11 December 2018

Ketika dulu Liem Siok Lan (alumni Informatika ITB 81) dan Hatta Taliwang membujuk Prabowo untuk Revolusi. Apa jawaban Prabowo?

KONFRONTASI -   MEMBUJUK PRABOWO REVOLUSI !

(1)
Pengantar :
Pada Kamis 14 April 2011 di Kantor Pusat GERINDRA di Jalam RM Harsono 54 Ragunan Jaksel,kami dari kelompok yg menamakan diri Dewan Penyelamat Negara(DEPAN) yg antara lain terdiri dr: Mayjen Purn Saurip Kadi, Soeripto, Fuad Bawazier, Ahmad Soemargono, Mardwan Batubara,Yasril Ananta Baharuddin, Justiani, Effendi Choiri,Firman Tenry dan lain2 termasuk saya MHT melakukan Silaturahmi dengan Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,. Judulnya Silarturahmi tp pembicaraan smpa pd gagasan menyelematkan negara, mengingat kepemimpionan SBY saat itu dirasakan sangat tidak memuaskan sehingga sebagian teman teman ada yg "memprovokasi" Prabowo agar ma bersama bergabung dlm gerakan Perubahan Sekarang,SELAMATKAN NEGARA SEKARANG juga. 

Gus Choi alias Effendi Choiri memulai dg memberikan beberapa contoh sebagai indikasi negara gagal seperti yang sekarang terjadi yaitu negara tidak bisa melindungi warganya contoh ABK kita yg disandera, Presiden tidak ada pernyataan, juga Menlu tidak ada komentar. Juga sederetan kejadian yang sudah tidak terkendali oleh negara seperti tawuran di pengadilan, kantor polisi dirusak massa, bom di Polresta Cirebon, daerah-daerah terlantar yang ingin melepaskan diri dari Indonesia, rakyat ditolak berobat ke RS kemudian menyerbu, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah bukti krisis kepemimpinan nasional yang perlu negara segera diselamatkan. 

Kemudian Mayjen Purn Saurip Kadi menambahkan :"sudah sewajarnya kalau DEPAN mengajak Mas Bowo untuk bersama-sama menyelamatkan negara ini.Kalau tidak ada usaha menyelamatkan, yang terjadi justru sebaliknya yaitu NKRI tinggal nama. Sistem semrawut dan pemimpin lemah, yg kebetulan presidennya satu kelas dg saya dan Mas Bowo. “SBY sudah ronde kedua, kebiasaannya mencampur aduk yang salah dan yang benar dalam satu forum sehingga tidak ada keputusan terus dilanjutkan, sejak dulu seperti itu. SBY jago meniti buih, sukses untuk diri sendiri , kalau gagal staf y menanggung. Akibatnya lingkarannya ABS dan itu yang dipasang oleh para mafia yang menguasai semua sektor. SBY adalah boneka yang prima buat para mafia”.
Justiani flash back dari pertemuan delapan mata, antara Deddy Mizwar, Saurip Kadi, Justiani dan Prabowo jelang Pilpres 2009. Nah, apakah setelah pemilu/Pilpres 2009 yang demikian jelas manipulasinya, Gerindra masih mengharapkan adanya Pemil/Pilpres 2014 yang jurdil? Mimpi kali.

Ahmad Sumargono menambahkan setelah sukses dengan memanipulasi IT KPU yang tanpa malu-malu mengkatrol peroleha Partai Demokrat kemudian diulangi dengan kemenangan satu putaran, kini pihak yang sam sedang mberusaha menguasai IT pemilu dengan sistem online menggunakan fingerprint,yaitu Hartati Murdaya dan suaminya, Po Ci Guan, konglomerat Orde Baru yang Baperki in sudah berkoar-koa bahwa Tionghoa boleh masuk tentara, jaksa, dll dengan memberi contoh negara lain seperti Burma, Thailand dll yg pemimpinnya juga bukan penduduk asli. Tampak sekali ambisinya setelah mengeruk kekayaan untuk pribadi, denga menjadikan SBY sebagai “boneka tunggangan” nya. Tampaknya ingin lebih lagi dari itu. Merasa lebih hebat lagi dari SBY, karena meman terbukti dia bisa membayar polisi, tentara, jaksa, hakim, bahkan inteleleje untuk membuat sinetron-sinetron picisan, atas nama Ibu Ratu, yaitu Ani Yudhoyono. Ini laporan teman-teman intelejen yang tidak suka kepada cara-cara mafia kekuasaan yang sudah merajalela di semua bidang.Grass root sudah resah, maka people power tidak dapat dihindarkan. 

