Luhut dikritik anak cucunya soal Omnibus Law, Rocky Gerung: Busuk ya busuk

KONFRONTASI -  Pengamat politik Rocky Gerung merespons kabar pengakuan Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Luhut Pandjaitan dikritik anak cucunya soal Omnibus Law atau UU Cipta Kerja. Rocky menilai bagus saja Luhut dikritik anak cucunya dan Luhut mendapat inspirasi dari cucunya soal Omnibus Law, namun dia mengatakan barang busuk tetaplah busuk walau dinamai bagus.

Ulasan Rocky itu menegaskan masalah substansi Omnibus Law ini hanya bisa diobati dengan pembatalan undang-undang tersebut. Masalahnya adalah subtansi namun pemerintah masih cenderung masih menganggap Omnibus Law ini bisa diperbaiki luarnya saja.

 

Luhut dikritik anak cucunya - Faye Simanjuntak dan Luhut Binsar

Faye Simanjuntak dan Luhut Binsar

 


Cucu Luhut, Faye Simanjuntak dan Luhut Binsar Foto: Instagram Faye Hasian


Dalam diskusi daring yang diunggah akaun YouTube Lemhanas RI pada Jumat pekan lalu, Luhut mengungkapkan dapat kritik dari cucu dan anaknya soal Omnibus Law.

Anak cucunya melihat ada kekurangan pemerintah dalam Omnibus Law. Luhut mengakui kekurangan dalam Omnibus Law ini adalah masalah sosialisasi.

IFrame
“Saya juga dikritik sama anak, sama cucu saya, paling kecil di collage, dia bilang ‘opung ini kurang sosialisasi’, dia bilang gitu, dia ngajari saya, ‘siapin satu website orang bisa melihat’. Itu memang kekurangan pemerintah kami akan perbaiki,” ujar Luhut.


Setelah dikritik cucunya, Luhut mengungkapkan empat menteri koordinator berkumpul dan sepakat membuat satu website khusus Omnibus Law.

Busuk tetaplah busuk

Demonstran tolak Omnibus law
Demonstran tolak Omnibus law
Demonstran tolak Omnibus law Foto: Antara

Rocky Gerung menilai bagus-bagus saja Luhut menerima kritikan cucunya soal sosialisasi Omnibus Law tersebut.

Memang pemerintah mengakui mereka mengalami kendala dalam komunikasi publik, khususnya dalam Omnibus Law ini. Beberapa pejabat yang mengakuinya di antaranya adalah Kepala Staf Presiden Moeldoko.

Namun, bagi Rocky, masalah Omnibus Law ini lebih dari sekadar sosialisasi. Substansi Omnibus Law ini lebih penting.

“Bagi aktivis buruh, mahasiswa bukan itu (sosialiassi) masalahnya. Bagi mahasiswa, buruh, aktivis, pakar hukum itu bukan soal sosialisasi tapi persoalannya substansinya. Nggak penting bungkusnya tapi isinya,” kritik Rocky di kanal Youtubenya.

Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia itu mengibaratkan sesuatu yang buruk dipoles sebaik apapun tetaplah hal buruk. Khusus untuk Omnibus Law ini, Rocky menilai wong substansinya saja buruk ya dinamai apapun tetap buruk bagi masyarakat banyak.

“Bunga mawar diberi nama apun ya tetap wangi. Sedangkan Bunga bangkai diberi nama mawar pun tetap bau busuk. Mau dinamai UU Cipta Kerja atau UU Akal-akalan Istana nggak jadi soal, yang penting isinya. Barangnya itu. Kadang kala itu kita anggap nama bagus bisa menutupi isinya,” ujarnya.


Rocky mengatakan upaya pemerintah untuk member nama baik Omnibus Law dengan UU Cipta Kerja nyatanya tetap tak bisa menyembunyikan bau busuk substansi regulasi tersebut.

“Namanya dulu kan UU Cilaka jadi Cipta kerja, tapi isinya kan tetap barang busuk, barang yang sudah diulas pakar akademisi. Kalau soal sekadar sosialisasi, mereka para pakar ini mengulas bendanya, isinya, materinya bukan sosialisasinya, yang memang substansinya buruk,” jelasnya.

Omnibus Law itu bunga bangkai

Filsuf UI Rocky Gerung
Filsuf UI Rocky Gerung
Filsuf UI Rocky Gerung Foto: Antara

Rocky Gerung menganalogikan Omnibus Law ini sama dengan bunga bangkai yang bernama latin Amorphophallus titanum. Namanya terkesan bagus, namun tetap bunga tersebut bau busuk.

“Bunga bangkai itu namanya Amorphophallus titanum padahal itu bunga bangkai, itu sama Cipta Kerja diganti dengan sosialiasinya yang indah ya baunya seperti Amorphophallus. Amorphe itu cacat bentuk, sama (Cipta Kerja) dari awal ini sudah cacat. Itu soalnya,” tutur Rocky.(Jft/REPELITA)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...