24 September 2018

Belanda Kuning Sedang Mengintai Indonesia

KONFRONASI -    “Kita harus mengumpulkan kekuatan yang berasal dari 1,3 miliar lebih warga China di lebih dari 400 juta rumah tangga untuk mengupayakan sukses besar sosialisme dengan karakteristik China” Xi Jinping Perdana Menteri China dikutip dari Xinhua

Belanda telah berhasil menguasai Negara kita 350 tahun lamanya. Mereka sering disebut sebagai penjajah kulit putih yang paling lama menguasai Indonesia. Penjajah kulit putih kini memang tinggal cerita, sebagai gantinya mulai ramai dibicarakan orang tentang munculnya penjajah kulit kuning alias bangsa China.

Penjajah kulit kuning ini disinyalir sedang ancang-ancang untuk menguasai wilayah- wilayah Indonesia melalui tangan-tangan pemegang kekuasaan. Berbagai kemudahan dan keistimewaan yang diberikan oleh pemegang kuasa kepada investor dan pendatang dari China patut dibaca sebagai indikasi ke arah sana.

Benarkah pemerintah sekarang menggelar karpet merah untuk bangsa China, sehingga bisa menguasai Indonesia? Bagaimana cara penjajah kuning itu menaklukkan suatu Negara termasuk Indonesia ?

Kebijakan Pro China

Paling tidak dari sisi  ekonomi, kebijakan pemerintah Jokowi sangat pro kepada China. Sejak Jokowi naik panggung kekuasaan,  kerjasama ekonomi antara Indonesia dan China memang meningkat signifikan. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut pada tahun 2014 nilai investasi China  hanya menyentuh angka US$ 800 juta atau sekitar Rp 10,8 triliun untuk sekitar 501 unit proyek yang dikerjakan.

Jumlah tersebut meningkat hampir 3 kali lipat di tahun 2016 dengan US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 35,2 triliun. Adapun jumlah proyek yang dikerjakan mencapai 1.734 unit proyek. Pada tahun  2017, jumlah  investasi China  di Indonesia telah meningkat mencapai US$ 2,7 miliar .

Yang menjadi soal adalah pola investasi yang ditawarkan China untuk Indonesia itu menggunakan sistem Turn Key Project Manajemen. Turnkey Project Managemen adalah sebuah model investasi yang ditawarkan dan disyaratkan China kepada Indonesia dengan sistem satu paket. Mulai dari top management, pendanaan dengan sistem Preferential Buyer's Credit, materil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan jutaan tenaga (kuli), baik legal maupun ilegal didatangkan dari China.

Turn key Project ini mengatur bahwa China akan berinvestasi  di Indonesia  tetapi menggunakan produk, alat mesin, dan tenaga kerja dari mereka. Turn key Project inilah yang kemudian ditantadatangani oleh pemerintah Indonesia dalam rangka untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Belakangan diketahui bahwa Turn Key Project ini merupakan konsep China dalam menciptakan lapangan kerja bagi penduduknya yang sangat besar, yakni mencapai lebih dari 1,5 miliar jiwa.

Akibat penerapan investasi  melalui sistem Turn Key Project, berbondong-bondong tenaga kerja asal China yang datang ke Indonesia.   Kabar bahwa adanya ribuan tenaga kerja dari Cina ke Indonesia telah dibenarkan oleh Hanif Dhakiri yaitu Menteri Tenaga Kerja kita.Kedatangan buruh impor ini mengancam terutama buruh kelas bawah yang semakin tidak berdaya.

Pekerja-pekerja asal China  ini biasa bekerja di proyek investasi yang memang bekerja sama dengan pihak dari negara Panda, seperti proyek PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali yang diadakan oleh China Huadian Power Plant, China Huadian Engineering, Co. Ltd, PT CT 17, mitra lokal PT General Energy Bali dan pembangunan pabrik semen PT Cemindo Gemilang di Bayah, Banten dan tempat tempat lainnya.

