22 July 2018

Prospek Ekonomi dan Politik 2018: Rizal Ramli Tegaskan Ekonomi masih Bisa Dipacu

JAKARTA- Ekonomi kreatif yang dikembangkan kalangan anak muda generasi milenial kini menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi. Namun ekonomi kreatif  masih relatif tumbuh  di kawasan urban, sementara sektor rill  yang justru harus dipacu untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitan ini,Teknokrat senior Rizal Ramli, yang juga Mantan Menko  Kemaritiman dan Menko Perekonomian, mengatakan, pertumbuhan ekonomi  masih bisa dipacu lebih tinggi, bahkan bisa mencapai  sekitar 7 persen jika pemerintah melakukan terobosan, yang disebutnya sebagai “growth story”.

“Pertumbuhan ekonomi  tahun ini bisa lebih tinggi lagi. Caranya harus bikin growth story yaitu cara inovatif. Jadi jangan melakukan pengetatan keuangan, tetapi malah harus diperlonggar,” tuturnya  kepada pers disela-sela acara Diskusi Publik "Prospek Ekonomi dan Politik 2018"..Selain  Muhammad Syaeful Mujab-Ketua BEM UI, pembicara lainnya adalah Hasan Nasbi Batupahat (CEO konsultan politik Cyrus Network), Christianto Wibisono (alumni UI 78), DR Rizal Ramli sebagai guest speaker, ekonom senior dan tokoh nasional.

Growth story yang dimaksud Rizal Ramli itu terbukti ampuh. Pendiri Econit Advisory ini misalnya berhasil menyelamatkan PLN dari ancaman kebangkrutan tanpa melakukan utang.

Ada sejumlah terobosan yang ditawarkan Rizal Ramli untuk memacu pertumbuhan ekonomi 2018.

 

Pertama, memperlonggar anggaran atau belanja pemerintah. Menurut Rizal, di tengah perlambatan ekonomi, pengetatan anggaran merupakan kebijakan yang tidak tepat. Pengetatan belanja akan membuat ekonomi stagnan. Apalagi, kebijakan tersebut terbukti gagal di sejumlah negara seperti Yunani.

Kedua, memompa fiskal dengan menggunakan dana non-APBN. Rizal Ramli mengatakan, mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo dalam memacu pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dengan menggunakan dana APBN. Namun, infratruktur di Pulau Jawa harus menggunakan dana di luar APBN. Kebutuhan dana tersebut, katanya, bisa diambil melalui kebijakan revaluasi aset BUMN. Dalam hitungannya, revaluasi bisa meningkatkan aset BUMN menjadi 2500 triliun, sehingga bisa mendapatkan dana pinjaman sebesar US$100 milar.

Ketiga, memompa bisnis ritel dengan cara meningkatkan kredit. Rizal Ramli  menargetkan pertumbuhan kredit harus mencapai 15-17 persen sehingga bisa menggerakkan roda perekonmian rakyat.

Untuk meningkatkan pertumbuhan kredit, Rizal Ramli mengambil kisah sukses yang dilakukan PT Permodalan Nasional Madani (PNM Persero) yaitu melalui Mekaar. Program ini berhasil menggaet 2 juta nasabah dengan pinjaman modal antara Rp2-3 juta. Karena itu, dia berharap agar pemerintah menambah modal usaha kelompok tersebut dari Rp1,3 triliun menjadi Rp5 triliun. “Dengan modal sebesar itu, para ibu yang bisa terjangkau bisa mencapai 60 juta orang,” ujarnya.

https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 10 20 1843063 rizal-ramli-ubah-strategi-pertumbuhan-ekonomi-bisa-capai-7-o5sklXNB8l.jpg

Selama ini, kata Rizal Ramli, mayoritas kredit menjangkau golongan perusahaan besar yaitu mencapai 73 persen. Sebesar 17 persen menjangkau perusahaan skala menengah dan skala kecil, dan sisanya baru golongan kelas menengah ke bawah. “Kenapa pola ini tidak digeser (lebih banyak untuk golongan kelas menengah ke bawah),” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, ekonomi Indonesia harus menggunakan pendekatan struktural, yaitu melihat struktur di tengah masyarakat baru mengelurkan kebijakan.

Keempat, mengganti impor dengan sistem tarif, dan bukan sistem kuota. Hal itu, katanya, bisa mengurangi kartel yang menyebabkan tingginya harga barang impor. 

Mantan Menkeu dan mantan Kepala Bulog ini mengatakan, saat ini tidak bisa lagi menggunakan pendekatan biasa-biasa saja, tetapi harus menggunakan terobosan. Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang berani melakukan terobosan dalam mengambil kebijakan.

Keberanian melakukan terobosan itulah yang menyebabkan sejumlah negara tetangga mencapai pendapatan yang jauh lebih tinggi dari Indonesia. Pendapatan Korea misalnya mencapai 10 kali lipat, Taiwan 7 kali lipat, bahkan Malaysia yang mencapai 4 kali lipat. Padahal, puluhan tahun lalu pendapatan negara itu sama dengan Indonesia. “Jadi, Indonesia tertinggal bukan hanya karena korupsi, tetapi juga karena kita tidak berani mengambil risiko,” katanya.

Rizal mencontohkan Jepang, sehabis Perang Dunia Kedua, bisa mencapai pertumbuhan sebesar 13 persen selama 20 tahun. Hal itu karena negara tersebut tidak menggunakan model pembangunan Bank Dunia.

Salah satu sektor yang harus menjadi perhatian ke depan, kata Rizal, yaitu pariwisata. Pasalnya, penerimaan pariwisata menunjukkan peningkatan signifikan dan mampu mengalahkan migas. Bukan tidak mungkin, pariwisata akan mengalahkan komoditas sawit yang saat ini masih berada di posisi pamungkas.

“Pariwisata ini job creator, pencipta lapangan kerja. Jadi kita baru bisa memacu pertumbuhan ekonomi dengan growth story, dengan growth strategy,” tegasnya.

Ekonomi Kreatif

"Tercatat sekitar 5 juta tenaga kerja bisa diserap dari sektor industri digital dalam kurun waktu terakhir. Dan, itu sangat berkontribusi pada pemerintahan Pak Jokowi," ungkap Muhammad Syaeful Mujab, Ketua BEM UI di acara Diskusi Publik "Prospek Ekonomi dan Politik 2018".

Acara yang diadakan Alumni FISIP UI dan Indonews.Id tersebut dilangsungkan di Balai Sarwono, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2018).

Menurut Mujab, pertumbuhan ekonomi  kreatif ini bisa ditunjukkan dengan perkembangan ojek online seperti Gojek, Grab Bike hingga Uber yang bisa menyerap tenaga kerja langsung ke masyarakat.

 

"Sekarang ini, semua orang bisa menjadi tukang ojek online. Bahkan mahasiswa yang belum punya ijazah pun bisa bekerja sebagai gojek," jelas Ketua BEM UI itu.

 

Dan lapangan kerja lainnya saat ini semakin banyak dan menjadi trend positif dari start up berbasis digital.

Acara diselenggarakan oleh  semua alumni FISIP UI.

Sedang Budiarto Shambazy yang juga alumni FISIP UI bertindak sebagai moderator. (budi s)

Category: 
Loading...