Ben Anderson dan Gus Dur dalam Cerita Kenangan Amrih Widodo, Rizal Ramli dan Akademisi Paramadina Ini

Oleh Herdi Sahrasad, Dosen Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina

KONFRONTASI- Beberapa hari lalu, saya tergelak-gelak mendengar ingatan Simon Saefudin, sahabat saya ketika ‘’nyanteri’’ di padepokan Prof Benedict Anderson, Cornell University, Ithaca, New York, 1994 dulu. Sebagai anak muda gelandangan intelektual/ aktivis proletar- marginal  dan  peserta pesantren kilat ala Ithaca musim gugur 1994, kami  suka ngobrol soal yang lampau di kampong pak Ben itu. Simon, alumnus LEAD Institute New York dan Fisika UGM dan  pasca sarjana Univ.Trisakti yang rada ‘’sableng’’, kalau pun tak ‘’gendeng’’ itu, bilang masih banyak obrolan Pak Ben Anderson yang bikin kita tergelak-gelak. ‘’Itu lho di kamar tidurnya, lu inget nggak, banyak buku soal seksualitas utk orang dewasa yang bikin penasaran gue,’’ kata Simon, mantan jurnalis koran Republika. Ada cekikik di HP-nya, gelak yang pecah.

 

 .   Mungkin gambar 4 orang, termasuk Tm Luthfi Yazid, orang berdiri dan dalam ruangan

Kenangan Ithaca: Dari kiri: Simon Saefudin, Prof. Benedict Andersen, Herdi Sahrasad, Lutfi Yazid di rumah Pak Ben, ithaca, NY, USA (1994)

Pada tahun 1994, kami masih anak muda belia yang bandel plus badung. jadi ''santri''- nya Pak Ben. Ben Anderson sudah memasak ayam opor, nasi putih, kue roti dan menyiapkan teh manis/kopi untuk kami guna ‘’diskusi/ngaji’’ bebas sampai tengah malam pukul 02.00. 
Ben Anderson mengaku senang bahwa sekitar setahun lalu (pada 1993), dia bertemu banyak teman (tamu) dari Indonesia. Lalu saya ingat cerita akademisi Mas Amrih Widodo pada wartawan ‘’TEMPO’’ tahun 2015 tentang hal itu, peristiwa 1993 di Cornell dan Wisconsin itu

Ben Anderson, Tragedi, dan Rekonsiliasi | GEOTIMESBenedict  Anderson

  Amrih mengungkapkan, pada Desember 1993, sekelompok mahasiswa Indonesia dari berbagai kota di Amerika mengadakan workshop belajar bersama yang dinamakan "Mengembangkan Wawasan (MW)", bertempat di Kahin Centre, Cornell University, Ithaca, New York. Sebelumnya, sudah ada diskusi membahas buku-buku yang ditulis oleh ahli tentang Indonesia, di antaranya George Kahin, Ben Anderson, dan Daniel Lev.Ada juga Audrey Kahin, Sidney Jones, Jeffrey Winters, Bill Liddle, dan Iwan Jaya Azis. (Tempo, 22 Desember 2015).

Menurut Amrih, waktu itu banyak peserta dari Universitas McGill, yang kebanyakan dosen-dosen IAIN-Institut Agama Islam Negeri (kini UIN). Rupanya, pada waktu itu Presiden Soeharto sedang kuat-kuatnya, dan Ben Anderson  menjadi bagian penting dalam diskusi tentang Indonesia itu. Kisah diskusi ini dikenang kembali oleh Amrih Widodo, yang kini dosen antropologi budaya di Australian National University,Canberra.  

Amrih bercerita, selama empat hari Kahin Centre, Cornell  menjadi ajang diskusi "Mengembangkan Wawasan (MW)", yang pesertanya antara lain Moh A.S. Hikam, yang sempat jadi Menteri Riset dan Teknologi pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur; dan Muslim Abdurrahman, juga Nasaruddin Umar ( mantan Wakil Menteri Agama pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), dan Ephorus Nababan dari Huria Kristen Batak Protestan. (Tempo, 22 Desember 2015).

Lantas, kegiatan "Mengembangkan Wawasan" kedua diselenggarakan di University of Wisconsin, Madison tahun 1993 yang sama, di sini peserta yang diundang pun bertambah dan makin gayeng. Ada mantan Menkeu Frans Seda, Prof  Emil Salim, Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo, Rizal Ramli (kelak jadi Menko Ekuin Presiden Gus Dur), Hariman Siregar ( kelak jadi ‘penasehat’ Presiden BJ Habibie), ada pengarang Ayu Utami, dan aktivis Syahganda Nainggolan (kelak dengan Jumhur Hidayat ditahan pemerintah Jokowi ).  “Pak Ben tidak mau diistimewakan dan dibedakan dengan peserta lain,” ujar Amrih.

