12 December 2019

Konkritkan Swasembada Pangan, Ini Saran Rizal Ramli untuk Jokowi

KONFRONTASI- Kritik konstruktif atas manajemen keuangan Pemerintahan Joko Widodo, kembali muncul dari Rizal Ramli. Joko Widodo disebut “tidak all out”, dan justru bergerak menjauhi kedaulatan pangan yang menjadi janji kampanyenya dulu. Tak cuma itu, tudingan juga diarahkan kepada para menteri hingga parpol koalisi yang terbukti mencampakkan Trisakti Bung Karno sehingga gagal swasembada pangan.

Suka atau tidak, era Presiden Joko Widodo, importasi komoditas pangan, cukup deras. Beras, gula , jagung dan garam pun harus impor. Jadi, lupakan saja janji Jokowi soal swasembada pangan.

Ekonom senior Rizal Ramli berbagi jurus untuk mengembalikan kejayaan Indonesia di sektor komoditas pangan. "Mau tidak mau kita harus buka sejuta hektar sawah baru. Tapi, jangan terlalu berpetualang, bereksperimen seperti sawah pasang surut zaman Pak Harto 1 juta. Itu di Kalimantan gagal karena kualitas airnya beda," kata Rizal di di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Sawah baru dengan total satu juta hektar tersebut, kata dia dapat dibuka di sejumlah daerah, yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Memberamo, dan Bangka. "Kenapa dipilih karena satu daerah datar, airnya banyak, matahari bagus. Kita bisa bikin dalam waktu kurang dari 5 tahun," ujar RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

Dengan demikian, akan ada tambahan produksi beras hingga 5 juta ton setiap tahun. "Akan ada tambahan produksi beras 5 juta ton setiap tahun. Kita kalau lagi cuaca panas sekali kita kurang 2 juta ton. Sekarang kita jaga 2 juta ton atau 2,5 juta sudah cukup," tutur mantan Menko Kemaritiman.

"2,5 juta ton kita kasih kredit negara-negara yang perlu bantuan, Afrika, Asia. Kita ubah Indonesia dari importir beras jadi eksportir beras dalam waktu lima tahun," papar mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu.

Selain itu, Rizal mengingatkan tentang pentingnya membuka lahan tebu baru sebagai bahan baku industri gula. Sedikitnya perlu 0,5 juta hektar lahan tebu dengan bibit unggul berproduktivitas 2 kali lipat dari bibit yang ada sekarang. Perkebunannya harus berkonsep integrated farming.

"Perkebunan gula kita tidak hasilnya hanya gula. Bongkahannya bisa diproses jadi etanol dan lain-lain, ternyata penghasilan petani dari yang lain-lain itu bisa lebih tinggi dari pendapatan jual gula. Jadi harus ada integrated farming," papar Rizal.

"Gula aren bagus. Buat tanah sangat bagus dia simpan air. Gulanya juga mengurangi diabetes. Nanti kita bikin kebun gula-gula aren di luar Jawa," lanjut Rizal.

Sementara, untuk meningkatkan produksi jagung, perlu ada tambahan sejuta hektar lahan jagung baru. Ini tentu dapat memenuhi kebutuhan jagung domestik. "Mau tidak mau kita juga harus tanam 1 juta (hektar) jagung lagi supaya kita jadi penghasil untuk makanan ternak. Supaya harga ayam kita stabil," kata dia.

"Bayangan lapangan kerja yang dapat dihasilkan. 1 juta sawah baru, 0,5 juta hektar kebun tebu. 1 juta hektar jagung. Rakyat kita akan banyak pekerjaan," urai dia

(CNN/INl)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...