Masuknya tenaga kerja asing asal China ini diikuti oleh beberapa peristiwa janggal seperti penyelundupan manusia, narkoba  dan penanaman bibit sayuran berbakteri, serta pengibaran bendera China di sejumlah kawasan di Indonesia. Berbagai kasus yang mengiringi merebaknya tenaga kerja asal China ini antara lain adalah :

Pertama, tertangkapnya lima pekerja warga negara Cina oleh Tim Patroli TNI AU Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, yang melakukan pengeboran proyek kereta api cepat tanpa izin di wilayah Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur pada April 2016.

Kedua, sebanyak 700 pekerja Cina dalam proyek pembangunan pabrik semen Merah Putih di Kecamatan Bayah, Lebak, Banten, yang dilakukan oleh PT Cemindo Gemilang pertengahan 2015

Ketiga, di perusahaan pertambangan nikel di Kabupaten Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara Sulawesi Tenggara,banyak tenaga asing asal Cina. Bahkan ada 500 warga China bekerja di PT Virtue Dragon Nikel Industri, lebih banyak dibanding tenaga kerja lokal yang hanya 246 orang saja.

Keempat, buruh Cina mendominasi pengerjaan proyek PLTU Celukan Bawang di Buleleng Bali Kelima, pembangunan smelter bauksit di Kalimantan Barat.

Kelima, sebanyak 26 tenaga kerja asing ilegal asal Cina ditangkap petugas kantor Imigrasi Kelas II Kota Sukabumi, Jawa Barat. Mereka kedapatan menggunakan paspor kunjungan untuk bekerja sebagai tenaga ahli di Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) Pelabuhan Ratu Sukabumi. Mereka sudah tiga bulan bekerja yang disponsori PT Shanghai Electric Group

Berbagai Kemudahan

Banjirnya tenaga kerja mancanegara khususnya dari China rupanya belum juga untuk membuat pemerintah waspada. Yang terjadi justru pemberian berbagai fasilitas kemudahan untuk mendatangkan mereka.  Pemeritah melalui  Sekretaris Kabinet Pramono Anungmengatakan sampai saat ini disadari ada begitu banyak hal yang berkaitan dengan izin tenaga kerja asing masih berbelit-belit. “ Oleh karena itu Presiden sudah instruksikan ke seluruh kementerian terkait. Menkumham, Menaker, menteri teknis ada di perdagangan, perindustrian, KKP, Kementerian ESDM, untuk disederhanakan. Diberikan waktu dua minggu," kata Pramono.

Selain makin mempermudah kedatangan tenaga kerja asing khususnya China, pemerintah juga tak lagi membatasi jangka waktu pekerja asing untuk tinggal di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan telah mengubah ketentuan jangka waktu kerja bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia dari semula hanya 1-2 tahun lalu diwajibkan melakukan perpanjangan, menjadi sesuai jangka waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian kontrak kerja. Selain itu, mempermudah persyaratan dan perizinan bagi TKA. Hal ini bertujuan untuk mempermudah izin bagi TKA sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar investasi meningkat.

Membanjirnya  tenaga kerja asal China ternyata juga dibarengi dengan lemahnya penegakan hukum atas pelanggaran ketentuan yang ada. Sebagai contoh  implementasi UU No.13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. Dalam UU itu secara jelas melarang TKA untuk bekerja sebagai buruh kasar. Aturan itu dibuat untuk melindungi TK lokal yang tidak memiliki keahlian. Bagi perusahaan atau pengguna TKA  yang melanggar bisa dikenakan kurungan penjara hingga 4 tahun serta denda hingga Rp 400 juta. Apalagi jika perusahaan tidak memiliki punya IMTA (izin mempekerjakan tenaga kerja asing).

Bagi perusahaan yang memiliki IMTA hanya boleh mempekerjakan TKA yang memiliki keahlian dan posisi pekerjaannya harus sesuai keahlian. Misalnya, ahli mesin hanya boleh bekerja di bidang mesin. Nyatanya, dalam sejumlah razia, baik yang dilakukan oleh pihak Imigrasi maupun Kemenaker ditemukan banyak buruh kasar asal Cina. Tapi, sejauh ini belum ada laporan perusahaan yang diberi sanksi, baik pencabutan IMTA maupun sanksi pidana. Sejauh ini, yang dilakukan hanya mendeportasi TKA bersangkutan. Mandulnya penegakan hukum dibidang ketenakerjaan khususnya kepada pekerja illegal asal China ini tentu saja menimbulkan tanda tanya ada apa ?

