22 July 2018

Cegah Krisis Beras, Rizal Ramli Minta Dirut Bulog Diganti

KONFRONTASI - Ekonom senior DR. Rizal Ramli meminta  Pemerintah segera mengevaluasi kinerja Perum Bulog yang dinilai gagal menjaga stabilitas harga beras. Bila perlu, Presiden Joko Widodo mengganti Dirut Perum Bulog Leny Sugihat yang dinilai tidak bekerja dengan baik untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

Rizal Ramli yang terbilang berhasil saat memimpin Bulog di era Abdurrahman Wahid mengatakan, pemimpin di Bulog harus mengamati dari dekat hasil panen padi, cadangan beras dan fluktuasi harga.

Dia mencontohkan apa yang dikerjakannya saat menjadi Kepala Bulog.

"Komputer saya di atas meja on terus untuk memantau harga beras. Kalau naik Rp 50 saja, warnanya jadi kuning. Itu berarti harus hati-hati. Kalau naik Rp 100 warnanya berubah menjadi merah, dan di saat itu saya perlu mengambil tindakan," cerita Rizal Ramli dalam talkshow di sebuah stasiun televisi Selasa petang (10/3).

"(Kalau merah) saya akan bertanya kepada pejabat Bulog bersangkutan, mengapa terjadi kenaikan. Apabila mereka bilang ada pemain yang mencoba mengganggu pasar, maka saya akan perintahkan agar Bulog membanjiri daerah itu dengan beras, sehingga spekulan dan mafia yang mau ambil untuk jadi buntung," sambungnya lagi.

Sementara, yang saat ini terjadi, harga beras naik rata-rata Rp 500, dan pemerintah baru bereaksi setelah rakyat berteriak.

Rizal mengatakan, Dirut Perum Bulog Lenny Sugihat adalah orang yang baik, namun tidak cukup pas untuk duduk di posisi itu. Sebelum ditunjuk Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi Dirut Perum Bulog awal tahun 2015 ini, Lenny adalah Direktur Pengendalian Risiko PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

"Ibu Lenny seorang bankir yang baik dan profesional. Tetapi kelihatannya Bulog bukan tempat yang pas untuknya," masih kata Rizal Ramli.

Rizal Ramli sudah menyampaikan permintaan ini kepada beberapa pihak di dalam istana. Menurut informasi yang diperolehnya, Presiden Jokowi juga sudah mendengar dan meminta agar kinerja Bulog segera dievaluasi.

Selain soal harga beras, Rizal juga menyoroti kegagalan Bulog mematok harga beli gabah dari petani. Menurut dia, seharusnya pemerintah mengumumkan berapa beras yang akan dibeli Bulog pada masa panen. Dengan demikian petani dapat memutuskan berapa dari hasil panennya yang mau dijual atau dikonsumsi sendiri.

Misalnya, pemerintah mematok harga beli gabah dari petani sebesar Rp 4.500 per kilogram. Tetapi karena tidak disosialisasikan dengan pas, spekulan masih bisa bermain dan memaksa petani menyerahan gabahnya dengan harga di bahwa itu.

Akhirnya yang untung bukan petani, tetapi tengkulak dan spekulan,” sambung Rizal Ramli.

Hal lain yang sulit diatasi Lenny adalah permainan mafia beras yang mengaku-ngaku dekat dengan pusat kekuasaan.[rm/ian]

Category: 
Loading...