18 October 2018

Hariman Siregar: Hati-Hati Menyikapi isu Radikalisme di Perguruan Tinggi

KONFRONTASI- Tokoh Malari 1974 dr Hariman Siregar menyatakan semua pihak mesti hati-hati menyikapi soal radikalisme. Hariman mengaku dirinya termasuk yang keberatan dengan adanya istilah ‘kampus sarang radikalisme’. “Kampus justru yang akan mengatasi radikalisme, percaya ama saya,” kata Hariman, mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI.

Hariman kemudian mengingatkan pentingnya empat hal dalam negara demokrasi, yaitu penguatan civil society, Law enforcement, media massa yang bebas serta tidak memihak, serta Parpol yang kuat dan benar.

Dalam sejarah politik Indonesia, kata Hariman, aliran yang ingin mendirikan syariat Islam saja selalu kalah bersaing. Karenanya dia tidak khawatir paham radikalisme akan berkembang di Indonesia.

“Kalau ada yang radikal ini mau merebut negara tidak sesuai konstitusi, masak TNI-Polri gak berani (menindak), saya aja berani,” kata Hariman dalam diskusi oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK). Kali ini PGK  menyelenggarakan diskusi dengan tema “Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas”. Diskusi aktivis lintas generasi ini diselenggarakan di Aula DPP PGK, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (11/6).

Dalam pembukaan, Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi mengatakan, radikalisme dapat tumbuh karena kurangnya pemahaman  atau gagal paham generasi muda tentang Pancasila. Padahal, Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia.

“Pancasila harus hadir dalam keadaan nyata, dalam sistim politik, ekonomi, sosial dan keteladanan harus berlandaskan Pancasila,” ujar Bursah.

Jangan jadikan kampus seperti rumah mati, kata Bursah, agar radikalisme tidak dapat berkembang di lingkungan universitas. Karena seiring dengan derasnya arus teknologi, mahasiswa dapat belajar tindakan radikalisme secara otodidak dan tidak terkontrol.

“Kita tidak ingin kita seperti negara Timur Tengah macam Suriah dan Irak, Pancasila sudah cocok dengan Indonesia,” katanya.

Namun Bursah yakin, kampus yang diduga telah terpapar paham radikalisme dapat mengatasi masalah itu sendiri, dengan melibatkan sejumlah pihak. Ia berharap tidak ada intervensi petugas, dalam mengatasi paham radikalisme yang berkembang di sejumlah kampus.

Acara yang juga diisi dengan buka puasa bersama ini diikuti oleh ratusan peserta dari kelompok Cipayung Plus dan BEM. Sejumlah tokoh nasional dan inteligensia pergerakan juga turut hadir dalam acara diskusi ini, diantaranya ialah Yorrys Raweyai, Karyono Wibowo dan Herdi Sahrasad.

Hasil gambar untuk hariman siregar

Sementara itu, Kabaintelkam Polri Komjen Pol Lutfi Lubihanto mengatakan, Polri beruntung memiliki Kapolri seperti Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian. Pasalnya, Tito dapat secara cepat menangani ketika aksi terorisme itu terjadi.

Menurut Lutfi, ada anak muda dan mahasiswa menjadi target radikalisme, salah satunya ialah pencarian jati diri. Selain itu, keadaan dan keharmonisan keluarga juga berperan penting dalam pembentukan karakter seorang pemuda.

“Mereka mendapat informasi yang didapatkan dalam sosial media dan kelompok orang yang ingin mengintervensi remaja itu dengan paham-paham terlarang,” jelasnya.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Polri, BNPT dan BIN. Langkah antisipatif penyebaran radikalisme ini penting dan harus berjalan dengan baik, agar suasana kampus juga dapat terus terjaga.

“Tujuan utama kampus ialah menghasilkan keluaran yang profesional, yang dapat menjaga kredibelitas dan menjaga imagenya,” katanya.

Arif mengaku khawatir dengan disebutnya IPB sebagai salah satu kampus yang terpapar radikalisme. Apalagi sebentar lagi, penerimaan mahasiswa baru akan dilaksanakan.

“Karena itu saya selalu koordinasi dan support betul BNPT, BIN, Polri dan pemerintah untuk bisa sama-sama tangkal radikalisme, dengan cara yang brilian dan elegan, agar itu berjalan efektif. Beri kepercayaan kampus menyelesaikan masalah ini,” tandasnya. (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...