19 April 2019

Analis: Pemerintah Kini Benar-benar Makin Liberal, Jauh Melenceng Dari Nawacita

KONFRONTASI - Analis ekonomi politik Abdulrachim Kresno menyebut, program nawacita yang dijanjikan Presiden Jokowi pada waktu kampanye ternyata sudah tiga tahun ini tak terjadi pencapaian yang luar biasa.

Yang ada, dalam kebijakan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)- Jusuf Kalla (JK) banyak bertentangan dengan program Nawacita, yang ada justru menyengsarakan rakyat banyak bahkan juga membahayakan perekomian Indonesia di masa depan.

“Kebijakan-kebijakan itu antara lain besarnya dan cepatnya utang yang ditumpuk pemerintah. Dalam hanya 2,5 tahun sampai Juni 2017, tambahan utangnya sudah mencapai Rp1.098 triliun. Dan selama tiga tahun sudah menumpuk utang Rp1.261 triliun,” papar dia kepada Aktual.com, Minggu (22/10).

Bahkan jumlah utang 2,5 tahun saja, kata dia, lebih besar dari tiga kali lipat dari tambahan utang yang dibuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 5 tahun (2004-2009 ) yang besarnya hanya Rp 315 triliun.

“Bahkan tambahan utang pemerintah Jokowi selama bulan Juli 2017 lalu, yang hanya dalam 1 bulan sebesar Rp 73,47 triliun,” kata dia.

Di satu pihak utang pemerintah meledak sangat tinggi tetapi justru pertumbuhan ekonomi hanya rendah saja. Menurut data BPS tahun 2015 hanya tumbuh 4,79% (terendah selama 6 tahun ), di 2016 tumbuh 5,02 dan semester 1 2017 hanya tumbuh 5,01% padahal ada THR, gaji ke-13, lebaran dan sebagainya.

“Dan bukan hanya pertumbuhan ekonomi saja yang rendah, tetapi juga kenyataan di lapangan terjadi kelesuan ekonomi, daya beli konsumen yang melemah. Walaupun pemerintah mengeles dengan berbagai alasan,” kata dia.

Tetapi data BPS, kata dia, tidak bisa dibantah bahwa ekonomi hanya tumbuh mendatar 5% . Dalih bahwa adanya tabungan di bank yang meningkat berarti bukan daya beli yang melemah malah menunjukkan bahwa pemilik uang tidak yakin bahwa kalau uangnya diinvestasikan akan memguntungkan.

“Bisa-bisa malah merugi, karena itu disimpan di bank yang keuntungannya pasti jauh lebih kecil dari pada diinvestasikan yang masih tak dipercaya, karena ekonomi sedang anjlok,” dia menegaskan.(KNF/aKTUAL)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...