Strategi Penjajahan China

Dengan menggunakan model  investasi turn key project  yang berujung pada eksodus ribuan tenaga kerja China bisa dibaca sebagai salah satu strategi Cina untuk menguasai Indonesia secara non militer. Secara perlahan ia memasukkan warganya ke Indonesia, kemudian mendesak keluar warga pribumi Indonesia.  Peran warga pribumi di sektor-sektor strategis di Indonesia diganti warga Cina. Hingga akhirnya, pemilik Indonesia bukanlah orang-orang keturunan nusantara, tetapi adalah orang-orang Cina.

Stratgegi ini telah sukses diterapkan oleh China di benua  Afrika yaitu di Zimbabwe dan Angola. Dominasi ekonomi China  di dua  negara tersebut telah mempengaruhi kebijaksanaan negeri itu secara kuat. Di Angola bantuan teknologi dan keuangan China membuat negeri itu maju pesat tetapi tidak disadari tercengkeram kuat oleh pengaruh kekuatan ekonomi China. Pelarangan agama Islam diyakini banyak tokoh Angola karena dampak kekuatan China di Angola. Bahkan negara Zimbabwe karena tidak kuat bayar utang, utangnya dihapus tetapi dengan syarat mengganti mata uang negeri sendiri dengan Yuan.

Banyak pengamat mulai mengkhawatirkan sepak terjang kehebatan kekuatan ekonomi China bisa terjadi di Indonesia. Segala kekisruhan NKRI belakangan ini ditandai dengan permusuhan dan kebencian terhadap etnis tertentu di medsos mulai kuat dirasakan. Fenomena itu diyakini banyak pengamat karena masyarakat sudah mulai merasakan dampak dominasi negara China di Indonesia. Benarkah Indonesia bisa berubah menjadi Angola dan Zimbabwe ?

Tidak ada salahnya kalau rakyat Indonesia meningkatkan kewaspadaan  terhadap kiprah China di Indonesia. Karena tanda tanda dominasi China di Indonesia sudah mulai terasa. Setelah membanjirya warga Negara China ke Indonesia, tanda tanda lain adalah mulai diperhitungkannya pemakaian Yuan sebagai kurs pengganti dolar Amerika.

Dalam suatu kesempatan  Presiden Joko Widodo pernah menyatakan bahwa dolar Amerika Serikat sudah tidak relevan dijadikan acuan dalam perdagangan dengan negara lain. Kurs mata uang Amerika Serikat ini dinilai semakin tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. “Jangan sampai ini mendominasi persepsi ekonomi. Kalau mengukur ekonomi Indonesia pakai dolar, kita akan kelihatan jelek,” ujarnya

“Menurut saya, kurs rupiah dan dolar bukan lagi tolok ukur yang tepat.” Jokowi menjelaskan acuan kurs yang relevan pada saat ini adalah mata uang mitra dagang terbesar Indonesia. “Kalau China yang terbesar, ya, harusnya yuan yang  dipakai sebagai kursnya ” ujarnya.

Nasionalisme China

Cina sejak reformasi, mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan One Country and Two System, yakni sistem negara dengan eloborasi ideologi komunis dan kapitalis. Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas sebagaimana kapitalisme berpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam kontrol negara yaitu Partai Komunis Cina. China juga mengobarkan semangat warganya yang dirantau untuk tetap memiliki rasa nasionalisme kepada tanah leluhurnya.

Pemimpin pemimpin China sudah berulangkali mengingatkan mengenai fenomena ini kepada warganya yang ada dirantau. Pada perayaan Imlek, Presiden Cina Xi Jinping dalam pidatonya  mengajak semua warga Tionghoa perantauan untuk mengumpulkan kekuatan dalam rangka mensukseskan sosialisme ala Tiongkok. “Kita harus mengumpulkan kekuatan yang berasal dari 1,3 miliar lebih warga China di lebih dari 400 juta rumah tangga untuk mengupayakan sukses besar sosialisme dengan karakteristik China,” kata Xi Jinping dikutip dari Xinhua, Jumat (16/2/2018).

