Menko Rizal Ramli dan PM Najib Razak Bertemu di Kuala Lumpur, Bahas Sawit

KUALA LUMPUR- Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengungkapkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutusnya untuk menemui Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Kamis ini.Menko Maritik dan Sumber Daya Alam Rizal Ramli terus begerak. Siang ini (Kamis, 27/8) Rizal Ramli bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak di Putrajaya, Malaysia. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas soal kerjasama minyak kelapa sawit (CPO)..

Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas kemungkinan joint forces dengan Malaysia dalam rangka pengembangan industri minyak sawit dalam negeri.

Dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu, Rizal Ramli mengatakan, pemerintah berencana mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kalimantan Timur sebagai pusat industri minyak sawit.

"Presiden (Joko Widodo) minta saya ketemu minggu depan dengan Perdana Menteri Malaysia. Kita akan sepakati beberapa hal yang strategis supaya proyek ini bisa jalan secepatnya," ujar Rizal Ramli.

PM Najib Razak akan menjadi pejabat negara sahabat keempat yang bertemu Rizal Ramli sejak dia memperkuat Kabinet Kerja. Sebelumnya Rizal Ramli bertemu dengan orang kuat dan mantan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao, Dutabesar AS Robert Blake, dan utusan khusus PM Shinzo Abe.

Rizal menjelaskan, dalam bidang minyak kelapa sawit, Indonesia dan Malaysia merupakan importir besar. Ia memaparkan, Indonesia bisa menghasilkan minyak kelapa sawit sebanyak 40 juta ton, sementara Malaysia sekitar 30 juta ton.

"Jadi kita ingin kerjasama dengan Malaysia, supaya kita bisa dapat nilai tambah lebih besar dari palm oil," ujar Rizal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (19/8) malam.

Rizal juga menyampaikan, pemerintah Indonesia berencana membangun pusat pemrosesan minyak kelapa sawit turunan di Kalimantan Timur. Langkah tersebut, ucap dia, diambil supaya Indonesia dan Malaysia tidak hanya menjual kelapa sawit dalam bentuk minyak kelapa sawit mentah, melainkan juga olahan turunannya, yakni berupa oleochemical.

Rizal menyebutkan, oleochemical ini bisa diproses menjadi sabun, bahan margarin, dan yang paling penting adalah sebagai bahan bakar pesawat jet. "Ternyata kalau dari palm oil itu bagus sekali. Kalau kita ingin jadi pemain nomor satu dalam ekspor palm oil," kata dia.

Ia menuturkan, dengan didirikannya Kawasan Ekonomi Khusus di Kalimantan Timur itu, diharapkan nantinya sawit dari Kalimantan dan Sumatra bisa dibawa ke sana untuk diproses, sehingga Indonesia tidak hanya menjual minyak kelapa sawit saja melainkan juga produk turunan yang banyak sekali manfaatnya.

"Tapi ini inisiatif besar, sehingga kita ingin merangkul Malaysia. Presiden minta minggu depan dengan PM Najib kita akan sepakati beberapa hal strategis supaya proyek ini bisa berjalan secepatnya," ujar dia.

Di sisi lain, sebelumnya kalangan pengusaha pesimistis target ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya yang dipatok 21 juta ton pada tahun ini dapat tercapai. Ketidakyakinan itu berangkat dari keruwetan mekanisme ekspor komoditas tersebut menyusul pungutan berganda dana pengembangan sawit (CPO Supporting Fund) dan bea keluar (BK).

"Ini karena beberapa lembaga dan instansi terkait masih menerapkan aturan lama yang pada dasarnya menghambat kegiatan ekspor. Kami tidak yakin (capai target) meski target tahun ini tak jauh berbeda ketimbang tahun lalu yang berada di angka 20,8 juta ton," kata Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga di kantornya, Kamis (23/7).

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...