Mungkin gambar 4 orang, termasuk Amrih Widodo dan orang tersenyumProf Amrih WIdodo, Budi Kuncoro, Prof Ariel Heryanto,  Prof Vedi Hadiz

Kepada kami ( Simon, Herdi, TM Luthfi Yazid) yang lagi nyanteri di kampong Om Ben  itu, diceritakanlah oleh Ben Anderson tentang pertemuan dengan para sahabat dan gangster intelektual/aktivis dari Tanah Air itu. ‘’Saya lihat mereka percaya diri, cukup optimis, terbuka dan semangat punya harapan akan perubahan, mungkin kalian tidak tahu ya?’’ kata Om Ben Anderson atau Pak Ben. ‘’Saya sempat denger kabar itu dari Bang Hariman,  tapi gak dalam,’’ kataku. ‘”Kami malah nggak tahu sama sekali,’’ imbuh Simon dan Luthfi waktu itu, musim gugur 1994.  Di situ, Ben menyaksikan ada tokoh gerakan mahasiswa 1974/ Malari (Hariman Siregar) ada tokoh Gerakan Mahasiswa 1877/78 (Rizal Ramli), dan lainnya, yang semangat. 

Agus Lenon dalam Kenangan Para Tokoh Pergerakan: 40 Hari Kepergiannya

Hariman Siregar dan Rizal Ramli


Ben Anderson waktu itu mengira, para teman/tamu itu bakal  patah harapan dan pupus asanya diterkam otokrasi ‘’Orde Babe’’, istilah Om Ben untuk Orde Baru Jenderal Soeharto. ‘’ Nah, ternyata kagak tuh.’’imbuhnya.

Ben kemudian menunjukkan padaku  Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1977/78 yang  ditulis Rizal Ramli dkk, dan dia terjemahkan dengan judul ‘’White Book of the 1978 Students’ Struggle ‘ (Source: Indonesia, No. 25 .April 1978, pp. 151-182, published by: Southeast Asia Program Publications at Cornell University,1978).
Terkait Rizal Ramli (RR), demonstran bandel di masa mudanya di ITB itu, saya malah jadi ingat cerita RR tentang temuan Ben Anderson tentang Gus Dur.
 Rizal Ramli menceritakan hasil riset/temuan Indonesianis Ben Anderson tentang Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI,  dan guru bangsa. 
Rizal menjelaskan dari hasil temuan Professor Ben Anderson yang wafat tahun 2015 tersebut, ada dua bentuk rasa hormat dari masyarakat Indonesia kepada presidennya. Hormat karena takut dan hormat karena cinta. Dua jenis rasa hormat itu, jelas Rizal, disimpulkan Ben Anderson setelah mengunjungi semua makam Presiden Indonesia yang telah meninggal dunia.

"Ketika Ben Anderson mengunjungi makam Soeharto,ternyata  sepi. Waktu ke makam Soekarno, terbukti  orang ramai yang berziarah. Tapi waktu ke makam Gus Dur, orang lebih ramai lagi yang berziarah, lebih bersemangat, girah," kata Rizal Ramli. Tertimoni RR itu juga  pernah disampaikannya  ketika memberikan tausyiahnya dalam haul Gusdur di Ciganjur, Jakarta, Sabtu (Tribunnews, 26/12/2015).

Gawat, Satu Per Satu Kritik Rizal Ramli Tuai Kebenaran! – ESENSINEWS.com

RR

Dari hasil kunjungan ke makam itu, sebut RR, Ben Anderson menyimpulkan bahwa rasa hormat rakyat Indonesia kepada Soeharto karena takut kepadanya. Sedang, hormatnya rakyat kepada Gusdur dan Soekarno karena cinta, kasih yang tidak terbatas.  Sungguh menyentuh.
Demikianlah kenangan kami bersama Ben Anderson, yang sering dipanggil para sahabat dan rekannya ‘’ Om Ben atau Mas Ben atau Pak Ben’’ itu. 
Kalau pembaca ingin mengenal  ''Ben Anderson, Gus Dur dan Cak Nur'', simak https://arrahim.id/herdi/benedict-anderson-gus-dur-dan-cak-nur-1/ atau mengenal ''Ben Anderson dan Malari 1974 dan gerakan mahasiswa 1977/78'', simak https://arrahim.id/herdi/kenangan-dengan-benedict-anderson-dari-gus-dur-...

Mungkin gambar 1 orang

Penulis, serasa koboi proletar muda, lagi jalan menuju Kahin Center, Cornell, berpotret sejenak. 1994.

Untuk itu,  mohon iIzin untuk Pak Ben, Gus Dur dan Cak Nur di bulan suci ramadhan ini, kita bacakan doa,  Lahu,  Al Fatehah.

Kenangan Ithaca 1994 - Paramadina, ramadhan  2021

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...