Hal itu kata Xi Jinping semata-mata untuk mewujudkan impian China  atas peremajaan negaranya. “Ini untuk era baru dan mewujudkan impian China  atas peremajaan nasional,” sambungnya.Di tahun  baru Cina kali ini, Xi Jinping mengaku puas dan memuji prestasi para warganya khususnya para Tionghoa perantauan lainnya atas sumbangsih mereka dalam memberikan pengaruh global selama 2017 untuk China.

Untuk itu, dirinya mengingatkan kepada semua Tionghoa perantauan untuk selalu cinta pada negara asalnya yakni China. “Kami warga Tionghoa perantauan akan terus cinta pada tanah air kita dan berkontribusi pada peremajaan bangsa China yang hebat,” ujar Xi.

Peneliti dari China Institute of International Studies, Tang Qifang mengungkapkan bahwa gagasan Xi Jinping untuk menjadikan negara komunis sebagai kekuatan baru pemerintahan dan ekonomi global merupakan langkah canggih. Gagasan tersebut, kata dia, lahir dari perubahan kondisi dunia dan perwujudan dari aspirasi Cina untuk saling berbagi perdamaian serta pembangunan dunia.

Himbauan dari Perdana Menteri China Xi Jinping diatas rupanya telah di amalkan dengan baik oleh warganya di manca negara. Diantaranya adalah konglomerat warga negara Tionghoa yang ada di Indonesia seperti Sukanto Tanoto.

Suatu kali Sukanto mengatakan bahwa  meskipun ia lahir dan besar di Indonesia serta menempuh pendidikan, menikah dan memulai bisnis  di Indonesia,  tetapi Indonesia adalah ayah angkat bagi saya, karena itu ketika pulang ke Cina saya merasa menemukan ayah kandung. Itu karena saya masih merasa orang Cina,” demikian diucapkan konglomerat Sukanto Tanoto saat tampil sebagai narasumber dalam sebuah acara televisi di Cina.

Sukanto yang pemilik Raja Garuda Emas (RGE), induk perusahaan yang bergerak di perkebunan kelapa sawit, kertas dan plywood, ini juga dengan bangga mengumumkan sumbangannya yang mencapai 5 juta dolar AS dalam pembangunan Water Cube, sarana olahraga yang digunakan saat Olimpiade Beijing 2008.  Tanpa merasa bersalah, Sukanto yang lahir, sekolah  dan ‘’mendapat karpet merah’’ untuk membangun kerajaan bisnis di Tanah Air, menyatakan  Indonesia hanyalah ayah angkat. Intinya Keindonesiaan Sukanto Tanoto ternyata hanya sebatas di bibir belaka, sementara yang bergelora di hatinya tetap negara asalnya,China,

Republik Indonesia bisa merdeka dengan mengorbankan ratusan juta jiwa warga Indonesia. Kini, Indonesia telah 71 tahun merdeka. Banyak kalangan yang sudah memetik hasil kemerdekaan Indonesia dan kini menjadi konglomerat, termasuk Sukanto Tanoto. Ia bisa kaya raya dari hasil kekayaan tanah tumpah darah Indonesia. Bahkan pemerintah pun memberi ‘’karpet merah’’ pada Sukanto Tanoto untuk menjalankan bisnisnya. Namun ternyata, setelah menyaksikan pengakuannya di depan stasiun televisi Cina, orang menjadi tahu siapa dia sesungguhnya. Sepertinya dia hanyalah orang asing yang tidak pernah mencintai tanah kelahirannya.

Sudah barang tentu orang orang tionghoa yang bermental seperti Sukanto Tanoto itu tidak sedikit jumlahnya. Kini  dengan membanjirnya tenaga kerja asal Cina, bukan saja akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, tapi juga bisa menjadi pintu masuk Cina untuk menjajah Indonesia. Kolaborasi antara warga Tionghoa yang tipis rasa nasionalismenya di tambah pendatang baru dari China bisa menjadi kekuatan baru untuk menggeser warga asli Indonesia tercerabut dari kampung halamannya.(Juft/LAWJUSTICE)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...