6 December 2019

Pak Darmin Akui Ekonomi Indonesia Kalah Efisien Dibandingkan Vietnam

KONFRONTASI -  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kalah jika dibanding Vietnam. Darmin mengungkapkan, rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi (ICOR) nasional masih mencapai 6,6% sehingga pertumbuhan ekonomi hanya 5,1%. Padahal, Vietnam memiliki tingkat ICOR hanya sekitar 4,6% dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7%. Adapun semakin tinggi rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, semakin rendah tingkat efisiensi produksi nasional. "Penting sekali kita rancang dengan tepat konfigurasi investasi sehingga ekspor juga bisa didorong lebih tinggi lagi," kata Darmin di Jakarta, Jumat (9/8).

 

  Ia mengungkapkan investasi yang dibangun harus mampu meningkatkan hilirisasi produk di Tanah Air sehingga industri bisa lebih efisit. Saat ini, menurut dia, pelaku usaha kurang mendorong proses industrialisasi terutama pada Sumber Daya Alam (SDA), seperti sektor pertambangan, kehutanan, dan kelautan. Kendati demikian, ia menyebut pemerintah sudah melakukan pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir. Sehingga, pertumbuhan ekonomi seharusnya terdorong dengan pemanfaatan yang tepat.

"Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur, itu yang lebih tepat," jelasnya. Di sisi lain, Darmin menekankan pentingnya transformasi ekonomi yang antara lain dapat dimulai dari sektor agraris. Petani harus bisa memanfaatkan pembangunan jalan untuk logistik, serta embung untuk pengairan. Menurutnya, transformasi yang baik adalah perubahan bertahap, tidak langsung dari kegiatan bertani menjadi industri besar.

 Ia juga menyebut pemerataan ekonomi bakal lebih efektif dengan reforma agraria serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dia mengungkapkan pertumbuhan angkatan kerja mencapai 3% setiap tahun, sehingga pertumbuhan ekonomi seharunya jauh lebih tinggi. Darmin juga menekankan pentingnya peranan modal asing untuk jangka panjang. Alasannya, kepemilikan asing dalam pasar modal Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan modal jangka pendek sudah mencapai 40%. Dia pun menyarankan pengurangan ketergantungan terhadap dana asing jangka pendek. Sehingga, masyarakat juga harus lebih ikut serta terhadap sektor keuangan formal. Darmin menyebutkan angka pertumbuhan kredit hanya sebesar 11% sampai 12%, tetapi dana pihak ketiga mencapai 7%. "Berarti ada gap, kita harus bisa urus keuangan inklusif untuk terdorong," ujar Darmin. Reporter: Michael Reily

"Penting sekali kita rancang dengan tepat konfigurasi investasi sehingga ekspor juga bisa didorong lebih tinggi lagi," kata Darmin di Jakarta, Jumat (9/8). (Baca: Hadapi Perang Dagang, Saatnya Indonesia Mengejar Vietnam) Ia mengungkapkan investasi yang dibangun harus mampu meningkatkan hilirisasi produk di Tanah Air sehingga industri bisa lebih efisit. Saat ini, menurut dia, pelaku usaha kurang mendorong proses industrialisasi terutama pada Sumber Daya Alam (SDA), seperti sektor pertambangan, kehutanan, dan kelautan. Kendati demikian, ia menyebut pemerintah sudah melakukan pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir. Sehingga, pertumbuhan ekonomi seharusnya terdorong dengan pemanfaatan yang tepat. "Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur, itu yang lebih tepat," jelasnya. Di sisi lain, Darmin menekankan pentingnya transformasi ekonomi yang antara lain dapat dimulai dari sektor agraris. Petani harus bisa memanfaatkan pembangunan jalan untuk logistik, serta embung untuk pengairan. Menurutnya, transformasi yang baik adalah perubahan bertahap, tidak langsung dari kegiatan bertani menjadi industri besar.

Ia juga menyebut pemerataan ekonomi bakal lebih efektif dengan reforma agraria serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dia mengungkapkan pertumbuhan angkatan kerja mencapai 3% setiap tahun, sehingga pertumbuhan ekonomi seharunya jauh lebih tinggi. Darmin juga menekankan pentingnya peranan modal asing untuk jangka panjang. Alasannya, kepemilikan asing dalam pasar modal Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan modal jangka pendek sudah mencapai 40%. Dia pun menyarankan pengurangan ketergantungan terhadap dana asing jangka pendek. Sehingga, masyarakat juga harus lebih ikut serta terhadap sektor keuangan formal. Darmin menyebutkan angka pertumbuhan kredit hanya sebesar 11% sampai 12%, tetapi dana pihak ketiga mencapai 7%. "Berarti ada gap, kita harus bisa urus keuangan inklusif untuk terdorong," ujar Darmin.