Fuad Bawazier dengan singkat, padat, jelas, bahwa HANURA sudah sampai pada kesimpulan untuk menurunkan SB karena tidak mungkin akan ada pemilu 2014 yang jurdil karena justru SBY sekarang sedang melakukan konsolidasi kekuasaan melalui exercise-exercise kekuasaan dengan unjuk kuasa terhadap Antasari, Susno dll.

Marwan Batubara memberi contoh transaksi-transaks yang dikorup para elit itu sudah menjadi rahasia umum. Sebagai contoh dari transaksi batubara yang seharusnya bisa mendapat 150T cuma dapat 60T. Contoh lain (BERSAMBUNG)

MEMBUJUK PRABOWO REVOLUSI !
(2)
Contoh lain 9 Miliar barrel ladang Chevron tahun lalu di Natuna seharusnya jatuh ke tangan Pertamina, ternyat pemenangnya Exxon sementara BUMN cuma dpt sekitar 7%. GERINDR menyuarakan nasionalisasi, stop penjualan BUMN, dan ketahanan energi serta pangan menjadi prioritas, akan terlambat kalau menunggu 2014. 

Firman Tendri aktivis 98 menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa 98 telah berhasil menurunkan Pak Harto, bukan hanya Amien Rais, tapi apa cita2 reformasi 13 tahun jauh dari harapan. NKRI sudah “kropos” dibawah pimpinan SBY, untuk apa dipertahankan? Apa bedanya sekarang atau nanti akan semakin hancur? Berapa ongkosnya? Ongkos politik, ongkos ekonomi, ongkos keamanan, ongkos moral, ongkos kesengsaraan rakyat, ongkos pencitraan, ongkos merekayasa sinetron murahan untuk mengelabuhi rakyat? Negara apaan seperti ini? . Kalau Mas Bowo berani meminta Pak Harto turun, mengapa tidak berani menurunkan Si Kutu Kupret ?
Demikianlah suasana pertemuan. Memang suasana batinnya didukung oleh situasi psikologi massa pada saat itu mengingat kegerahan atas cara SBY mengelola kekuasaan sungguh mencemaskan. Lalu apa jawab Prabowo ? Inilah selengkapnya 

PRABOWO:

"Kehadiran DEPAN membuat saya tidak kesepian.Anda semua tahu saya sejak letkol sudah menyuarakan anti neolib sebagai keseimbangan di jaman orba. Ya saya orba, mantu pak Harto, tapi 98 saya salah satu jenderal yg meminta pak Harto turun. Gus Dur orang pertama yang saya datangi, lalu waktu Habibie mau menyusun kabinet saya surati Habibie agar NU masuk kabinet agar tidak cuma ICMI. 

Dari model pemerintahan, saya sudah secara terang-terangan menentang penjajahan ekonomi. GERINDRA dalam kampanyenya jelas-jelas menolak penjualan BUMN.

Memang benar SBY menawari masuk Kabinet. Namun posisi GERINDRA jelas yakni memberikan sederet persyaratan pegang Kementrian BUMN dan akan menghentikan penjualan BUMN atau Kementrian ESDM dengan syarat menata ulang ladang-ladang minyak, gas, batubara yang menjadi konsesi pihak asing. Atau kementrian Pertanian dengan syarat akan merombak sistem ketahanan pangan dengan swasembada sembako. Apa lagi? Kalau soal SBY tipu menipu, saya rasa itu memang yang disebut politik. . Kita harus siap dibohongi, politik dan perang bisnis itu sama saja, urusan bohong membohongi sudah biasa. Contoh Gus Dur yang bikin PKB dicopot. Apa tidak lucu?

