Perbandingan Sri Mulyani Vs Rizal Ramli Dalam Lima Segi

KONFRONTASI -  SMI (Sri Mulyani Indrawati) selama menjabat Menteri Keuangan/Ekonomi di era SBY dan Jokowi, tidak pernah berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan, sebaliknya malah sering terjadi pertumbuhan ekonomi malah turun di eranya menjabat.

 

Rekam Jejak Makro-Ekonomi

Masuk Kabinet SBY pada akhir tahun 2005, saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5,7 persen. Pertumbuhan paling tinggi pada era Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan SBY adalah 6,3 persen yang terjadi tahun 2007.

Saat Sri Mulyani meninggalkan Kabinet SBY pada 2010, pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya (2009) sempat anjlok ke 4,6 persen. Artinya, pada era SBY, bila diukur dari titik awal masuk labinet, Sri Mulyani menaikkan pertumbuhan sebesar 0,6 persen (6,3 persen hingga 5,7 persen), tetapi menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar minus 1,1 persen (4,6 persen hingga 5,7 persen).

Masuk Kabinet Jokowi pertengahan tahun 2016, saat itu pertumbuhan ekonomi 5 persen. Pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 5,2 persen, dan pertumbuhan terendah pada kuartal-I 2020 sebesar 2,9 persen.

Artinya pada era Jokowi, bila diukur titik awal masuk Kabinet, Sri Mulyani menaikkan pertumbuhan sebesar 0,2 persen, tetapi menurunkan pertumbuhan sebesar minus 2,1 persen.

Selama menjabat Menteri Keuangan di era Presiden SBY dan Jokowi, pertambahan utang (dalam dan luar negeri) pemerintah sangat besar, dan sebagian besar dalam bunga yang sangat tinggi (untuk surat utang).

Bila diakumulasikan, total surat utang pemerintah yang pernah diterbitkan Sri Mulyani sejak masa SBY hingga Jokowi sudah lebih dari Rp 1.500 triliun, belum ditambah dengan bunganya.

Selama Sri Mulyani menjabat di era Jokowi, transaksi berjalan selalu defisit, berada di kisaran -2 persen dari PDB. Tax Ratio di era ini (2016-2019) juga jatuh ke rata-rata 10 persen, bahkan tahun 2019 merupakan rekor tax ratio terburuk sepanjang sejarah: 9,8 persen

Kesimpulannya, selama menjabat, Sri Mulyani tidak berhasil melakukan turn around dalam bidang makroekonomi.

RR (Rizal Ramli) selama menjadi tim ekonomi, termasuk Menteri Ekonomi/Keuangan di era Gus Dur, Rizal Ramli berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Sebelum Kabinet Gus Dur terbentuk, pada kuartal ke-3 tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia -1,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi pada tahun 2000 sebesar 4,9 persen, hanya beberapa bulan sebelum Gus Dur jatuh di pertengahan tahun 2001. Artinya pada era Gus Dur, tim ekonomi berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen (4,9 persen hingga (-1,7 persen)).

Pemerintahan Gus Dur tidak pernah menambah utang, melainkan yang terjadi adalah pengurangan utang luar negeri sebesar 8 miliar dolar AS.

Rizal Ramli ikut memimpin berbagai proses renegosiasi utang pemerintah Indonesia dengan negara-negara dan lembaga kreditor. Indikator ketahanan eksternal makroekonomi, yaitu transaksi berjalan (current account), selama era Gus Dur mengalami surplus rata-rata 5 persen dari PDB. Tax ratio pun selama era Gus Dur (1999-2001) rata- rata berada di kisaran 12,7 persen.

Kesimpulannya, selama menjabat, Rizal Ramli sukses melakukan turn around dalam bidang makroekonomi.

Rekam Jejak Korporat


SMI selama menjadi pejabat publik tidak pernah terjun langsung untuk menyelamatkan korporasi, kecuali dalam kasus Bank Century yang akhirnya malah menjadi skandal keuangan. Jadi sama sekali tidak ada rekam jejak Sri Mulyani melakukan turn-around korporat.
Rizal Ramli sangat kaya akan penyelamatan, turn around, korporasi. Pada saat menjadi Kepala Bulog, Rizal Ramli memperbaiki insitusi tersebut hingga berhasil menghemat Rp 5  triliun.

