21 August 2018

Pasar Lemes dan Memudar dengan Capres Jokowi. Nilai Tukar Siap Tembus Rp14.000/dolar. Jokowi Disarankan Introspeksi

KONFRONTASI- Pasar lemes, masyarakat lemas dan memudar mendengar Jokowi maju lagi 2019. Pasar tidak lupa bahwa sejak terpilih 2014 hingga saat ini, Rupiah tidak pernah menguat, bahkan  rupiah terus malah melemah hingga ke kisaran Rp 13.700-an. Bulan Mei ini diprediksi rupiah bergejolak menembus Rp14.000/dolar  karena  faktor domestik yang lemah dan Fed AS menaikkan suku bunga, dan pasar makin lemes mendengar Jokowi maju capres lagi. Para analis melihat, Pasar  dan civil society sudah  emoh Jokowi yang sangat lemah secara intelektual, dinilai miskin strategi, deficit gagasan, dinilai tidak kredibel oleh kaum intelektual/ oposisi/civil society  dan kedodoran dalam bahasa Inggris, padahal  ini era globalisasi. Jokowi sangat lemah dan tidak punya kapasitas sebagai pemimpin RI yang besar di Asia. Akibatnya, RI makin diremehkan di dunia internasional sebagai negara lemah yang nyaris jadi negara gagal.

Prof Richard Robison dari  Murdoch, Australia menilai Jokowi sudah maksimal dengan capaian saat ini dan Indonesia dianggap jadi negara tertinggal serta halaman belakang di Asia Tenggara. Menurutnya, kepemimpinan Indonesia diangap sangat lemah dan tidak diperhitungkan di Asia. Profesor Richard Robison menyebut Indonesia tidak punya kapasitas untuk jadi kekuatan baru baik di kawasan regional apalagi di pentas global. Pandangani tersebut disampaikan Profesor Richard Robison saat memberikan kuliah umum di kampus Universitas Melbourne belum lama ini. Richard melihat tidak adanya intensi dan kapasitas pemimpin politik dan ekonomi untuk memproyeksikan kekuatan Indonesia menjadi salah satu penyebabnya

Para cendekiawan Muslim  menilai, masuknya jutaan tenaga kerja asing (TKA) China makin menyulitkan Jokowi dan kredibilitasnya jatuh di mata kaum bumiputera yang melihat Jokowi sengaja dekat ke China, membangkitkan trauma lama akan poros Jakarta-Beijing. Karena itu masuk akal saran Rizal Ramli agar Jokowi tidak maju lagi karena kapasitasnya sangat lemah, miskin gagasan dan tidak punya strategi membangun ekonomi bangsa ke depan.

Para analis sempat memprediksi, tahun 2014 saat terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) pada pemilu Presiden pada 2014,  kemenangan Jokowi bisa memicu menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah hingga ke level Rp 10.000 per US$. Namun ternyata rupiah malah anjlok karena Jokowi kelihatan tidak pintar, dinilai para diplomat asing dan jurnalis internasional di sini, dia masih tampak  sangat lemah dan seolah sekedar petugas parpol yang kepengin jadi presiden dan kesampaian. Tapi dia terpuruk untuk membangun kesejehtaraan dan keadilan sosial.  Bahkan sejak terpilih 2014 hingga saat ini,  rupiah tak naik, bahkan  rupiah terus malah melemah hingga ke kisaran Rp 13.700-an.

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) era Jokowi  tengah ramai menjadi perhatian internasional dan para diplomat maupun investor asing  lantaran penurunan rupiah  sempat menyentuh posisi tertinggi dalam dua tahun terakhir di Rp 13.800. Hal ini menunjukkan Jokowi dan timnya sudah gagal kelola  ekonomi, malah ekonomi terus merosot dan mandeg di kisaran 5%.

Tokoh nasional yang gagah dan kredibel mengusung Trisakti dan Pasal 33 UUD45   yakni  Rizal Ramli meminta Presiden Joko Widodo melakukan introspeksi mendalam mengenai kemampuannya mengubah nasib rakyat. Jika memang merasa tidak mampu, Jokowi sebaiknya jangan mengejar periode kedua.

"Kecuali mampu ada kejelasan programnya, strateginya apa yang mau dilakukan kedepan. Tapi kalau nggak saya kira cukup sudah, kasihan rakyat," ujarnya dalam diskusi dan dialog kebangsaan yang diselenggarakan Pimpinan Besar Pemuda Muslim Indonesia di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/4/18).

Rizal mengatakan, di setiap kesempatan diskusi dan dialog dengan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, dirinya selalu menanyakan mengenai kehidupan mereka. Sebagian besar menjawab dengan yakin bahwa hidup mereka akan tetap sulit dan susah jika pemerintah tidak berubah. Masyarakat ingin perubahan ke arah keadilan dan kesejahteraan karena tidak didapat di era Jokowi.

Semua itu harus jadi pertimbangan kubu Jokowi, sebab kalau Jokowi mandito, tak maju lagi, maka dia bisa dipuji dan diapresiasi rakyat. Namun kalau Jokowi maju terus, kita khawatir bakal terjadi hal yang sebaliknya.

.(ff)

Analisa refleksi oleh peneliti CSRC UIN Jakarta Muhamad Nabil MA, alumnus STF Driyarkara dan Muhamad Muntasir Alwy, Deputi Direktur The New Indonesia Foundation, alumnus Fisipol UGM, silakan ditanggapi pembaca. Media ini terbuka bagi kritik dan koreksi.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...