23 July 2018

Teror Remas Payudara Ancam Mahasiswi dan Ibu Muda Purworejo

Konfrontasi - Kaum perempuan di Purworejo, Jawa Tengah sedang waswas. Penyebabnya adalah adanya teror dalam bentuk pelecehan seksual terhadap para mahasiswi dan ibu muda.

Dkutip dari Purworejo Ekspres (Jawa Pos Group), Jumat (27/5/2016) mengabarkan maraknya aksi teror yang menyasar payudara para wanita muda itu. Lokasinya ada di wilayah Plaosan, sebuah kampung di pinggiran Purworejo.

Pelaku teror payudara biasanya beraksi pada pagi hari saat jalanan di kampung masih sepi. Kebetulan, Plaosan memang dihuni oleh banyak mahasiswi karena berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Warga sebenarnya sudah berusaha menangkap pelaku pencabulan itu. Namun, upaya itu masih belum berhasil.

Ketua RT 1 RW 15 Kampung Plaosan, Sarwo Slamet (44) mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali menerima laporan warga tentang adanya aksi teror yang menyasar payudara para wanita muda itu. Namun, katanya, para korbannya memang belum berani melapor ke polisi karena malu.

“Dalam catatan saya sudah ada lima kejadian dari Januari,” katanya. Kasus terakhir pada 9 Mei lalu pukul 08.00 dengan korban seorang ibu rumah tangga.

Slamet yang berprofesi sebagai tukang becak itu menambahkan, pelaku biasanya beraksi sekitar pukul 06.00-07.00 saat ibu-ibu atau mahasiswa berbelanja pagi. Pelaku menyasar korban yang sedang menaiki sepeda motor atau berjalan sendirian.

“Pelaku menggunakan sepeda motor. Bisa berpapasan atau pun berjalan beriringan,” tutur Slamet.

Ia menjelaskan, pelaku setelah beraksi memang langsung kabur. “Jika berpapasan, pelaku akan memarkir kendaraan dan berusaha mendekati korbannya. Setelah melampiaskan keinginannya, kemudian lari dan kabur menggunakan sepeda motornya,” imbuhnya.

Menurut Slamet, pelaku juga menggunakan modus pura-pura bertanya ke korbannya. Saat korban lengah, pelaku meremas payudara korban dari belakang.

Hanya saja, kata Slamet, para korban biasanya tak bisa berbuat banyak atau langsung berteriak. Sebab, pelaku memang beraksi sangat cepat.

“Jarang sampai bisa berteriak saat kejadian. Karena kejadiannya sangat cepat. Korban biasanya baru berteriak setelah bisa lepas dari perlakukan tidak senonoh itu,” katanya.

Ramelan Sipek (40), warga RT 4 RW 14 Plaosan mengatakan, teror itu menjadi topik pembicaraan masyarakat setempat. Kini, warga pun mengantisipasinya dengan menyebar informasi melalui pesan berantai di telepon seluler.

“Setelah melakukan pelecehan, biasanya pelaku tidak akan beroperasi beberapa waktu. Tapi biasanya kambuh lagi,” ujar Ramelan.

Hanya saja, warga sudah mengantongi ciri-ciri pelaku. Yakni lelaki berusia antara 30-40 tahun yang selalu berpenampilan necis.

Saat mencari korban, pelaku biasanya menggunakan helm dan masker. “Matanya agak sipit dan jarinya agak pendek,” imbuh Ramelan.

Hal yang menyulitkan pencarian karena pelaku selalu berganti-ganti sepeda motor. Namun, merek dan jenisnya sama. Hanya warnanya yang berbeda.

“Dari kejadian yang ada, motor yang dipakai adalah motor jenis Vega warna merah, putih dan biru,” katanya.

Sedangkan Kasat Binmas Polres Purworejo, AKP Suprihadi mengatakan, pihaknya  belum mendapat laporan terkait kejadian itu. Namun, ia berjanji akan menyelidiki informasi itu.

Ia juga mengimbau warga yang berpotensi jadi korban agar tidak bepergian sendirian. Selain itu ia juga meminta para korban mau melapor ke polisi. “Jangan malu melaporkan kepada polisi untuk kita tindaklanjuti,” ujar Suprihadi. (jpnn/mg)

Category: 
Loading...