Rizal Ramli di Amsterdam: Para Pembuat Utang Kronis Era Jokowi Tak Mungkin Jadi Solusi

KONFRONTASI- Tantangan baru memerlukan jawaban inovatif. Para pembuat utang kronis dengan bunga super tinggi, tidak mungkin jadi bagian dari solusi di era pemerintahan Jokowi..Demikian pandangan tokoh nasional/ekonom senior Rizal Ramli (RR)  menjawab pertanyaan  partisipan mengenai ekonomi Indonesia era Presiden Jokowi dalam konferensi "Asia Century and Indonesian Maritime Strategy" di  Amsterdam, Belanda,  Rabu (25 Oktober 2017).

‘’Menteri yang hanya sibuk jadi Chaperone, Lady-in-Waiting, manajer kampanye terselubung, ditolak DPR dua tahun (World Record), membuat banyak BUMN merugi. Lha kok terus dipertahankan?’’ kata Rizal Ramli

Rizal Ramli PhD merupakan Keluarga Besar Pondok Gontor yang kini di bawah kepemimpinan Gontor Pusat KH. Hasan Abdullah Sahal . Semasa mahasiswa, Rizal Ramli  sempat ''nyanteri'' sebentar  tahun 1976 di pesantren Pondok Gontor.  Rizal  Ramli meraih pendidikan tinggi di ITB, Sophia University Tokyo dan Boston University, AS.

Para analis dan publik serta media  menilai Menkeu Sri Mulyani, Meneg bUMN Rini Soemarno  dan Menko Darmin Nasution adalah para pembuat utang kronis/utang najis yang membebani rakyat dan pemerintah.

Tidak mudah untuk Presiden Joko Widodo mengimplementasikan Nawa Cita. Stagnasi  ekonomi akan berlanjut dan ada kecenderungan kuat, konservatisme ekonomi dipertahankan Tim Ekonomi Kabinet.Hasil gambar untuk rizal ramli di belanda

RR menilai, walaupun  Presiden Joko Widodo (Jokowi) banyak menghadapi tekanan balik (blowback), tapi konsolidasi  politik nyaris selesai.

 “Tidak mudah untuk Presiden Jokowi. Walaupun banyak blowback (tekanan balik), tapi konsolidasi politik nyaris selesai. Namun stagnasi ekonomi akan berlanjut. Apakah konservatisme akan dipertahankan, hanya untuk sekedar melindungi status quo penuh vested-interest dan pembawa agenda asing ?” kata RR.

“Banyak yang bertanya kapan kelesuan ini berakhir ? Prestasi Presiden Jokowi dalam bidang inftastruktur luar biasa. Tapi dengan kebijakan pengetatan (austerity), dan makro ekonomi yg sangat konservatif, serta prioritas nomor 1 (Satu) bayar utang, akan sulit bangkit dalam 2 tahun ini,” imbuh RR.

 Pilihannya,kata RR, adalah  maukah Jokowi membalikkan keadaaan?

 “ Akankah Presiden membalikkan keadaan, kembali meluruskan dan menegakkan Trisakti dan Nawacita ? Itu bukan pilihan mudah,” imbuhnya.

RR mengingatkan bahwa Abad ke-21 akan menjadi Abad Asia. Pertanyaan kuncinya, apakah akan terjadi kebangkitan Asia yang demokratis, atau Asia yang  tersentralisasi, atau keduanya dalam koeksistensi damai?

‘’Apa pun yang terjadi, saya berharap bahwa abad ke-21 akan menjadi Asia yang damai dan sejahtera,’’ tegasnya . (kf)
 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...