15 December 2019

Warung Tradisional Makin Khawatir Serbuan Minimarket ke Pelosok

KONFRONTASI -   Pemilik usaha warung tradisional di Kabupaten Bandung mengkhawatirkan maraknya minimarket waralaba yang semakin merangsek ke pelosok pedesaan. Mereka berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah untuk membatasi invasi tersebut.

Salah seorang pelaku usaha asal Kecamatan Ciwidey Asep Yusuf (48) mengatakan, minimarket kini sudah merambah masuk ke lingkungan tempat tinggalnya yang notabene berada di pelosok.

 

"Warung saya di Kampung Babakan Tiga, sekarang di sana sudah ada beberapa minimarket yang jaraknya rapat," ujarnya, Jumat, 22 November 2019.

Menurut Asep, kondisi serupa terjadi hampir di seluruh kawasan Ciwidey. Tak hanya di jalan-jalan utama, minimarket waralaba kini sudah masuk ke perkampungan padat penduduk.

 

Kondisi itu diakui Asep sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup usaha warung tradisional.

Tidak terkecuali warung miliknya yang sejak keberadaan minimarket yang berjarak kurang dari satu kilometer, warungnya mengalami penurunan omzet hingga 40 persen.

 

Bukan tak mampu bersaing, kata Asep, keberadaan minimarket waralaba didukung oleh perubahan gaya hidup masyarakat di pedesaan.

Akibatnya, tak sedikit masyarakat yang lebih memilih berbelanja ke minimarket hanya demi gengsi, ketimbang belanja ke warung tradisional sekalipun harganya lebih murah.

Asep tak menampik jika keberadaan minimarket waralaba memang membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Namun jumlah tenaga kerja yang terserap jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang akan kehilangan hajat hidup jika warung tradisional mereka bangkrut.

"Sekarang di satu minimarket paling warga yang dipekerjakan hanya 2-3 orang. Sedangkan jika sebuah warung tradisional tutup, sekeluarga akan kehilangan penghidupan. Kalau anaknya dua saja, berarti ada empat orang yang kehilangan hajat hidup," kata Asep.

 

Zonasi minimarket

Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan menegaskan bahwa hal itu akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah ke      

depan

.

"Maraknya usaha minimarket waralaba memang harus segera dievaluasi oleh dinas terkait, terutama masalah zonasinya," ujarnya.

Gun Gun berharap, keberadaan minimarket tidak sampai mematikan usaha warung tradisional milik masyarakat.

Salah satu caranya memang membatasi minimarket untuk tak masuk ke kawasan permukiman padat penduduk.

Minimarket, kata Gun Gun, seharusnya  justru bisa membina usaha warung tradisional bukan membunuhnya.

Apalagi saat ini justru banyak pihak lain yang sudah ikut membantu kemajuan warung tradisional lewat program CSR mereka.

Menurut Gun Gun, salah satu program CSR yang sangat mendukung warung tradisional adalah program Sampoerna Retail Community (SRC). Saat ini program tersebut sudah melibatkan sekitar 2.000 pengusaha warung tradisional di Kabupaten Bandung.

Menurut Gun Gun, program itu telah berhasil membantu pengusaha warung tradisional untuk menata usaha mereka sehingga lebih menarik. Dengan begitu, daya tarik warung tradisional pun tak kalah dengan minimarket modern.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...