20 July 2019

Refleksi Rizal Ramli Tentang kelemahan struktural dalam Makro Ekonomi Indonesia

KONFRONTASI- Menurut  teknokrat senior Rizal Ramli yang juga mantan Menko Perekonomian pemerintahan Abdurrahman Wahid, ada tantangan besar di hadapan pemerintah Jokowi-JK.

 Pertama, berbagai defisit yang terjadi dalam neraca perdagangan (selama 3 bulan berturut-turut, Januari 2018 sebesar USD -0,68 miliar), defisit transaksi berjalan (-USD 5,8 miliar), service payment defisit APBN (pembayaran cicilan pokok dan bunga utang yang tahun ini mencapai Rp800an triliun yang porsinya hampir 2x lipat anggaran infrastruktur atau pendidikan),dan defisit neraca keseimbangan primer (-Rp68,2triliun, 2017).

Tantangan kedua tentang utang, kurang lebih 50% dimiliki asing dan sebagian besar tenornya berjangka pendek. Kondisi ini menyebabkan kerentanan (vulneranilibity) dalam pasar uang. Karena itu secara bertahap, BI dan pemerintah harus kreatif melakukan restrukturisasi utang, renegosiasi ke negara-negara kreditor untuk mengubah tenor utang dari jangka pendek ke jangka panjang.

“Bila berhasil, ini akan meningkatkan kestabilan keuangan dan juga dapat menurunkan tingkat bunga domestik,” ujar Rizal Ramli.

Tantangan ketiga, kata mantan Menko Menko Maritim Kabinet Kerja ini, ketimpangan kredit yang berbentuk seperti gelas anggur (bisnis besar dan BUMN di cawan gelas, bisnis menengah di leher gelas, mayoritas rakyat dasar gelas). Sebanyak 83% kredit hanya mengalir ke bisnis besar, sisanya 17% ke bisnis menengah dan rakyat.

Menurutnya, BI bersama OJK harus dapat mengubah dalam 3 tahun ini struktur kredit menjadi 70% ke bisnis besar dan 30% untuk bisnis menengah dan kecil. Dengan ini pendalaman pasar uang malah akan dapat terjadi karena bisnis besar dapat menggali permodalan dari menjual saham dan menerbitkan surat utang.

Komisi XI DPR RI didesak Rizal Ramli agar tidak hanya memberikan rekomendasi yang normatif bagi Gubernur dan Deputi BI terpilih nanti. DPR harus memberikan target yang tinggi dan jelas, misalnya, menugaskan BI dalam penanggulangan berbagai defisit, dalam restrukturisasi tenor utang, dan mengubah struktur kredit yang timpang.Dan yang paling penting, BI harus berani memberikan data yang benar kepada publik. ‘’Katakan kebenaran meskipun kadang itu menyakitkan,” paparnya.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...