Makanya ketika saya diundang untuk memberi kuliah di UI, disitu hadir para profesor doktor dan mahasiswa, sementara, saya sebagai pelaku, saya praktisi, saya bukan intelektual, tidak punya gelar, di UI teorinya benar tapi tidak ada hubungan dengan realita. Saya tanya kepada mereka “ apakah di Fakultas Ekonomi Manajemen, teknik menyogok pejabat di Indonesia diajari tidak? Ilmu politik mengajari tidak tentang serangan fajar dalam Pemilu? 

Bahwa kita menuju “failed state” itu adalah pidato saya 5 tahun lalu. Sistemnya salah.
SMI pernah meledek angka2 indikator ekonomi yang disampaikan GERINDRA, tapi tidak bisa membantah karena diambil dari BPS. Jadi kelihatan sekali banyak yang tidak sinkron satu sama lain. Misalnya data angka kemiskinan dengan jumlah BLT yang disalurkan, Pendapatan dari minyak dengan pengeluaran untuk membeli minyak mentah plus subsidinya juga tidak sinkron, dan masih banyak yang lain. SMI mentertawakan ekonomi kerakyatan. Apa itu ekonomi kerakyatan? Tidak ada dalam Ilmu Ekonomi yang diajarkan di Kampus-kampus di Barat. Namun SMI hanya corong kepentingan asing. 

Sejak aktif di TNI dulu saya sudah melihat campur tangan asing, misalnya soal Timtim, Papua, Aceh, dll. Bahkan sejak 80an saya sudah teriak2 kekayaan negara dinikmati sedikit orang sampai saya sempat diusir dari Cendana. Namun tidak ada kesadaran nasional tentang kesalahan ini. Pada waktu situasi sudah amat represif, bahkan saya dituduh tidak setia ketika meminta pak Harto turun. 

Skenario untuk menyelamatkan negara?
Semua skenario ujungnya Pemilu. Karena kita memilih demokrasi. Dengan segala kekurangannya. Yang kita mau demokrasi yang substansial.(BERSAMBUNG) 

MEMBUJUK PRABOWO REVOLUSI !
(3)

Katakanlah kita revolusi, juga ujungnya pemilu. Libya, Mesir, Tunisia dll ujungnya juga pemilu. Karena kekuasaan harus dengan seijin rakyat. Maka mari menyelamatkan negara dengan pemilu. Siapkan kader yang akan mengawasi TPS, taruhlah ada 600 ribu TPS maka perlu sekitar 2 juta kader kalau setiap TPS kita pasang 3 orang pengawas agar tidak curang. Kalau soal kecurangan Pemilu, mana ada yang tidak curang di indonesia ini. Sepakbola saja curang sampai rebutan gak karuan.

Di Indonesia ini, elite sudah tahu sama tahu, kita sudah lama jadi orang Indonesia. Bagaimana harus pakai2 pencitraan, untuk apa, kita sudah tahu sama tahu kok. Kelakuan satu per satu, kebaikan dan keburukannya, bahkan dosa-dosanya. Buka2an saja sesama elit kan sudah tahu sama tahu. Apa yang mau dicitrakan. Kalau untuk menipu rakyat ya akan menjadi bahan omongan sesama elite yang sudah tahu kartunya. Untuk apa. Lebih baik fokus kepada Kerja keras dan kerja pintar untuk menata partai sebagai kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan secara sah.

