Sisi Lain dari Shalat Idul Adha...

KONFRONTASI-Shalat Idul Adha tak hanya menghadirkan sisi religi dalam pelaksanaannya, tak terkecuali shalat sunnah hari raya pada Sabtu (4/10/2014) ini. Selalu ada cerita lain, mulai soal lembaran koran bekas yang sebelumnya jadi alas shalat lalu ditinggalkan, hingga beragam cemilan yang "menggoda" jemaah selepas shalat.

Beberapa perempuan dan lelaki, dengan satu anak perempuan, terlihat mengambil satu lokasi teduh di belakang masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sesudah waktu shalat sunnah itu. Koran bekas menggunung di belakang mereka. Tangan empat perempuan dan tiga lelaki tersebut, terus bergerak meluruskan lagi lembar demi lembar kertas koran.

"Sekilo koran bekas, dihargai di lapak Rp 1.000," tutur Parti, salah satu perempuan tersebut, sambil terus memilah koran. "Yang sobek tidak dihitung. Harus yang utuh (korannya)," imbuh dia.

Teman-temannya pun sontak menjawab, "Lumayaan...," ketika Kompas.com bertanya apakah mereka akan mendapatkan keuntungan dari bekas alas shalat yang ditinggalkan jemaah tersebut. Namun, mereka sempat terdiam ketika Kompas.com kembali bertanya ke Parti tentang bobot koran yang mereka dapatkan hari itu.

"Paling ini 10-an kilogram," ujar Parti sembari matanya tajam menaksir tinggi gunungan koran bekas di hadapannya. "Ya, paling Rp 10.000-an dapatnya," kata dia, yang sesaat turut tercekat pula dengan fakta hitungannya sendiri.

Sembari menunggu

Namun, diam rombongan ini tak lama. "Ya lumayan, dapat Rp 10.000. Bisa buat beli es," ujar mereka ceria. "Ini kan juga sekalian antre untuk dapat daging saja," timpal mereka. Barulah suasana kembali mencair, dengan tangan-tangan yang tetap lincah meluruskan koran bekas.

Sambil lalu, Kompas.com pun bertanya tentang pekerjaan harian mereka. "Iya, ini cuma pas hari raya saja (mengumpulkan koran bekas). Nanti ada orang yang ngumpulin, dibawa ke lapak di Kebayoran Baru," tutur Parti.

Dalam keseharian, para perempuan ini mengaku bekerja menjadi asisten rumah tangga di apartemen dan tinggal di kawasan Kebayoran Lama. Dengan penjelasan itu juga, mereka sempat menolak dan terus berupaya menghindar ketika diambil gambar.

Cerita Bejo
 

Kompas.com/Palupi Annisa Auliani Salah satu pengumpul koran bekas sesudah shalat Idul Adha di Lapangan Masjid Al Azhar, Jalan Sisingamangaraja Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2014)

Namun, suasana ceria tak muncul saat Kompas.com bertemu Bejo. Lelaki paruh baya ini juga sedang tekun memilah dan meluruskan koran bekas. "Paling hanya lima kilogram ini," kata dia pelan.

Dengan harga jual yang sama ke lapak yang menerima koran bekas itu, Bejo tak membantah hanya akan mendapatkan Rp 5.000 dari kesibukannya itu. "Lumayan, dapat duit," ujar lelaki yang mengaku berasal dari Purwokerto ini.

Berbeda dengan rombongan Parti yang segera bisa kembali riuh setelah menghitung angka uang yang bakal diterima, Bejo tetap bekerja dalam senyap. "Saya tidak punya rumah. Tinggal di jalanan. Kadang di lapak, kadang di mana saja," ujar dia.

Senyum sedikit terulas di wajah Bejo, ketika Kompas.com menyinggung soal antrean daging kurban. "Iya, ini sekalian antre juga. Selalu ke sini kalau hari raya kurban," kata dia.

Masjid Agung Al Azhar di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, menggelar shalat Idul Adha 1435 H pada Sabtu (4/10/2014). Jemaah shalat kali ini membludak, mengisi semua tempat kosong di lapangan sepak bola, tempat parkir di dalam kompleks masjid dan kampus itu, bahkan hingga di ruas Jalan Raden Patah.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, masjid ini memberlakukan mekanisme pembagian daging kurban memakai kupon. Pembagian kupon dilakukan sesudah shalat Id, dan pengambilan daging kurban disesuaikan dengan jadwal pemotongan hewan kurban.

Ubi dan kimpul
 

Kompas.com/Palupi Annisa Auliani Salah satu pedagang yang mencoba mendapat rezeki dari membludaknya jemaah shalat Idul Adha di kompleks Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2014), adalah pedagang kacang rebus, ubi, dan kimpul ini.

Hanya kepada lelaki satu ini, Kompas.com tak mendengar kata daging kurban disebut-sebut. Namun, dia justru yang mendapatkan paling banyak pemasukan pada Sabtu pagi ini.

Membawa pikulan, lelaki ini membawa kacang tanah rebus di satu pikulannya. Di pikulan satu lagi, dia membawa dagangan yang cukup unik, yaitu ubi dan kimpul -satu jenis talas.

"Wah, ada kimpul," celetuk seorang ibu seusai shalat, sembari menghampiri pikulan lelaki ini. Ibu lain yang berjalan di sampingnya, sepertinya bukan dari Jawa Tengah, langsung menoleh  dan bertanya, "Apa itu kimpul?"

Seharga Rp 2.000, ubi dan kimpul tersebut ditawarkan. Bapak-bapak berbaju biru yang melintas tak lama berselang dari rombongan ibu-ibu tadi pun sontak terlihat berbinar melihat ubi dan kimpul yang tinggal tersisa segelintir. "Wah ini nih...," ujar dia sembari mencomot satu kimpul.

Di sela meladeni pembelinya, lelaki pedagang kacang, kimpul, dan ubi ini mengaku tak tiap hari berjualan. Dia mendapatkan bahan dagangan dari kawasan Parung Bingung, Bogor, Jawa Barat. Namun, percakapan tak bisa berlangsung lama, karena larisnya ubi dan kimpul, diselingi sesekali pembeli kacang rebus. Lumayan.... (kps)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...