16 October 2018

JK, ya Sudahlah !

Oleh : Aznil

 

 

Banyak japri masuk ke WA saya ketika 76 organ relawan dan ormas dalam Pekan Jokowi  ke 1 merumuskan kriteria dan sosok cawapres pendamping  Jokowi 2019. Ada yang memandang sinis atas kegiatan kami lakukan namun banyak juga  memberi apresiasi atas keberanian Poros Benhil tidak pasrah pada kehendak sekelompok elit politik menentukan arah Indonesia.

Yang menarik pernyataan pencibir kegiatan Pekan Jokowi mengatakan Pekan Jokowi adalah pekerjaan sia-sia. Karena yang akan jadi cawapres Jokowi masih tetap JK 2019 nanti. 

Bukan bermaksud mengabaikan kekuatan politik JK dan logistiknya, namun karna berdasarkan UU No 7/2017 tentang Pemilu Pasal 169 huruf n dan Pasal 227 huruf (i) menentukan bahwa pembatasan jabatan capres dan wapres hanya boleh dua kali masa jabatan.  Adapun pihak JK melakukan gugatan tapi Mahkamah Konstitusi (MK) telah menolak pada akhir Mei 2018  yang lalu. 

Nampaknya JK tidak putus asa. Melalui Partai Perindo menggugat  kembali syarat menjadi cawapres diatur UU Pemilu tersebut ke Mahkamah Konstitusi. JK pun secara terang-terangan meminta MK agar gugatan yang diajukan Perindo itu dijadikan prioritas dan diputus sebelum pendaftaran capres-cawapres. Konon kabarnya akan diputuskan tanggal 25 Juli 2018. 

Namun publik memandang bahwa langkah dilakukan JK melalui orang-orangnya mengugat uji materi masa jabatan Wapres di Mahkamah Konstitusi adalah sebagai bentuk masih tingginya hasrat JK maju kembali dalam pemilihan Presiden 2019 meskipun telah 2 kali menjabat sebagai wakil presiden.

Hak konstitusional sebagai warga negara adalah sah-sah saja. Namun yang tidak bisa dipahami oleh generasi baru sekarang adalah  kenapa panggung negara ini masih dikuasai oleh orang-orang tua jumpo bermuka lama? Apakah bangsa ini kekurangan kader baru yang potensial menenentukan masa depan negara ini? Apakah orari lebih canggih dari smartphone? Apakah generasi muda terbentuk sekarang ini adalah generasi sampah? Prestasi sehebat apakah dibuat oleh generasi tua itu pada republik ini maka generasi muda dianggap tidak mampu melakukannya?  Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat generasi muda emosional kepada generasi tua tersebut. 

Masih ingat oleh kami pada tahun 1998, kami waktu itu masih berstatus mahasiswa berumur 20-an turun ke jalan  menumbangkan rejim Soeharto dimana waktu itu Wiranto adalah 
Pangab (Panglima ABRI). Meskipun sudah 20 tahun berlalu tetapi Wiranto masih tetap eksis menguasai panggung negara ini mengisi posisi strategis pada setiap pergantian presiden.

Begitu juga JK, setahun reformasi di era presiden Gusdur telah mendapat posisi menteri kemudian di era Presiden Megawati  kembali diberi jabatan menteri. Pada tahun 2004 - 2009 dan 2014-2019 menjadi Wakil Presiden.

Meski JK sudah berumur 76 tahun tetapi tidak melemahkan sahwatnya untuk kembali menjadi Cawapres 2019 walau sudah ada undang-undang hanya membolehkan 2 kali periode. Prediksi,  dengan logistik JK yang kuat tidak mustahil gugatan "orang suruhan JK" tersebut bisa menang di MK dan JK kembali bisa mencawapres dengan Jokowi 2019 atau dengan pasangan lainnya. 

Jika ini terjadi adalah kematian alih generasi.
Generasi tua yang masih eksis menguasai panggung sekarang jangankan untuk bisa diminta prestasinya kepada republik ini, malah boleh dinyatakan kebanyakan adalah orang-orang bermasalah yang membuat bangsa dan negara ini tersandera. 

Tidak mustahil generasi muda lama-lama muak pada generasi tua yang masih tetap terus ingin menguasai panggung negara ini. Bagaimana tidak, sejak dari pakai kancut dan sekarang sudah berkepala empat masih tetap saja panggung dikuasai kelompok tua dan berwajah lama. Kapan giliran arus generasi baru dapat panggung?

Akhir kata, saya menghimbau, "Pak JK, ya sudah lah!" (Jft/

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...