Gambar mungkin berisi: teks

(Jft/DKatadata)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kalah jika dibanding Vietnam. Darmin mengungkapkan, rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi (ICOR) nasional masih mencapai 6,6% sehingga pertumbuhan ekonomi hanya 5,1%. Padahal, Vietnam memiliki tingkat ICOR hanya sekitar 4,6% dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7%. Adapun semakin tinggi rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, semakin rendah tingkat efisiensi produksi nasional. "Penting sekali kita rancang dengan tepat konfigurasi investasi sehingga ekspor juga bisa didorong lebih tinggi lagi," kata Darmin di Jakarta, Jumat (9/8). (Baca: Hadapi Perang Dagang, Saatnya Indonesia Mengejar Vietnam) Ia mengungkapkan investasi yang dibangun harus mampu meningkatkan hilirisasi produk di Tanah Air sehingga industri bisa lebih efisit. Saat ini, menurut dia, pelaku usaha kurang mendorong proses industrialisasi terutama pada Sumber Daya Alam (SDA), seperti sektor pertambangan, kehutanan, dan kelautan. Kendati demikian, ia menyebut pemerintah sudah melakukan pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir. Sehingga, pertumbuhan ekonomi seharusnya terdorong dengan pemanfaatan yang tepat. "Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur, itu yang lebih tepat," jelasnya. Di sisi lain, Darmin menekankan pentingnya transformasi ekonomi yang antara lain dapat dimulai dari sektor agraris. Petani harus bisa memanfaatkan pembangunan jalan untuk logistik, serta embung untuk pengairan. Menurutnya, transformasi yang baik adalah perubahan bertahap, tidak langsung dari kegiatan bertani menjadi industri besar. (Baca: Terpukul Perang Dagang, Surplus Tiongkok ke AS Turun pada Juli) Ia juga menyebut pemerataan ekonomi bakal lebih efektif dengan reforma agraria serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dia mengungkapkan pertumbuhan angkatan kerja mencapai 3% setiap tahun, sehingga pertumbuhan ekonomi seharunya jauh lebih tinggi. Darmin juga menekankan pentingnya peranan modal asing untuk jangka panjang. Alasannya, kepemilikan asing dalam pasar modal Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan modal jangka pendek sudah mencapai 40%. Dia pun menyarankan pengurangan ketergantungan terhadap dana asing jangka pendek. Sehingga, masyarakat juga harus lebih ikut serta terhadap sektor keuangan formal. Darmin menyebutkan angka pertumbuhan kredit hanya sebesar 11% sampai 12%, tetapi dana pihak ketiga mencapai 7%. "Berarti ada gap, kita harus bisa urus keuangan inklusif untuk terdorong," ujar Darmin. Reporter: Michael Reily

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Menko Darmin Akui Ekonomi Indonesia Kalah Efisien Dibandingkan Vietnam" , https://katadata.co.id/berita/2019/08/09/menko-darmin-akui-ekonomi-indonesia-kalah-efisien-dibandingkan-vietnam#click=https://t.co/qdma5LBMia
Penulis: Michael Reily
Editor: Agustiyanti
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kalah jika dibanding Vietnam. Darmin mengungkapkan, rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi (ICOR) nasional masih mencapai 6,6% sehingga pertumbuhan ekonomi hanya 5,1%. Padahal, Vietnam memiliki tingkat ICOR hanya sekitar 4,6% dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7%. Adapun semakin tinggi rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, semakin rendah tingkat efisiensi produksi nasional. "Penting sekali kita rancang dengan tepat konfigurasi investasi sehingga ekspor juga bisa didorong lebih tinggi lagi," kata Darmin di Jakarta, Jumat (9/8). (Baca: Hadapi Perang Dagang, Saatnya Indonesia Mengejar Vietnam) Ia mengungkapkan investasi yang dibangun harus mampu meningkatkan hilirisasi produk di Tanah Air sehingga industri bisa lebih efisit. Saat ini, menurut dia, pelaku usaha kurang mendorong proses industrialisasi terutama pada Sumber Daya Alam (SDA), seperti sektor pertambangan, kehutanan, dan kelautan. Kendati demikian, ia menyebut pemerintah sudah melakukan pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir. Sehingga, pertumbuhan ekonomi seharusnya terdorong dengan pemanfaatan yang tepat. "Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur, itu yang lebih tepat," jelasnya. Di sisi lain, Darmin menekankan pentingnya transformasi ekonomi yang antara lain dapat dimulai dari sektor agraris. Petani harus bisa memanfaatkan pembangunan jalan untuk logistik, serta embung untuk pengairan. Menurutnya, transformasi yang baik adalah perubahan bertahap, tidak langsung dari kegiatan bertani menjadi industri besar. (Baca: Terpukul Perang Dagang, Surplus Tiongkok ke AS Turun pada Juli) Ia juga menyebut pemerataan ekonomi bakal lebih efektif dengan reforma agraria serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dia mengungkapkan pertumbuhan angkatan kerja mencapai 3% setiap tahun, sehingga pertumbuhan ekonomi seharunya jauh lebih tinggi. Darmin juga menekankan pentingnya peranan modal asing untuk jangka panjang. Alasannya, kepemilikan asing dalam pasar modal Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan modal jangka pendek sudah mencapai 40%. Dia pun menyarankan pengurangan ketergantungan terhadap dana asing jangka pendek. Sehingga, masyarakat juga harus lebih ikut serta terhadap sektor keuangan formal. Darmin menyebutkan angka pertumbuhan kredit hanya sebesar 11% sampai 12%, tetapi dana pihak ketiga mencapai 7%. "Berarti ada gap, kita harus bisa urus keuangan inklusif untuk terdorong," ujar Darmin. Reporter: Michael Reily

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Menko Darmin Akui Ekonomi Indonesia Kalah Efisien Dibandingkan Vietnam" , https://katadata.co.id/berita/2019/08/09/menko-darmin-akui-ekonomi-indonesia-kalah-efisien-dibandingkan-vietnam#click=https://t.co/qdma5LBMia
Penulis: Michael Reily
Editor: Agustiyanti
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...