19 June 2018

Tabrakan Maut di Gilimanuk Bali. 8 Keluarga Batal Berlebaran bareng Ayah

KONFRONTASI -  ahas tak bisa ditolak, ajal tak bisa dihindari. Rencana berlebaran dengan keluarga pun sirna akibat kecelakaan yang merenggut nyawa.

Sabtu malam lalu (17/6), kecelakaan maut terjadi di jalan raya hutan Panginuman, Gilimanuk, Bali. Kecelakaan yang melibatkan Isuzu Elf bernomor polisi S 7485 N dengan truk tronton bermuatan semen itu menewaskan delapan orang yang hendak mudik ke Jember, Jawa Timur.

Saat itu, di dalam mobil Isuzu Elf ada 13 orang. Selain sopir utama dan cadangan, semua penumpangnya adalah warga Jember yang merantau di Bali.

Korban meninggal adalah Subagiyo (sopir), Ahmad Haris (sopir cadangan), Abdur Rozak, Tohari, Suwari, Faris Aryadi, Jumari dan Zaini. Sedangkan lima korban selamat adalah Taufik Hidayat, Rizki, Joko, M Ridwan dan Abu Amin.

Tentu tak mudah bagi para keluarga korban menerima kabar duka itu. Lebih-lebih, semua korban adalah tulang punggung keluarga.

Mereka bekerja di Bali untuk mengerjakan proyek pembanguna vila di daerah Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Usia korban rata-rata juga masih sangat muda. Anak-anak korban juga banyak yang masih kecil.

Kepulangan mereka kemarin bukan karena pekerjaan sudah selesai. Namun, mereka libur sementara dan bermaksud merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman masing-masing.

Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang sudah menjanjikan baju baru untuk anak-anaknya yang kini akhirnya menjadi yatim. Tercatat, akibat kecelakaan ini 13 anak harus menjadi yatim. Hampir semua anak-anak itu histeris begitu jenazah ayahnya tiba di rumah duka, Minggu (28/6). Istri-istri korban pun tak kuasa menahan kesedihan. Hanya mereka yang masih balita saja yang terlihat tetap ceria karena belum mengerti apa yang terjadi.

Kabar duka itu sebenarnya sudah diterima tetangga, kerabat, dan sahabat sejak menjelang tengah malam kemarin. Beberapa keluarga korban ada yang sudah mengetahui.

Namun, rata-rata mereka masih tidak percaya dengan kabar itu. Mereka terlihat masih sibuk memastikan kabar tersebut.

Beberapa keluarga juga ada yang belum mengetahui kabar memilukan tersebut. Terang saja tetangga maupun kerabat yang sudah mengetahui kejadian ini kebingungan saat hendak menyampaikan ke keluarga korban.

Hal itu terjadi pada keluarga Subagiyo, sopir Isuzu Elf. Tidak ada seorang pun yang siap menyampaikan kabar duka itu kepada Mujayana, istri Subagiyo.
 
Mujayana malam itu sudah terlelap. Baru kemarin pagi tetangga sekaligus sahabat Subagiyo yang bernama Nur Fuad memberanikan duka ke Mujayana.

Bukan tanpa sebab tidak ada seorang pun yang berani menyampaikan kabar duka itu kepada Mujayana. Sebab, istri Subagiyo itu baru beberapa hari keluar dari rumah sakit setelah opname sekitar satu bulan. Mujayana dirawat karena sakit jantung.

Begitu mendengar bahwa Subagiyo meninggal karena kecelakaan, tangis histeris Mujayana pecah. Sulastri, adik Mujayana, yang saat itu ada di rumah sang kakak ikut menangis histeris.

Kepergian Subagiyo amat mengguncang hati Mujayana. Tetangga dan kerabat harus berusaha menenangkan Mujayana. Karenanya saat jenazah Subagiyo tiba di rumahnya di Dusun Glengseran, Desa Suci, Kecamatan Panci, Jember, Sulastri tampak lemas. Sedangkan tangis Mujayana di dalam rumah terdengar hingga dari luar.

Sebenarnya, kemarin korban yang biasa disapa Pak Yo ini berencana menggelar akikah cucunya, putri dari Husnul Hotimah. Namun, takdir berkata lain.

Pak Yo pulang berselimut kain kafan. Rencana pengajian akikah berubah menjadi kegiatan tahlil.

Tak hanya itu, Pak Yo juga telah berencana menitipkan cucunya ke Pondok Pesantren Al Hasan yang diasuh KH Muzammil di Desa Kemiri, Panti. Niat itu disampaikan Mujayana ketika sang kiai datang langsung ke rumah Pak Yo.

Sementara salah seorang korban selamat, Taufik Hidayat mengaku duduk di bagian belakang mobil. Menurutnya, semua korban selamat memang duduk di bagian belakang.

Namun, dia tidak bisa menjelaskan detik-detik terakhir kecelakaan mobil yang ditumpanginya itu. “Saat itu semua penumpang tidur,” ungkapnya.
      
Pria yang akrab disapa dengan panggilan Dayat itu hanya sempat mendengar benturan keras. Setelah itu dia pingsan. Dia baru siuman setelah warga dan pengendara jalan di lokasi kejadian kecelakaan memberi pertolongan dan membopongnya keluar dari dalam kendaraan.     
      
Dayat mengakui, mobil yang ditumpanginya sejak awal melaju kencang. Sebab, para penumpang ingin segera sampai di kampung halaman supaya bisa makan sahur bersama keluarganya masing-masing.

Pernyataan Dayat dibenarkan Dina Ayu, anak korban Ahmad Haris. Sebelum kecelakaan, perempuan berumur 21 tahun itu sempat menerima telepon dari bapaknya bahwa rombongan bakal tiba di kampung halaman sekitar pukul 02.00.

“Bapak bilang mau sahur di rumah. Bapak juga sudah beli minuman bervitamin buat saya,” akunya.

Selain itu, Dina, juga sempat diberi tahu bapaknya bahwa yang nyetir mobil dari Bali ke Jember adalah Subagiyo. “Karena bapak kebagian nyetir dari Jember ke Bali,” katanya. Duka juga dirasakan warga Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Tiga korban kecelakaan maut, yakni Ahmad Haris (sopir cadangan), Suwari dan Faris Aryadi merupakan warfa Desa Kemiri.

Sejak pagi para pelayat datang silih berganti ke rumah-rumah duka yang masih terbilang tetangga. Di rumah Ahmad Haris (sopir cadangan, Red), di Dusun Delima, Kemiri ada dua putri almarhum, Dina Ayu dan Dwi Karunia Putri yang pingsan saat bapaknya dibawa pulang dengan dibungkus kain kafan.

Keduanya makin terpukul karena baru beberapa hari mereka memperingati seribu hari meninggalnya sang ibu. Begitu juga di rumah duka korban Faris Aryadi dan Suwari alias Pak Cip. Keduanya langsung dimakamkan secara bersamaan di pemakaman umum desa setempat.(Juft/jpg)

Category: 
Loading...