21 October 2019

Rizal Ramli di Korea Miris Lihat Pertumbuhan Ekonomi RI Terus Tergerus

KONFRONTASI- Tokoh nasional/Ekonom senior Indonesia, Rizal Ramli mengungkapkan kekecewaannya terkait kondisi ekonomi Indonesia. Hal ini ia sampaikan melalui akun Twitternya @RamliRizal, saat ia melakukan pertemuan di Pangyo Techno Valley, Silicon Valey-nya Korea Selatan.

Rizal mengaku, bahwa Korea semakin hari semakin menunjukkan perkembangan, vbaik teknologi maupun ekonomi. “Gak kebayang, padahal mereka (Korea) dulu sekitar tahun 1960 lebih miskin dari Indonesia,” ujarnya, melalui akun Twitternya @RamliRizal dari lawatannya ke Korsel atas undangan Seoul.

Bahkan menurutnya, Koreajuga tak memiliki sumber daya alam seperti yang dimiliki oleh Indonesia. “Jadi… saat ini (GDP) Gross domestic products atau (total nilai produksi barang dan jasa di dalam suatu negara -red) per kapita Korea $31. 363, nyaris 8 (delapan) kali dari RI ($3,932) Mengapa ? Orang Korea memang ulet, sangat kompetitif, tetapi itu saja tidak cukup,” ungkapnya.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB New York ini juga menyebut bahwa tim ekonomi pemerintah saat ini sangat senang melakukan kerjasama dengan pihak asing dengan konsep yang banyak merugikan negara. “Sederhana, sampai saat ini yang saya lihat masih doyan banget dikasih pinjaman dengan bunga tinggi, dipuji-puji kreditor senang, kan lucu!,” tembah Rizal, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Diketahui, Rizal Ramli tak hanya menyinggung Korea yang saat ini menurutnya telah memiiki perkembangan signifikan. Ia juga sempat menyebut negara China juga memiliki perkembangan yang cukup pesat.

Padahal menurutnya, pertumbuhan ekonomi negara tirai bambu tersebut sebelumnya berada di bawah Indonesia. “China itu reformasi ekonominya ada di tahun 1980-an, saya waktu itu ke Beijing, Shangai dimana saya lihat di jalan raya orang masih gunakan sepeda, hotelnya butut-butut. Tapi apa yang terjadi sekarang, apa yang terjadi sekarang, kota kota mereka hotelnya bagus-bagus, di jalan raya mobil mewah, penghasilan pekerjanya di atas penghasilan kita.

Indonesia harus belajar dari negara-negara maju yang saat ini ada. Tetapi kini sudah nomor dua di dunia. Karena pemimpin mereka tidak mau didikte oleh kepentingan asing, seperti, IMF dan Bank Dunia,” tutupnya. (Fel)

 

 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...