Pada saat menjadi Menteri Keuangan/Ekonomi, Rizal Ramli berhasil menyelamatkan PLN dari kebangkrutan; menyelamatkan IPTN/PTDI dari kebangkrutan; menyelamatkan BII dari rush tanpa bail-out; memisahkan cross-ownership Indosat-Telkomsel sehingga Negara mendapatkan Rp 5 triliun; dan menyelamatkan industri properti Indonesia dari keterpurukan.

Pada saat Rizal Ramli menjabat Presiden Komisaris Semen Gresik di era Presiden SBY, keuntungan penjualan grup dapat ditingkatkan berkali-kali lipat. Pada saat menjabat Komisaris Utama BNI di era Presiden Jokowi, Rizal Ramli membuat prestasi BNI hampir menyalip BCA.

Relasi Internasional


Sri Mulyani adalah orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Pelaksana di Bank Dunia (2010-2016).

Sebelumnya Sri Mulyani juga pernah menjabat sebagai konsultan USAID (2001) dan Direktur Eksekutif IMF (2002-2004).

Semasa menjabat di pemrintahan Indonesia, berbagai lembaga dan majalah asing kerap memberikan penghargaan menteri terbaik kawasan kepada Sri Mulyani.

Rizal Ramli pernah menjabat sebagai penasehat di UNDP (2008-2013) bersama tiga ekonom peraih Nobel Ekonomi. Kerap diundang berbagai negara seperti Vietnam (2002) dan negara-negara Arab Spring (2011) untuk memberikan nasihat dalam membangun perekonomian.

Pengalaman Penelitian (Research Experience) 

Sri Mulyani setelah mendapatkan doktoral dari University of Illinois at Urbana-Champaign (1992) dengan disertasi di bidang ekonomi perburuhan, kembali mengajar di Universitas Indonesia dan bergabung dengan lembaga penelitian LPEM-UI (1992-2001).

Rizal Ramli setelah mendapatkan doktoral dari Boston University (1991) dengan disertasi di bidang ekonomi makro-moneter,  kembali ke Indonesia dan mendirikan lembaga penelitian Econit Advisory Group, bersama teman-temannya sesama ekonom.

Sebelumnya, pada tahun 1984 setelah mendapatkan Master dari Boston University (1983), Rizal Ramli bersama para peneliti dari Harvard University melakukan penelitian lapangan untuk membangun sistem kredit BRI Unit Desa. Kesuksesan model kredit mikro BRI Unit Desa di akhir tahun 1980-an inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari Profesor Muhamad Yunus dari Bangladesh untuk membangun Grameen Bank, sehingga mendapat hadiah Nobel Perdamaian.

Skandal Keuangan 

Berbagai tudingan keterlibatan dalam skandal keuangan melekat pada Sri Mulyani. Pertama adalah Skandal Bank Century yang merugikan Negara Rp 6,7 triliun.

Banyak pandangan yang menghubungkan antara keterlibatannya dalam Skandal Century Sri Mulyani dan kepergiannya ke AS menjadi Direktur Bank Dunia pada tahun 2010. Bila tidak pergi ke AS saat itu, Sri Mulyani mungkin sudah menjadi Menteri Keuangan Indonesia pertama yang masuk bui.

Kedua adalah Skandal Obral Aset Obligor BLBI (BDNI Syamsul Nursalim). Berdasarkan fakta persidangan, pada tahun 2007 pernah Sri Mulyani menjual asset BDNI hanya Rp 220 miliar, padahal harga seharusnya Rp 4,5 triliun/ Artinya ada kerugian negara Rp 4,2 triliun di dalam kasus ini.

Ketiga ada kasus penggelapan pajak Paulus Tumewu yang merugikan Negara hingga Rp 400 miliar. Sri Mulyani pada tahun 2005 menulis surat yang isinya memberikan keringanan kepada Paulus Tumewu sehingga hanya membayar pajak Rp 7,9 miliar.

Keempat adalah dugaan skandal bunga surat utang (bond) yang ketinggian dibanding negara tetangga Filipina dan Vietnam. Seharusnya sebagai negara dengan credit rating lebih bagus dari Filipina dan Vietnam, Indonesia bisa meminjam ke pasar dengan bunga sama atau lebih murah.

Selama Sri Mulyani menjabat Menkeu Jokowi, Indonesia membayar selisih bunga 1,55 persen lebih tinggi dari Filipina dan Vietnam, akibatnya Indonesia terpaksa rugi membayar kelebihan bunga sebesar Rp 118 triliun.

Tidak ada skandal keuangan yang melibatkan Rizal Ramli. Dalam memecahkan kasus- kasus korupsi, lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering meminta nasehat ahli Rizal Ramli.(Jft/RMOLJABAR)

 
 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA