25 June 2018

Masalah Ekonomi Jokowi kian Rentan dan Riskan menuju 2019, Rizal Ramli adalah Capres Alternatif Terbaik, kata analis

KONFRONTASI- Kiprah Menkeu Sri Mulyani, Meneg BUMN Rini Soemarno dan Wapres JK maupun Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan  dengan segenap kelompok kepentingan dan bisnis mereka, semakin tidak ada koreksi, tak terkontrol  dan tak ada penyeimbang (checks and balances) karena tidak ada lagi sosok Rizal Ramli (RR) di Kabinet Kerja. Akibatnya, Nawa Cita dan Revolsui Mental Jokowi terjungkal. Media dan publik boleh saja melihat RR sebagai Rajawali yang bikin gaduh, namun segala langkah ‘’gaduh’’ itu sebenarnya merupakan aksi/tindakan untuk memihak kepentingan rakyat yang  menderita, demi Trisakti dan Nawa Cita, sebab rakyat  hanya diberi  ‘’uang recehan’’ dan janji Nawa Cita  tapi rakyat dipaksa menanggung beban naiknya harga pangan (sembako) dan energi akibat pemangkasan subsidi oleh Neoliberalisme Sri Mulyani cs. Karena itu, rakyat mustinya mencari capres alternatif terbaik untuk solusi ekonomi yang kelewat liberal dan sarat ketidak adilan. Neoliberalisme memperkaya orang kaya namun mempermiskin orang miskin.Jokowi juga terlalu terbuka terhadap masuknya modal RRC dan ratusan ribu buruh China, sinyal bahaya bagi kepentingan AS/Barat dan NKRI di Asia Tenggara.

Demikian pandangan  F Reinhard MSc, analis ekonomi-politik dari The New Indonesia Foundation dan Nehemia Lawalata dari Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, semalam. Kedua analis itu mengingatkan,  ekonomi rakyat kian mampat, daya beli melemah dan rakyat kehilangan harapan terhadap Jokowi sehingga mencari capres alternative seperti Rizal Ramli, Tito Karnavian dan Gatot Nurmantyo,Sri Mulyani, dan Zulkifli Hasan (ketua MPR). ''Namun RR adalah capres alternatif terbaik kalau orang Jawa-Sunda butuh solusi ekopnomi karena masyarakat Jawa-Sunda yang padat adalah paling banyak miskinnya,''kata Nehemia. 

''Meski RR bukan orang Jawa, namun  dia tipikal intelektual Nahdliyin-Muhammadiyah (perpaduan Gus Dur- Buya Hamka) yang merupakan mayoritas masyarakat Muslim kita, dengan gagasan Nasionalisme Ekonomi pro-rakyat yang sangat kuat seperti Founding Fathers,'' ujar Reinhard..

‘’Kalau Gatot Nurmantyo dan Prabowo yang ditengok rakyat ke Pilpres 2019, maka keduanya bukan ekonom tangguh yang bisa menyelesaikan problem ekonomi. Padahak rakyat butuh teknokrat ekonomi yang tangguh untuk memihak aspirasi dan kepentingan rakyat banyak yakni sandang pangan papan, pendidikan dan lapangan kerja  yang relative terjangkau. Munculnya RR sebagai kandidat ke Pilpres 2019 adalah alternative terbaik bagi solusi ekonomi,  bisa berduet dengan Prabowo, Jokowi atau siapapun,’’ kata Nehemia, mantan Sekretaris politik Prof Sumitro Djojohadikusmo.  Nehemia menambahkan bahwa Jusuf Kalla bukanlah ekonom, melainkan pedagang dengan kepentingan bisnis grupnya yang jamak pula.

Menurut Reinhard dan Nehemia Lawalata,  Presiden Jokowi menggelorakan Revolusi Mental dan Trisakti Soekarno, namun kalau ekonom senior Rizal Ramli tidak dimasukkan dalam tim ekuin Kabinet Jokowi, mudah diprediksi bahwa kiprah Menkeu Sri Mulyani, Meneg BUMN Rini Soemarno dan Wapres JK maupun Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan  dengan segenap kelompok kepentingan dan bisnis mereka, kian menjadi beban bagi Presiden Jokowi yang hanya bica curhat dan tolah-toleh ke sana kemari karena tidak berdaya menghadapi dominasi taipan dan seluruh kelompok kepentingan bisnis di kekuasaan.

Hasil gambar untuk nehemia lawalata

Nehemia Lawalata

‘’Bisnis mereka itu kan bisnis kekuasaan, sehingga kiprah Menkeu Sri Mulyani, Meneg BUMN Rini Soemarno dan Wapres JK maupun Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan  dengan segenap kelompok kepentingan dan bisnis mereka, sebagai bisnis kekuasaan, sungguh sangat kuat menundukkan kebijakan Jokowi,’’ katanya. (sumber2/red)

Category: 
Loading...