Rizal Ramli dan Prospek Industri Kapal PT PAL

KONFRONTASI-Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli bersama Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pertahanan Filipina Voltare Gazmin hari Senin (18/1) meluncurkan dua kapal perang buatan PT. PAL di Surabaya. Kedua kapal itu adalah kapal “Perusak Kawal Rudal” PKR pesanan Kementerian Pertahanan Indonesia dan kapal “Strategic Sealift Vessel” SSV pesanan Kementerian Pertahanan Filipina.

Dalam pernyataan tertulis yang diterima VOA, Rizal Ramli mengatakan peluncuran ini merupakan momentum kebangkitan industri maritim Indonesia. “Orang Indonesia skill-nya sangat bagus sekali, juga kemampuan membangun, kemampuan dalam technical skill. Tapi kita perlu kerjasama teknologi dan manajemen,” ujar Rizal Ramli.

Kapal “Perusak Kawal Rudal” PKR adalah kapal perang canggih jenis “frigate” yang dibuat PT. PAL Indonesia bekerjasama dengan DSNS Belanda, melalui alih teknologi. Kapal PKR memiliki panjang 105,11 meter dengan lebar 14,2 meter. Kapal ini bisa berlayar dengan kecepatan 28 knot, dan bahkan bisa hingga 5.000 nm pada 14 knot dengan ketahanan berlayar hingga 20 hari. 

Pembangunan kapal perang PKR menggunakan pendekatan modular, dimana enam modul dibangun di galangan PT. PAL Indonesia dan dua modul lainnya dibangun di galangan Damen, Vlissingen-Belanda, yg kemudian diintegrasikan di PT. PAL Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar, lebih hemat biaya dan memungkinkan untuk membangun kapal di berbagai lokasi di seluruh dunia.

 
Menko Maritim: Indonesia Akan Menjadi Pusat Industri Kapal Dunia

Sementara kapal SSV adalah hasil karya mandiri PT. PAL Indonesia yang nantinya akan menjadi kapal perang pertama yang diekspor Indonesia. Kapal ini merupakan pengembangan teknologi dari kapal pengangkut jenis “Landing Platform Dock” LPD yang dirancang dengan panjang 123 meter dan lebar 21,8 meter. Kapal SSV memiliki kecepatan maksimal 16 knot dan ketahanan berlayar 30 hari. Khusus untuk pembuatan kapal SSV, PT. PAL Indonesia bekerjasama dengan galangan kapal DSME Korea, yang sebelumnya telah memenangkan tender pembuatan SSV. Dengan keberhasilan peluncuran kedua kapal ini, PT. PAL Indonesia semakin membuktikan kemampuannya merancang dan memproduksi kapal perang yang berkualitas.

Menko Maritim Rizal Ramli optimis Indonesia akan menjadi pusat industri kapal dunia dalam beberapa tahun ke depan. Optimisme Menko Rizal tersebut disampaikan usai peluncuran kapal perang jenis SSV pesanan militer Filipina dan kapal perang ‘perusak’ jenis Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI AL, di PT. PAL Surabaya.

Menko Maritim dan SDM Rizal Ramli (tiga dari kanan) bersama Menhan RI Ryamizard Ryacudu (dua dari kanan) dan Menhan Filipina Voltare Gazmin (tiga dari kiri) menekan tombol peluncuran dua kapal perang.  (Courtesy : Menko Maritim & SDM/Efrimal Bahri) 

Indonesia, menurut Rizal, memiliki keunggulan, terutama dari sisi biaya tenaga kerja dan produksi bahan baku baja, sehingga dapat membuat kapal perang buatan Indonesia lebih kompetitif. Selain dukungan SDM dan industri baja yang kuat, Indonesia perlu menggandeng eropa yang memiliki teknologi perkapalan. Salah satunya melalui ToT (Transfer of Technology) seperti yang dilakukan PT. PAL.

“Dulu, raja industri kapal adalah Jepang. Karena mahal, bergeser ke Korea dan China. Korea pun menjadi mahal, kini mulai berpindah ke Indonesia dan Vietnam. Syaratnya, ada dukungan industri baja yang kuat. Saya minta KS (Krakatau Steel) untuk memproduksi marine plate (baja khusus untuk industri kapal),” jelas Menko Rizal kepada Jurnal Maritim.

Seperti diketahui, PKR merupakan kapal perang canggih kelas frigate yang dibangun PT PAL Indonesia bekerja sama dengan DSNS, Belanda, melalui transfer teknologi. Sementara SSV adalah hasil pengembangan dari kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), yang merupakan kesuksesan kerjasama transfer teknologi dengan galangan kapal DSME, Korea Selatan. SSV memiliki panjang 123 meter, lebar 21,8 meter, kecepatan maksimal 16 knot, dan memilii ketahanan berlayar hingga 30 hari. 

Menurut Rizal Ramli, eskpor kapal ke Filipina menjadi momentum bagi industri galangan kapal Indonesia, khususnya PT. PAL, untuk membuktikan kemampuannya sekaligus memperlebar sayapnya di dunia internasional. 

“Jika sudah dipercaya membangun kapal perang, maka sangat mudah meraih kepercayaan membangun kapal niaga karena kapal perang memiliki spesifikasi yang lebih tinggi dan proses pembangunan yang lebih rumit.” pungkas Menko Rizal.(k)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...