Anies Diserang Gegara Kerumunan Tanah Abang, Rocky Gerung: Sri Mulyani yang Anjurkan Belanja

KONFRONTASI  - Kerumunan di Tanah Abang dikhawatirkan memicu munculnya kluster baru Covid-19 di DKI Jakarta. Sejumlah influencer di Media Sosial menyalahkan Gubernur Anies Baswedan.

“Anies ke Mana? Anies lebih sibuk keliling daerah persiapan nyapres, nggak ngurusin keselamatan warga DKI.

Tanah Abang dibiarkan ramai berdesakan, efek kejut ke berapa Nies?” tulis akun Devyn Radeva di media sosial facebook.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengambil langkah untuk memberlakukan pengetatan pengendalian pengunjung terhitung sejak Minggu 2 Mei 2021.

Pengetatan ini bukan hanya berlaku di pasar Tanah Abang, namun juga setiap kawasan pasar di ibu kota. Tujuannya supaya potensi klaster baru Covid-19 bisa diminimalisir.

Pengamat Media sosial, Rocky Gerung punya pandangan berbeda terkait ramainya Pasar Tanah Abang.

Kata dia, membludaknya jumlah masyarakat yang membeli baju lebaran hingga menciptakan kerumunan yang besar di Tanah Abang, justru karena Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dia bahkan menilai, Sri Mulyani yang seharusnya ditangkap.

Dalam video yang diunggah di kanal Youtube Rocky Gerung Official, Senin 3 Mei 2021, Rocky Gerung menyebut bahwa masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk membeli keperluan Lebaran sedang menuruti permintaan Sri Mulyani.

“Fenomena Tanah Abang itu ya mungkin karena mereka ikut memenuhi permintaan Ibu Sri Mulyani,” ujar Rocky seperti dikutip dari BeritaHits.id, Senin 3 Mei 2021.

Rocky menyebut Sri Mulyani harus ditangkap karena telah menyebabkan kerumunan dengan meminta orang-orang berbelanja kebutuhan Lebara.

“Kan Sri Mulyani bilang cobalah berbondong-bondong beli baju baru atau apa itu, jadi Sri Mulyani mesti ditangkep juga karena menyuruh orang berkerumun,” lanjutnya.

Lebih lanjut Rocky menyebut ada ketimpangan dalam persiapan masyarakat menjelang hari Lebaran. Ia menyoroti ada beberapa orang yang tak bisa merasakan animo berbelanja menjelang Lebaran.

“Tapi terlepas dari efek semacam itu, jelas ada yang terbaca bahwa ada yang timpang sebenarnya itu,” ucap Rocky Gerung.

Ia menyebut bahwa hari Lebaran menumbuhkan harapan. Sayangnya, tak semua masyarakat Indonesia bisa memenuhi harapan itu. Ia juga menyebut ada rakyat yang masih merintih tak punya uang untuk membeli keperluan menjelang hari raya.

“Kita hanya bisa menerangkan ini bahwa Lebaran itu selalu menumbuhkan harapan. Ada yang bisa penuhi harapan itu ada yang tidak bisa penuhi, kan di situ sebenarnya problem kita, jadi kita miris,” lanjutnya.

“Bahwa ada yang tersiksa menghitung hari, tiba-tiba nanti tinggal 2 hari dan dia tidak punya apa-apa, ada yang memang masih punya tabungan dan terlihat bergembira,” ujarnya lagi.

Keadaan tersebut, oleh Rocky dinilai mengindikasikan adanya disparitas ekonomi dan juga psikologi. Menurutnya, kondisi tersebut tak bagus bagi bangsa Indonesia.

“Jadi, kita tahu di samping ada disparitas ekonomi ada disparitas psikologi. Antara mereka yang merintih dan mereka yang ceria,” ujarnya.

“Ini tidak bagus bagi bangsa karena ini adalah satu kesempatan besar bagi rakyat kita untuk menikmati kebahagiaan bersama setelah melewati ujian puasa,” sambungnya.(Juft/REPELITA)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...