonomi Indonesia di masa depan.

Pertama, pertumbuhan cepat penduduk yang menyebabkan banyaknya tenaga kerja. “Total populasi diprediksikan mencapai 296 juta pada 2030 yang didukung oleh peningkatan harapan hidup," kata dia. Keuntungan demografi ini diperkirakan akan meningkatkan Produk Domestik Bruto riil hingga mendekati 1% setiap tahun selama 2020-2050.

Ekonomi digital juga diyakini bakal mendukung ekonomi tumbuh lebih tinggi. Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Hal itu lantaran Indonesia memiliki penduduk usia muda yang terbesar di dunia dan 130 juta pengguna aktif media sosial.

Mengutip McKinsey and Company (2016), Breuer mengatakan digitalisasi bisa mendongkrak ekonomi Indonesia mencapai 10% pada 2025. Selain itu, digitalisasi disebut berpotensi menambah 3,7 juta pekerjaan di dalam negeri. (Baca juga: Merugi tapi Valuasinya Naik, Fenomena Bisnis Digital Indonesia)

Sementara itu, peran Asia dalam ekonomi global diperkirakan akan meningkat, terutama Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok turut memberikan dampak baik pada Indonesia. Adapun Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia pada 2016. Produk yang diekspor didominasi komoditas sumber daya alam (SDA).

Permintaan produk Indonesia dari negara lain juga diprediksi akan meningkat, mulai dari sektor agrikultur hingga energi, komoditas, dan produk manufaktur. Sektor pariwisata juga diyakini bakal semakin berkembang.

 Sejauh ini, Bank Dunia Revisi  adanya penurunan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,2% (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...