25 June 2018

Oligarki Pemerintahan Jokowi Dan Jatuhnya PGN Ke Tangan Asing

Oleh : Salamuddin Daeng (AEPI)

Pembentukan Perusahaan Gas Negara (PGN) sejak awal dimaksudkan agar negara memiliki ketahanan migas yang kuat dengan bersandar pada sumber energi gas. Alasannya jelas, Indonesia adalah negara yang kaya akan gas. Sekarang ini produksi gas nasional telah setara dengan 1,5 kali produksi minyak.

Namun apa yang terjadi, perusahaan justru menjadi alat oligarki dalam menumpuk utang dan kepemilikan negara dijual ke publik. Hasilnya menjadi ajang bancakan oligarki. Sementara perusahaan tidak menunjukkan perannya dalam ketahanan migas nasional.

Akibatnya PGN  sudah tidak dapat lagi disebut sebagai perusahaan negara. Karena sebagian besar kepemilikan PGN adalah asing.

Kepemilikan asing dalam PGN tersebut melalui dua skema yakni privatisasi pgn melalui kepemilikan saham swasta dalam PGN dan utang PGN ke pasar keuangan.

Tahun 2015 total asset PGN adalah US$ 6.821 juta. Sementara Equity perusahaan sebesar US$  2.908 juta. Selanjutnya Debt to Equity sebesar 0,85 meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 0.64. Utang PGN yang merupakan utang yang bersumber dari luar negeri mencapai US$ 2.471 juta atau sekitar Rp. 33,369 triliun.

Sementara kepemilikan swasta dalam PGN ditunjukkan oleh kepemilikan public di PGN sekitar 43% yang merupakan hasil dari privatisasi selama ini. Jika diakumulasikan utang dengan kepemilikan swasta dalam PGN maka nilainya mencapai 5.404 juta dolar US atau sekitar Rp 73 triliun rupiah atau setara dengan 79,2% asset PGN.

Dengan demikian maka PGN adalah perusahaan swasta yang sebagian kecil kepemilikannya oleh negara dan sebagian besar adalah swasta dan asing.

Sekarang yang patut dipersoalkan adalah kemana uang hasil penjualan saham dan hasil utang PGN yang sedemikian besar. Apakah digunakan untuk investasi migas atau telah habis dibagi bagikan kepada oligarki penguasa dan elite PGN? Karena dengan perolehan uang sebesar itu dari penjualan saham dan utang, mestinya PGN sudah menjadi perusahaan yang besar dan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Faktanya jauh panggang dari api...(Juft/WA)

Category: 
Loading...