19 April 2019

Jokowi Tak Bisa Buang Badan Kasus OTT Rommy

Oleh: Nasrudin Joha

 

 

Publik masih ingat, betapa karibnya persahabatan Presiden Jokowi dengan Rohmamurozy (Rommy) Sang Ketum PPP yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Bahkan, dibeberapa kesempatan Rommy nampak begitu akrab berinteraksi dengan Jokowi.

Berbagai pose foto kebersamaan Jokowi - Rommy, beredar luas di lini masa jejaring sosial media. Netizen, begitu gesit menghadirkan 'momen kemesraan' antara Rommy dan Jokowi yang rasanya, baru kemarin terjadi.

Rommy memang agak sial, bukannya mendapat dukungan moril dan bela sungkawa atas musibah yang menimpanya, TKN Jokowi justru mengkapitalisasi penetapan tersangka Rommy sebagai prestasi Jokowi. Bahkan, dimunculkan istilah yang hiperbolis 'hukum tajam keatas'. Sebuah prosa yang terlalu berhalusinasi.

Rommy sendiri sadar, kariernya sudah tamat. Tidak saja di TKN, kubu Jokowi, juga diinternal PPP. Kader partainya, pasca penetapan tersangka ini akan berebut tulang dunia, menengadah keatas untuk merebut bola jabatan Ketum PPP.

Faksi-faksi PPP yang pernah disingkirkan, loyalis Suryadharma, akan bertarung dan mencoba mengambil alih kendali. Secara politik, posisi PPP sudah diujung tanduk. Seberapa dingin pun pemegang kekuasaan partai penerima singgasana Rommy, kejatuhan PPP sudah sulit diselamatkan.

Yang disayangkan tentu kubu Jokowi, setelah Rommy berikan apapun yang dibutuhkan, sampai PPP yang dikenal partai Islam mengusung Ahok sang penista agama di Pilkada DKI Jakarta, ternyata setelah habis manis sepah dibuang. Rommy, saat ini hanya residu politik. Sulit, untuk mengais gain politik -dari kamera dengan sudut pandang apapun- ihwal posisi Rommy.

Jelas, posisi Rommy menggerus elektabilitas Jokowi. TKN Jokowi sedang mengkalkulasi seberapa besar dampak destruktif kasus Rommy bagi elektabilitas Jokowi, sambil terus mencari saluran kanalisasi agar kelakuan Rommy tidak dipersepsikan sebagai karakter Jokowi.

Jurus paling awal diluncurkan, kedukaan dan nestapa Rommy dikapitalisasi menjadi prestasi penegakan hukum Jokowi. Padahal yang OTT itu KPK, kok diklaim prestasi Jokowi ? Udah, Amiiin aja biar cebong senyum kegirangan.

Hari hari Kedepan akan sangat sulit bagi Rommy. Argumen awal untuk buang malu, Rommy bisa menyanyikan lagu 'dijebak'. Paling tidak untuk bedak muka, agar tidak terlalu bopeng dalam kasus ini.

Hari berikutnya, sudah saatnya Rommy terbuka. Menyanyikan lagu merdu, menyebut nama sesuai urut kacang dan sesuai peran. Tidak perlu menjadi mafia sejati yang mengambil alih semua tanggung jawab dan menutupi peran pihak lainnya. Toh, OTT itu selalu diawali dengan penyadapan. KPK juga sudah tahu siapa saja yang terlibat.

Kembali ke Jokowi, kenapa Jokowi diam ? Tidakah Jokowi memiliki kewajiban moral untuk mengunggah rasa prihatin dan duka yang mendalam atas musibah yang dialami Rommy ? Ingat ! Kena OTT KPK itu musibah, bukan kesalahan. Faktanya, semua pejabat itu terlibat kasus korupsi. Tinggal nunggu giliran saja.

Sekali lagi kepada Pak Jokowi, janganlah melupakan kebajikan Rommy. Dia (baca: Rommy) telah melakukan banyak hal dan berkorban dengan ukuran yang besar untuk pencapresan Pak Jokowi. Jika tidak bisa membantu, janganlah buang badan seolah Pak Jokowi tidak pernah kenal dan dekat dengan Mas Rommy.

Pak Jokowi, meminjam istilah Bung Roma, Anda sungguh terlalu ! (Jft/MO)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...