Siswi Korban Pencabulan Kepsek di Badung Diduga Lebih dari Satu

Konfrontasi - Mantan siswi korban pencabulan Kepala Sekolah berinisial WS (43), di Badung, Bali, diduga tak hanya IAM (16). Dugaan itu terungkap setelah pelaku mengaku perbuatannya saat dilakukan pemeriksaan.

"Informasi terupdate, muncul lagi korban baru sebelum yang ini (korban IAM). Ada sebelumnya yang menurut pengakuan (tersangka) sudah kuliah. Iya, sebelum korban yang sekarang ini," kata Kasatreskrim Polres Badung AKP Laorens R. Heselo, di Mapolda Bali, Jumat (28/2/2020).

WS mengaku mantan siswi yang menjadi korban pelampiasan birahinya itu berinisial D. Korban saat dicabuli pelaku masih duduk di kelas 6 SD. Namun, tersangka sudah tidak ada hubungan lagi dengan terduga korban itu. Pelaku pun mengaku sudah tidak mengetahui keberadaan D sehingga menjadikan IAM pelampiasan nafsunya.

"Kami masih cari (korban) yang terbaru ini, dan kami masih dalami karena dia (tersangka) cuma sebutkan namanya saja dan tidak tau lagi kuliah dimana. Inisialnya D," jelas Haselo.

Polisi menduga korban WS tak hanya IAM dan D. Polisi saat masih mencari mantan siswi korban pencabulan tersangka untuk mengungkap kasus ini.

"Kalau dari analisa kami, kalau lebih dari satu korban pasti ada yang lain lagi. Makannya, kami tetap dalami lagi dan masih proses dan kami mencari inisial D ini. Mudah-mudahan dapat (dan) bisa mulai terungkap lagi semua ini," ujar Heselo.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Sekolah berinisial WS (43) yang telah mencabuli siswinya sendiri berinisial IAM (16) telah resmi ditetapkan menjadi tersangka oleh kepolisian Polres Badung, Bali.

"Setelah diperiksa dan sesuai alat bukti yang cukup, kami sudah tetapkan menjadi tersangka hari ini dan langsung kami terbitkan penahanan," kata Kasubag Humas Polres Badung Iptu Ketut Oka Bawa, Senin (24/2) kemarin.

Pencabulan itu terjadi di salah satu sekolah SD di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, atau tempat korban sekolah. Perlakuan bejat tersangka telah dilakukan sejak bulan Juli tahun 2016 saat korban masih duduk di bangku kelas 6 SD hingga 11 Januari tahun 2020 yang kini korban kelas 1 SMA dan tersangka telah melakukan pencabulan beberapa kali pada korban.

Kronologinya, berawal dari ayah korban didatangi oleh salah satu guru Pembina Pramuka di sekolah korban dan memberitahukan bahwa korban sempat bercerita bahwa telah disetubuhi oleh tersangka. Selanjutnya, ayah korban menanyakan kebenaran informasi tersebut kepada korban dan korban mengakuinya.

Kemudian, korban menerangkan bahwa korban yang saat masih kelas 6 SD sekitar bulan Juli 2016 dibujuk oleh tersangka agar mau berhubungan badan dengannya. Sehingga korban mau diajak berhubungan badan dengan tersangka yang saat itu bertempat di dalam ruang Kepala Sekolah.

Setelah itu, tersangka kembali mengajak korban untuk berhubungan badan beberapa kali diantaranya bertempat di ruangan tempat les tersangka, dan juga di kamar rumahnya di wilayah Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung.

"Kemudian juga di beberapa penginapan di wilayah Kuta Utara, Badung. Untuk TKP dalam ruang kepala sekolah, tempat les tersangka dan di dalam kamar di rumah tersangka (serta) beberapa penginapan di wilayah Kuta Utara," jelas Oka.

Atas peristiwa tersebut, pihak keluarga korban melaporkannya ke Polres Badung. Kemudian, pada Sabtu (22/2) pihak kepolisian langsung mendatangi rumah tersangka yang berada di kawasan Dalung, Kabupaten Badung, Bali.

"Dari hasil interogasi dikuatkan dengan alat bukti lainnya tersangka mengakui perbuatannya. Tersangka, mengakui perbuatannya dilakukan sejak sekitar bulan Juli 2016 (hingga) sekitar bulan Januari 2020 terhadap korban dengan jumlah (pencabulan) yang tidak diingat oleh tersangka," ujarnya.

Oka menyebutkan, tersangka melakukan pencabulan kepada korban motifnya karena menyukai korban dan menjadikan korban sebagai pacar.

"Modusnya, tersangka merayu korban dan mengajak korban untuk berhubungan badan beberapa kali di masing-masing TKP," ujarnya.

Lewat aksi bejat tersangka ini, pasal yang disangkakan adalah Pasal 81 Jo Pasal 76D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun. (mrdk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA