16 August 2018

Gagasan Rizal Ramli dan Masa Depan Indonesia

KONFRONTASI- Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Rizal Ramli (RR) menanggapi isu Indonesia Bubar di 2030  secara sangat elegan dan cerdas.Melansir dari akun Youtube Indonesia Lawyer Club tvOne, Rizal Ramli hadir pada acara tersebut bersama politikus lainnya

Menurutnya, di masa depan bisa terjadi apa saja. Bisa berbentuk positif maupun negatif..

"Yang mengerti ilmu ini, melakukan apa yang disebut sebagai simulasi. Hasilnya akan begini kalau begini," ujarnya.

Sebagai contoh, Rizal Ramli memaparkan prediksi ekonomi Indonesia tahun 1997-1998.

"Kita katakan tahun 1997 sebagai The Year of Uncertantity. (Hal itu) dibantah oleh analis luar negeri dan dalam negeri. Dibantah oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Central," katanya.

Prediksi tersebut dilakukan Rizal Ramli menggunakan tiga indikator sederhana.

Yang pertama adalah defisit Indonesia yang sudah besar dan kemudian mempengaruhi anjloknya Rupiah.

Yang kedua adalah hutang swasta Indonesia yang sudah keterlaluan.

Prediksi tersebut kemudian benar terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998.

"Dan benar itu rontok semuanya, Indonesia yang disebut paling kuat di Asia Tenggara malah paling jebol dibandingkan Thailand, Malaysia, dan lain-lain."

Menurutnya pembahasan isu Indonesia bubar di 2030 adalah hal yang bagus. Dalam kaitan ini, Teknokrat senior Rizal Ramli PhD mengingatkan pemerintah  dan masyarakat bahwa  Indonesia harus bangkit dan harus tumbuh 9%-12%  kalau kita ingin  sejahtera,adil, maju dan jadi besar seperti Jepang dan China RRC.. Kalau pertumbuhan hanya 5%, stagnan begini terus, maka sampai 2030 Indonesia hanya jadi negara tertinggal di Asia, dan banyak rakyatnya tetap miskin. Bahkan Indonesia makin tertinggal dari Vietnam kalau stagnasi ekonomi di 5% terus berlanjut. Harus ada reformasi, gebrakan Rajawali untuk mewujudkan kebangkitan Indonesia. Dalam dialog  ILC TV One Selasa malam (3/4), Rizal Ramli secara implisit siap memimpin rakyat kita  dengan tekad pertumbuhan 9-12% agar Indonesia adil, makmur, maju dan kuat, dengan cara meninggalkan kebijakan pengetatan, austerity ala Bank Dunia/IMF yang sangat konservatif.  Rizal Ramli menyiapkan strategi kreatif dan inovatif.

Karena bagaimanapun warga Indonesia harus melihat Indonesia 30 dan 50 tahun kemudian.

"Cuma saya sedih sekali, level pembahasannya memalukan. Makin lama makin tidak intelek, debatnya semakin norak," tuturnya.

Mantan Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid itu mengatakan Indonesia seharusnya bisa lebih mampu daripada berdebat tanpa intelek.

"Tapi masalah di Indonesia selalu dilihat, Prabowo anti Jokowi, semua diframe dalam konteks itu," katanya.

"Saya sih sedih dan ngenes. Kok kualitas debat di sosial media, mohon maaf, norak," tambah Rizal Ramli.

Ia juga mengatakan perdebatan bukan tertuju pada konten tetapi kepada personal.

Negara yang hilang, kata Rizal Ramli, bisa saja terjadi.

Hal tersebut bukan dongeng.

"Soviet Rusia itu bubar karena memiliki pemimpin yang lemah."

Pemimpin tersebut tidak dapat mengendalikan ketika muncul masalah ekonomi-politik dan masalah Negara di Asia Tengah yang memisahkan diri.

"(Negara lainnya) Suriah, Libya, Yugoslavia," ujarnya.

Penyebab perpecahan menurut RR : 1. Isu agama 2. Intervensi asing (perebutan SDA o/asing) 3. Tidak menghargai sejarah (Kesultanan Tidore) 4. Kepemimpinan lemah, weak leadership, namun kepemimpinan kuat tidak harus jenderal atau militer. Para analis menilai, RR tipikal kepemimpinan kuat dan berkarakter juang.

RR sangat concern soal utang karena naik berlipat-lipat sedangkan petumbuhan ekonomi stagnan.Teknokrat senior Rizal Ramli PhD mengingatkan pemerintah  dan masyarakat bahwa  Indonesia harus bangkit dan harus tumbuh 9%-12%  kalau kita ingin  sejahtera,adil, maju dan jadi besar seperti Jepang dan China RRC.. Kalau pertumbuhan hanya 5%, stagnan begini terus, maka sampai 2030 Indonesia hanya jadi negara tertinggal di Asia, dan banyak rakyatnya tetap miskin. Bahkan Indonesia makin tertinggal dari Vietnam kalau stagnasi ekonomi di 5% terus berlanjut. Harus ada reformasi, gebrakan Rajawali untuk mewujudkan kebangkitan Indonesia.

Tokoh nasional Rizal Ramli [RR]  menyadari dan mengingatkan bahwa tugas pemerintah Jokowi adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan dan yang lebih penting adalah tingkat kesejahteraan rakyat, bukan semata produk domestik bruto [ GDP] 1 trilyun dolar AS.

‘’Hari ini kita boleh bangga bahwa GDP Indonesia 1 trilyun dolar AS, tapi GNP kita lebih rendah karena banyak kontribusi orang asing di dalamnya. Tapi kalau GDP kita dibagi 260 juta penduduk Indonesia maka GNP kita hanya 3600 dolar AS. Kita itu terndah dibandingkan Malaysia 10 ribu dolar AS [nyaris tiga kalinya], Thailand 6000 dolar AS nyaris dua kalinya, Singapura 53ribu dolarAS- nyaris 15 kali kita. Jadi, selain besarnya GDP penting, yang jauh lebih penting adalah tingkat pendapatan dan kesejahteraan rakyat. Jangan dilupakan hal ini.  Nah tahun 2030 ada beberapa cara dalam melihat  proyeksi ini, dan ada yang menggunakan purchasing parity power, bukan makai nominal dolar. Hitungan begini tak semua setuju, karena dalam membeli satu burger di Indonesia dengan dolar, maka akan berbeda dengan dolar AS di negara lain, termasuk dampaknya dan sebagainya. Saya mohon maaf debat soal purchasing power parity itu banyaklah dan terus berlangsung,'' kata RR, mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman dalam dialog di TV One Selasa malam [3/4]

 

 

''Masyarakat, juga saya juga tak percaya Price Water House dan accounting house  semacamnya  karena dalam membikin ramalan/prediksi untuk  menghitung soal itu, mereka bukan ahlinya,  apalagi kemarin kasih penghargaan ke Menkeu siapa itu untuk pencitraan belaka dan ternyata semua indikatornya  ngawur semua. Sehingga tidak bisa dipercaya,''ujarnya

 

 

Nah, imbuh RR, kalau kita gunakan nominal dolar AS menurut Center for Economic and Business Research, London-Inggris. GDP Indonesia naik menjadi dua setengah [2,5] trilyun dolar AS pada 2030 dengan syarat ekonomi tumbuh 9% selama 12 tahun [2018-2030].   Tapi jangan lupa untuk mencapai GDP 2,5 trilyun dolar AS itu asumsinya pertumbuhan ekonomi Indonesia 9% selama 12 tahun dari 2018-2030. ‘’Hari ini  GDP Indonesia 1 trilyun dolar AS, GDP kita pada 2030 menjadi 2,5juta trilyun dolar AS kalau ekonomi Indonesia  tumbuh 9% selama 12 tahun itu,’’tegas RR.  

Faktanya, kata RR, ternyata  kita hanya tumbuh 5%, stagnan, there is no way to reach 2,5 trilyun dolar AS. Kalau tumbuh 6% maka GDP 1,9 trilyun dolar AS masih bisa ok. Tapi begitu dibagi 300 juta penduduk Indonesia, ternyata GNP kita naik nggak jauh, dari 4000 jadi sekitar 6000 dolar AS..

Hari ini Indonesia, ungkap RR,  ranking ke-16 di dalam hitungan GDP tadi. ‘’Kalau kita hanya tumbuh 6% maka pada 2030 kita masih di rangking 16 dalam ranking GPD dunia kalau kita menggunakan nominal dolar AS. Tapi kalau pertumbuhan ekonomi 9% selama 12 tahun maka GDP kita naik dua setengah kali menjadi sekitar 7500 dolar AS dengan pertumbuhan 9% selama 12 tahun itu [2018-2030] dan ranking kita naik dari hari ini ranking ke-16 menjadi  ke -11,’’ kata RR. Hanya dengan pertumbuhan 8-12% per tahun selama 2019-2024 maka bangsa Indonesia bisa maju adil, makmur, kuat dan disegani dunia.

Soal utang RI yang sudah US$357 milyar atau lebih, maka Debt Services to Export Ratio (DSR) terkait utang itu harus diperhatikan. DSR  adalah rasio antara total bunga dan cicilan pokok utang suatu negara  dibagi dengan total ekspor suatu negara. Rasio ini menggambarkan kesanggupan suatu negara melunasi membayar kewajiban utangnya setiap tahun berbasis pada pendapatan ekspor negara tersebut. Rasio ini kami pandang jauh lebih masuk akal dalam membandingkan kemampuan bayar utang suatu negara dibandingkan dengan rasio yang umum digunakan, yaitu rasio total utang suatu negara terhadap PDB.

Bagi negara-negara berkembang, berdasarkan Debt Services Framework (DSF) IMF dan Bank Dunia ditetapkan batas (threshold) atas yang aman untuk rasio debt services terhadap ekspor adalah sebesar  25 persen, sedang Indonesia kini 39- 40%.. Di bawah ini ditampilkan grafik yang menunjukkan besar rasio dari delapan negara berkembang di kawasan  Asia Tenggara -dua negara di kawasan, Brunei dan Singapura, tidak termasuk karena dikategori negara maju atau berpendapatan tinggi.
 
Terlihat, dari negara-negara peer, sesama negara berkembang (developing countries)di kawasan Asia Tenggara, Indonesia memiliki rasio debt services terhadap ekspor yang tertinggi, mencapai 39.6%. Nilai ini jauh melewati batas aman rasio berdasarkan DSF IMF dan Bank Dunia yang sebesar 25%. Dengan kata lain sebenarnya Indonesia sudah masuk “lampu merah”, sedangkan  tujuh negara peer lainnya (Kamboja, Myanmar, Thailand, Filipina, Laos, Malaysia, dan Vietnam) masih sangat aman, alias “lampu hijau”.
Hasil yang serupa juga diperoleh bila Indonesia dibandingkan dengan sesama negara-negara berpenduduk besar di kawasan Asia, seperti China, India, Pakistan, dan Bangladesh. Dapat dilihat pada grafik di di atas*, rasio debt services terhadap ekspor Indonesia masih yang tertinggi di antara kelima negara berpopulasi terbesar di kawasan Asia.

Jadi,kesimpulannya: dibandingkan dengan negara tetangga  di Asia Tenggara maupun dengan sesama negara berpopulasi besar di kawasan Asia Pasifik, Indonesia tetap masuk “lampu merah” dalam hal kemampuan bayar utang berbasis ekspor.[***]

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...