Warga Papua Kecewa dengan Kinerja Guru

Konfrontasi - Warga Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua kecewa berat dengan kinerja para guru yang bertugas di SD YPPK Putsinara, Kampung Amungun karena dinilai jarang sekali mengajar sehingga pantas disebut mengajar sekali setahun.

"Guru-guru di sini ibaratnya mengajar satu hari dan libur satu tahun. Bagaimana anak-anak sekolah bisa pintar kalau kelakuan guru-guru seperti itu. Masalah ini sudah sangat lama, tapi pemerintah daerah dan yayasan sepertinya tutup mata," ucap salah satu warga Kampung Amungun, Distrik Agimuga,Eduardus Pinimet Rabu (16/12).

Menurut Eduardus Pinimet, kondisi seperti itu terjadi hampir di semua sekolah SD dan SMP di wilayah pegunungan dan pesisir Mimika. Ketidakaktifan guru-guru untuk mengajar membuat masa depan anak-anak asli Suku Amungme dan Kamoro di wilayah pedalaman Mimika menjadi sebuah tanda tanya besar.

Warga Amungun lainnya, Frans Kelanangame menyoroti kinerja Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Tillemans Keuskupan Timika yang dinilainya tidak mampu mengawasi kinerja para guru di sekolah-sekolah pedalaman yang bernaung di bawah yayasan itu.

"Kami minta sekolah yayasan dibubarkan saja dan diganti dengan sekolah negeri atau yayasan swasta yang lain. Bila perlu datangkan madrasah aliyah untuk buka sekolah di sini karena selama YPPK tangani sekolah di pedalaman tidak pernah ada perubahan kualitas guru dan anak-anak sekolah," tutur Frans.

Pertanyakan Dinas Pendidikan Frans mempertanyakan kebijakan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika yang menempatkan guru-guru di pedalaman seperti di Agimuga, tetapi pada saat bersamaan guru-guru tersebut sedang mengikuti perkuliahan Diploma II PGSD dan Strata Satu PGSD.

Akibat dari kebijakan itu, katanya, guru-guru tidak pernah berada di tempat tugas, tetapi tinggal di Timika dengan alasan sedang mengikuti perkuliahan.

"Kalau bisa jangan kirim guru-guru yang sedang kuliah datang tugas mengajar di pedalaman, nanti proses belajar-mengajar pasti tidak jalan," ujarnya memberi saran.

Menurut Frans, guru yang aktif bertugas di SD YPPK Putsinara, Kampung Amungun, Distrik Agimuga hanya dua orang. Kedua guru tersebut masih berstatus guru honorer Keuskupan Timika. Sedangkan sesuai data yang ada, jumlah guru yang bertugas di sekolah itu seharusnya 12 orang.

"Sepuluh guru yang lain tidak pernah datang ke sekolah, termasuk Kepsek Ibu Kristina Kemong. Yang aktif mengajar hanya dua orang yaitu Ibu Fransina dan Ibu Tasia karena mereka putra daerah. Anak-anak sekolah tidak pernah dapat pelajaran dengan baik," tuturnya.

Berbeda dengan SD YPPK Putsinara Amungun, kondisi pendidikan di SD YPPK Bulujalauki Aramsolki dan SD YPPK Blakmakma Kiliarma jauh lebih baik.

"Kalau di Aramsolki dan Kiliarma masih jauh lebih baik. Ada banyak guru yang rajin mengajar di dua sekolah itu," ucap Frans.

Ironisnya, meski kondisi pendidikan di Distrik Agimuga berjalan tidak maksimal, namun kondisi gedung sekolah di Kampung Aramsolki, Amungun, dan Kiliarma sangat memadai.

Sejak 2013 Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) sejak 2013 membangun gedung sekolah permanen di tiga kampung yang merupakan pemukiman warga Suku Amungme itu.

"Kami berterima kasih kepada LPMAK yang sudah membangun gedung sekolah yang sangat bagus di Distrik Agimuga. Seharusnya kalau gedung sekolahnya sudah bagus maka aktivitas belajar-mengajar di Distrik Agimuga makin bertambah bagus kualitasnya. Ini justru sebaliknya, sekolahnya tambah bagus, tapi guru-guru tambah malas," kritik Frans. (rol/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...