Agama Doni Monardo 'Dipertanyakan'

KONFRONTASI -   Usai rapat membahas struktur organisasi Satuan Tugas (Satgas) Nasional Penanganan Covid-19, sosiolog Universitas Indonesia, Prof Dr Imam Prasodjo sekejap memperhatikan ruangan. Di balik kaca mata yang dikenakannya, terlihat bola matanya sedang bekerja. Melihat dari sudut ke sudut ruangan rapat multimedia di lantai 10, Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.


Ia pun menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang mengganjal guru besar sosiologi itu. Imam  tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada tuan rumah. “Pak Doni… Ini kok aneh, ruangan rapat tidak ada jam dinding dan tidak ada kalender. Maksudnya apa nih?” kata Imam Prasodjo kepada Kepala BNPB sekaligus Kepala Satgas Nasional Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Jumat (31/7).

Usai bertanya, Imam tersenyum lebar. Ia seperti puas membuat pertanyaan 'skak mat'. Istilah dalam permainan catur untuk menangkap raja lawan. Doni pun menjawab dengan senyum pula. “Sengaja saya buat seperti itu, Pak Imam. Karena dalam penanganan bencana, tidak mengenal waktu. Harus siap 24 jam,” jawab Doni. Jawaban yang lolos dari skak mat Imam.

Doni melanjutkan, kalender di ruangan kerjanya, warnanya cuma satu, hitam semua. Ia beralasan, bencana itu sesuatu yang darurat. Menangani kebencanaan harus dengan penuh kemanusiaan. Bukan soal libur atau tidak libur. “Kalau ada bencana pas tanggal merah, kan tidak mungkin libur juga,” jawab Doni sambil menyungging senyuman.

Doni sempat tidur di kantornya selama sekitar tiga bulan setelah diberikan amanat menangani covid-19. Ia pun kerap berada di kantor walau hari libur. Terakhir, ia justru memanfaatkan hari Sabtu dan Ahad untuk melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah. Artinya sama saja dia tidak menikmati liburan.

Kini tiap Ahad malam Doni sudah berada di kantornya. Ia tidak ingin terjebak kemacetan, dan bekerja mulai Senin subuh. “Kita sudah bekerja tanpa libur saja, hasilnya belum memuaskan, apalagi jika libur. Kita kerja dan berpikir positif saja, Pak Imam.” 

“Iya iya, saya paham, Pak Doni,” ujar Imam, mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi ada pertanyaan titipan dari teman saya. Agamanya Pak Doni itu apa ya? Ini kan Hari Raya Idul Adha, kok mengundang rapat di kantor?”

Tentu saja ini pertanyaan gurauan dari Imam. Dia juga sudah tahu bahwa Letjen TNI Doni Monardo seorang Muslim. Apalagi, Doni masih mengenakan kopiah hitam dan baju koko putih lengan panjang. Doni pun melaksanakan sholat Idul Adha di lantai 15 Gedung BNPB. Sama seperti saat Idul Fitri, Doni juga tidur di kantor dan sholat Idul Adha di kantornya. Kemudian melanjutkan rapat.

Doni tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Seisi ruangan pun tertawa mendengarkan pertanyaan titipan teman dari Imam Prasodjo tersebut. “Masak ada yang tanya begitu. Hahaha… “

Selain Doni dan Imam, hadir di ruangan tersebut di antaranya, dua deputi BNPB, yakni Bernardus Wisnu Widjaja dan Dody Ruswandi, Staf Khusus Menteri Kesehatan Prof Dr dr Akmal Taher, Ketua Tim Pakar Penanganan Covid-19 Prof Dr drh Wiku Bakti Bawono Adisasmito, calon Duta Besar RI di Singapura Suryopratomo, Ketua Relawan Covid-19 Andre Rahardian, Tenaga Ahli BNPB Egy Masadiah, dan Kolonel (Arhanud) Hasyim Laihakim, serta Dr Abdul Muhari.

