Kata Jimly, Burhanuddin Hendak Saingi Tuhan

KONFRONTASI-Pernyataan Burhanudin Muhtadi yang dinilai mengintervensi Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait quick count Pemilu presiden (Pilpres) 2014, mendapat kecaman keras dari Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie.

Menurut dia, pernyataan dari Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia itu tampaknya menyaingi Tuhan alias merasa paling benar.

"Namanya ilmu pengetahuan terbuka untuk dikritik benar dan tidak benar ilmu ilmiah itu. Kalau mengklaim mutlak, itu namanya mau menyaingi Tuhan," kata Jimly, di Jakarta, Sabtu (12/7/2014).

Ia melanjutkan, hasil quick count itu pasti memiliki celah salah meskipun sudah menggunakan metode paling canggih. Karena, itu manusiawi. Maka dari itu, kebenaran itu hanya milik Tuhan semata.

"Kita percaya, kita tak boleh anti ilmiah. Seorang harus percaya dengan ilmu pengetahuan sebagai buatan Tuhan, tapi kebenarannya milik Tuhan. Kalau bisa menyaingi Tuhan pasti benar sebuah ilmu ilmiah, buruk kalau pemimpin tidak percaya ada ilmu ini. Itu sunnatullah," ujar dia.

Seperti diketahui, pada acara konferensi pers Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Burhanuddin Muhtadi mengatakan, kalau ada perbedaan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan hasil quick count lembaga survei yang menangkan Jokowi-JK maka KPU yang salah dan ada kecurangan.

Burhanuddin juga mengatakan "Kalau hasil hitungan resmi KPU nanti terjadi perbedaan dengan lembaga survei yang ada di sini, saya percaya KPU yang salah dan hasil hitung cepat kami tidak salah," kata Burhanuddin.

 

Burhanuddin Dicurigai Jadi Provokator yang Bersembunyi di Balik Metode ilmiah

Pernyataan Burhanudin Muhtadi yang mengatakan jika sampai hasil perhitungan KPU berbeda dengan rilis hasil quick count lembaganya maka berarti KPU yg salah merupakan pernyataan yang ingin mendelegitimasi dan memotong urat nadi dan kewenangan lembaga formal yang dibentuk dengan UU.

"Upaya burhanudin telah mengangkangi prosedur dan merecoki tahapan pemilu," kata Jurubicara Barisan Muda Merah Putih, Syahmud Basri Ngabalin, beberapa saat lalu (Sabtu, 12/7).

Barisan Muda Merah Putih merupakan koordinasi kader muda tujuh partai Koalisi merah Putih pendukung Prabowo-Hatta. Mereka lahir untuk mengawal sitem perhitungan suara versi KPU sampai final di tanggal 22 Juli besok.

Kembali ke Burhanudin. Menurut Bahri, pernyataan Burhan ini patut dicurigai sebagai upaya meprovokasi atau menghasut rakyat untuk tidak percaya dengan KPU. Dan seharusnya Burhan tak jadi provokator terdidik dan bersembunyi di balik metoda ilmiah namun menaifkan kebenaran data.

Hal senada di sampaikan oleh Azwar Jaya dari partai PAN sumber bunyi yg di keluarkan Burhanudin dan di legitimasi oleh salah satu stasiun televisi swasta adalah bentuk penghasutan publik untuk memaksa rakyat menerima kebenaran yang belum final.

"Kalau yang disampaikan adalah hasil hitung cepat  sah-sah saja sebagai lembaga survei namun jika hasil survei dipaksakan sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan ini yang kacau," ungkap Azwar.

BM Merah Putih pun  akan menempuh mekanisme formal dalam menyikapi ketidakbenaran situasi yg sengaja digulirkan oleh para jawara survey yang hari ini kridibilitasnya dipertanyakan

"Barisan ini akan  mendidik masyarakat untuk berfikir rasional dan mengikuti tahapan formal sampai lahirnya keputusan legal," demikian Azwar. (warche)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...