Kita ini kan pejuang sejak letnan. Sekarang dikasih umur 60 tahun tidak surut.
Sejarah sudah mencatat saya pada 1998 dimana saya memegang perangkat kekuasaan meliputi 34 batalyon, Kodam Jaya, Siliwangi, Marinir ada di pihak saya. Namun saya tidak ingin TNI meninggalkan UUD. Saya datang ke pak Habibie, saya tanya apa benar ini perintah bapak untuk mencopot saya? Habibie jawab: “benar”. Saya minta waktu seminggu untuk mempersiapkan serah terima sebagaimana lazimnya, karena harus ada proses penghitungan senjata dll logistik untuk dinotakan dalam serah terima. Itu prosedur militer di seluruh dunia. Namun Habibie meminta agar serah terima hari ini juga. Begitu khawatir kalau saya melakukan kudeta dengan kekuasaan yang saya pegang. Minta waktu untuk serah trima dengan memori serah trima, tidak dikabulkan, Bayangkan bagaimana saya begitu ditakuti waktu itu, karena saya pegang kendali, dan saya dipecat, saya seorang jenderal. Tapi saya mau kasih pelajaran sama adik2 saya, TNI tunduk kepada UUD, saya tidak ada perlawanan. Kata2pun tidak ada, sakit hati dll tidak ada. Itu adalah bagian dari dinamika kenegaraan. Padahal kita yang menjadikan Pak Habibie jadi presiden. Ya itulah bagian dari sejarah bangsa ini. Jadi kalau SBY takut sama ICAL atau sama saya sekalipun itu wajar-wajar saja dalam dinamika perpolitikan. Yang penting mari kita ingat apa yg kita buat akan menjadi pelajaran bagi generasi yad. Jangan meninggalkan konstitusi. Saya tidak mau ikut.
Saya sependapat bahwa bisa terjadi “people power” kalau rumput kering kerontang. Bila revolusi terjadi di Indonesia, negara2 besar akan manfaatkan untuk Indonesia pecah. NAD, PAPUA, dll memisahkan diri. 

Soal Pemilu curang luar biasa, saya juga paham. Waktu itu juga sudah menggugat ke MK bersama Kubu JK-W. Namun MK juga sudah diintervensi. Ibarat main sepakbola wasit curang dll curang ujung2nya tawuran. Dampaknya kan terlihat sekarang ini, bola panas terus menggelinding. Namun, saya sudah telanjur memilih jalan demokrasi. Waktu itu saya Pangkostrad, kalau mau kudeta sangat bisa, tapi tidak saya lakukan, malahan saya difitnah. Kalau ya kan sudah terjadi, mudah sekali. Tapi itulah bagian dari sejarah bangsa kita. Bagaimana saya mau berkuasa diatas senjata? Di ujungnya tidak akan bertahan. Kekuasaan harus datang dengan ijin rakyatnya. Ujung-ujungnya Pemilu. Jadi saya tidak mau ganggu SBY ditengah jalan. Alasan lain karena negera kita begitu lemah dan dikelilingi harimau2 yang lapar mengincar kekayaan negeri kita. 

Saya sependapat bahwa kondisi politik memang parah, para elite bagai pelacur intelektual, pemimpin politik yang ignorance (tidak peduli), rakyat kita mudah diiming-imingi karena terbelit kemiskinan, pertanyaannya bisa kah kita bikin aliansi besar? Seperti Aliansi politik di USA hanya ada dua kekuatan sehingga proses demokrasi bisa disederhanakan. 

Tapi saya sepakat harus ada deterent. Kalau perlu dengan people power. Tapi itu kalau perlu saja.......Yakinlah rakyat tidak bodoh.

MEMBUJUK PRABOWO REVOLUSI !

(4/ PENUTUP)

Contoh peristiwa Mbah Priuk, selama 6 jam Polisi tidak berani masuk ke areal yang dikuasai rakyat. 

(Menanggapi pernyataan Firman
Tendry) Prabowo melanjutkan ;

"Jangan dikira bahwa reformasi 98 oleh gerakan mahasiswa, apalagi oleh Amien Rais saja. Terlalu naif itu. Ada kekuatan besar yang bekerja. Kita tidak bisa menyederhanakan persoalan seolah ada gerakan mahasiswa yang berhasil menurunkan Pak Harto. Banyak sekali faktor." 

Baiklah kita komunikasi terus, jangan berhenti sampai disini, GERINDRA terbuka untuk para tokoh DEPAN untuk memperjuangkan cita-cita NKRI sebagaimana sudah tertuang dalam Maifesto GERINDRA dalam buku yang sudah dibagikan. Programnya jelas. Tidak perlu diragukan. Tempat ini terbuka untuk rekan-rekan DEPAN untuk berjuang menegakkan NKRI". (M.HATTA TALIWANG/LIM SIOK LAN als JUSTIANI/DEPAN NEWS)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...