Usai sholat Idul Adha, Doni langsung menuju ruang rapat untuk menikmati hidangan Hari Raya Qurban. Cukup banyak pilihan makanan yang tersaji. Ia mulai dengan menyantap buah papaya merah sebagai santapan pembuka. “Nah ini yang saya cari. Gulai kambing,” katanya dengan mata berbinar.

Gulai kambing dengan lontong dan kerupuk kulit serta emping Makassar, menjadi menu favoritnya kali ini. Setelah itu ia pun menikmati pallu basa, salah satu kuliner khas Makassar. Tersaji pula kue Manado dan Bugis. Ia pun menutup sarapan Idul Adha dengan kopi hitam.

Makna Idul Adha


Di ruangan Doni menuturkan makna Idul Adha bagi dirinya. Diawali dari cerita masa kecilnya di Kota Lhokseumawe dan Banda Aceh. “Hari Raya Idul Adha di Aceh berbeda sekali dengan Jakarta. Di Aceh Idul Adha terasa meriah, bahkan bisa lebih meriah daripada Idul Fitri.”

Saat dirinya bertempur di Aceh, lanjut Doni, Idul Adha seperti hari gencatan senjata. Semua menghormati perayaan hari besar keagamaan. Doni sempat beberapa kali menjalani operasi militer di Aceh. Wilayah yang justru menjadi tempat kenangannya di waktu anak-anak hingga SMP kelas satu.

Ayahnya memang seorang serdadu, sehingga dia harus mengikuti perpindahan dari satu kota ke kota lainnya di Indonesia.  Lelaki berusia 57 tahun dua bulan ini, lahir di Cimahi, Bandung, Setelah itu tinggal di Aceh. Masa remaja hingga lulus SMA di Padang, Sumatra Barat.

Setelah itu merantau ke Bandung untuk bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Nasibnya berubah, ia mengikuti jejak ayahnya menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Doni lulus Akademi Militer tahun 1985 dengan korps Infanteri. Ia juga merupakan personel Komando Pasukan Khusus.

“Kita ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Seorang ayah yang merindukan ingin mendapatkan keturunan. Lama sekali menunggu dapat keturunan," kata Doni

"Namun setelah itu, diminta untuk menyembelih putra kesayangannya. Ayah dan anak ikhlas menjalani perintah Allah. Sesuatu yang sangat berat bagi siapa pun untuk melaksanakan perintah seperti itu," kata Doni menambahkan.

Di masa pandemi Covid-19, lanjut Doni, salah satu pengorbanan yang diminta kepada masyarakat, antara lain mematuhi protokol kesehatan. Bukan seperti pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Jadi Idul Adha bagi umat Islam saat ini, antara lain adalah keikhlasan, kepatuhan, dan semangat untuk berqurban dalam menjalankan perintah Allah.”

Menurut Doni, pandemi belum berakhir, sehingga semua komponen masyarakat harus tetap disiplin dan patuh menjalankan protokol kesehatan. Termasuk perusahaan harus mematuhi jam kerja era pandemi, karena situasi belum normal.

Ia mengingatkan semua instansi, perusahaan, termasuk perusahaan negara di bawah BUMN. Situasi saat ini belum normal. Jam kerja masih harus menggunakan pembagian waktu yang berjarak cukup. Bukan dengan waktu masuk kerja dan pulang kerja yang berdekatan, supaya tidak terjadi penumpukan karyawan di kantor maupun tempat-tempat umum.

“Belum ada perintah untuk masuk kerja secara penuh 100 persen, seperti masa sebelum pandemi. Jangan sampai perkantoran menjadi klaster penularan baru. Saya juga akan mengingatkan lagi kepada perusahaan-perusahaan di bawah BUMN, harus menjadi contoh bagi perusahaan lain,” tutupnya.(Jft/REPUBLIKA)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...