Presiden Baru Filipina Dikritik Gara-gara Bersiul pada Wartawan Wanita

KONFRONTASI - Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte kembali menuai kritikan. Gara-garanya, dia bersiul pada seorang jurnalis wanita saat konferensi pers, yang disiarkan televisi nasional. Duterte dianggap melakukan pelecehan seksual dan tidak menghargai wanita.

Seperti dilansir AFP, Kamis (2/6/2016), Duterte menginterupsi pertanyaan yang diajukan seorang wartawan televisi bernama Mariz Umali, dalam konferensi pers pada Selasa (31/5) malam. Saat itu, Umali tengah bertanya soal anggota kabinet baru Duterte.

Namun Duterte malah mengomentari upaya Umali untuk menarik perhatiannya dan kemudian bersiul serta melontarkan lagu rayuan singkat. Umali melanjutkan pertanyaannya ketika Duterte tersenyum dan wartawan lainnya tertawa.

Dalam wawancara dengan jaringan televisi GMA, tempatnya bekerja pada Kamis (2/6) ini, Umali menyebut komentar Duterte itu sangat tidak pantas. Sementara Umali menyatakan dirinya tidak akan menuntut permohonan maaf dari Duterte dan tidak ingin memperpanjang masalah ini, suaminya yang juga seorang jurnalis, mengkritik Duterte.

"Bersiul pada istri saya (sebagai bentuk ejekan) jelas sebuah kesalahan dalam semua level. Memang ada lelucon yang lucu dan pantas disambut tawa, tapi melecehkan wanita jelas tidak termasuk," sebut suami Umali, Raddy Tima melalui akun Facebook-nya.

Dalam konferensi pers yang sama, Duterte memicu kontroversi lain dengan menyebut para wartawan yang korup, sah untuk menjadi target pembunuhan.

Mariz Umali dan suaminya
Pernyataan itu memicu protes keras dari organisasi media di Filipina.

Menanggapi kelancangan Duterte terhadap wartawan wanita itu, organisasi pejuang hak wanita menyebut siulan Duterte itu jelas sebagai bentuk pelecehan seksual. "Bersiul seperti itu jelas memperlakukan wanita sebagai objek seks... beberapa orang mengatakan itu lucu, tapi itu salah," tegas Presiden Organisasi HAM lokal WeDpro, Aida Santos, kepada AFP.

"Kata-kata dan tindakannya menguatkan pandangannya terhadap wanita sebagai warga negara kelas dua," sebut Ketua Nasional Asosiasi Wanita Demokrat Sosialis Filipina, Elizabeth Angsioco, kepada AFP.(Juft/Detik)
 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...