25 September 2018

Akbar Tanjung di Indemo: Jangan Dibilang Demokrasi Kita Mundur !

JAKARTA- Demokrasi kita sedang menuju konsolidasi dengan mengambil pelajaran dari pemilu dan pilpres tahun 2014 ini. Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan, hiruk pikuk pilpres Indonesia harus menjadi pelajaran bagi bangsa.

Menurut Akbar, terjadinya hiruk pikuk tersebut karena calon presiden hanya ada dua.

"Jadi sejak awal sudah head to head. Dan ada nuansa masyarakat terbelah," kata Akbar saat menjadi narasumber dalam diskusi Reboan Indonesian Democracy Monitor (Indemo) di Jalan Lautze, Jakarta, Rabu (15/10).

Dalam gambar tampak Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golongan Karya (Golkar), Akbar Tandjung (kedua kanan), Wakil Ketua DPR dari PKS, Fahri Hamzah (tengah), Tokoh aktivis Malari Hariman Siregar (kedua kanan) dan Aktivis 98 Bursa Zarnubi (kiri), aktivis Chris Syner Kaitimu serta Herdi Sahrasad (akademisi Universitas Paramadina, di belakang Bang Hariman), dan Dayat Hidayat( aktivis Sosialis) dengan moderator Budayawan Isti Nugroho, saat diskusi seputar kepemimpinan Jokowi - JK di kantor Indonesia Democracy Monitor (INDEMO), Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2014). Akbar Tandjung mengatakan, hiruk pikuk pilpres Indonesia harus menjadi pelajaran bagi bangsa. Terjadinya hiruk pikuk tersebut karena calon presiden hanya ada dua. Sejak awal sudah head to head. Dan ada nuansa masyarakat terbelah.

KMP Akan Maksimalkan Potensi Sebagai Penyeimbang - aktual.co

Akbar mengungkapkan, dalam politik itu ada yang menang dan ada yang kalah.

"Jika kalah, maka kita akan maksimalkan potensi kita untuk menjadi penyeimbang," ujarnya.

Meskipun kalah, ujar Akbar, Koalisi Merah Putih (KMP) saat ini menguasai DPR.

"Kalo secara kursi 352 lawan 208. Jadi kita disini menjadi penyeimbang. Dalam politik, hal ini adalah normal," tambahnya.

Akbar juga menyinggung soal demokrasi Indonesia.

"Basis demokrasi kita secara ideologis yaitu Pancasila, yaitu sila ke 4, Permusyawaratan perwakilan," terangnya.

Kalau mengacu UUD 45, demikian Akbar, pemilihan langsung itu cuma pilpres.

"Jadi jangan dibilang kita ini mundur," pungkasnya.Sementara itu, aktivis Malari Hariman Siregar mengatakan, belum pernah Indonesia mengalami situasi seperti hari ini.

"Secara komposisi, pemilu kita hasilnya draw. Ada yang menang di eksekutif dan ada yang di legislatif," kata Hariman.

Menurut Hariman, jabatan akan memperlihatkan siapa orang itu.

"Pemimpin itu nampak, nanti ketika jadi presiden, kita akan tahu siapa sebenarnya Jokowi," ungkap Hariman Siregar (k)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...