7 December 2019

Pernyataan Rizal Ramli Dibenarkan, Beras Impor Membusuk Enggar Bertanggungjawab

KONFRONTASI -   Sebanyak 20 ribu ton beras impor akan dibuang Bulog karena busuk. Sejumlah kalangan menyesalkan hal ini dan Enggartiasto Lukita disebut-sebut jadi biang keladi banyaknya beras impor saat dia menjabat Menteri Perdagangan. Tagar #TangkapEnggar pun trending di Twitter.

Warganet mengkritik keras banyaknya beras impor yang harus dibuang karena membusuk. Ada akun yang menilai, tuduhan ekonom Rizal Ramli ke Enggar terkait impor beras ugal-ugalan yang hanya mengejar komisi seakan ada benarnya.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri era Presiden Gus Dur itu pernah menyebutkan tingginya volume beras lantaran kebijakan impor yang dilakukan Enggar.

Dalam akun disebutkan, harusnya @bpkri segera audit impor beras di Kemendag ini. Jangan-jangan benar tuduhan bang @RamliRizal dulu, impor ini mengejar fee. Bukan karena kebutuhan. Buktinya skrg Busuk.

Ada juga akun menyebut rakyat miskin menjadi tumbal dari kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah. Akibatnya, banyak beras mengendap dan tidak dirasakan rakyat secara keseluruhan.

"20 ribu ton beras hanya menjadi sampah & sajian hewan di Bulog karena busuk, rakyat miskin hanya jadi tumbal mafia yang hanya mengejar fee, ini sebabnya negara sering impor. 20 ton itu berkisaran 160M, @bpkri wajid diaudit @Kemendagri_RI jangan biarkan ini terulang kembali,” tulis akun tersebut.

Perum Bulog mencatat ada 20.000 ton cadangan beras pemerintah (CBP) yang terancam dibuang. Penyebabnya, beras tersebut sudah mengendap di gudang lebih dari empat bulan, hingga berdampak penurunan mutu seperti membusuk.

Perum Bulog lantas meminta ganti rugi kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani. Tuntutan itu sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah, maka beras tersebut harus dimusnahkan

Menanggapi beras busuk tersebut pengamat kebijakan publik Sjafril Sofyan mengemukakan, pada 2018 Enggar ngotot melakukan kebijakan impor beras sampai dia ‘dimaki’ dengan bahasa Jawa oleh Dirut Perum Bulog Budi Waseso. Pasalnya saat itu impor beras dilakukan ditengah ketersediaan beras cukup dan sedang memasuki Panen.

“Saya mencurigai impor beras saat itu adalah permainan kartel pangan yang ada di pemerintahan. Sepertinya Presiden Jokowi tidak berkutik menghadapi tekanan impor oleh kartel impor,” ujar Sjafril kepada Harian Terbit, Selasa (3/12/2019).

 

Rizal Ramli

 

Sjafril mengemukakan, Rizal Ramli dalam diskusi bertajuk “Polemik Impor Beras” 2018 pernah bersuara keras terhadap Enggar yang harus dipecat oleh Jokowi, karena menduga terlibat import ugal-ugalan yang menyebut praktik yang dilakukan para kartel itergolong subversi.

 

“Tidak sampai disitu Rizal Ramli juga melaporkan dugaan korupsi bernilai besar terkait impor pangan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), seingat saya pada bulan Oktober 2018. Rizal Ramli menyebut kedatangannya untuk mengadukan dugaan korupsi dari kebijakan impor pangan pemerintah,” kata Sjafril.

Tapi, kata Sjafril,  semua tidak digubris, bahkan KPK sempat memanggil Enggar beberapa Kali, tidak pernah dipenuhi oleh Enggar, dan ini  membuktikan betapa kuatnya para kartel/mafia pangan.

Sekarang terbukti 20 ribu ton beras busuk harus dibuang dengan kerugian Rp160 Miliar lebih, negara dirugikan, mau tidak mau Enggar harus bertanggungjawab. “Adanya trending topic #TangkapEnggar Saya sangat setuju,” papar Sjafril.

Dia mengemukakan, kejadian ini harus membuka mata dan hati Presiden Jokowi Jangan lagi mau dibodohi oleh Menterinya dan Lembaga lain yang membuat data keliru. Pejabat terkait tentang data yang keliru harus dibersihkan. “Kedepan jika tidak mau membenahi dengan tegas artinya tidak bisa disalahkan jika Presiden ada keterkaitan dengan para kartel/mafia pangan,” ungkap Sjafril.(Jft/Hanter)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...