Resahkan Wrga, Preman Kampung 'di Sekolahkan' Warga Kampar Riau Hingga Babak Belur

Konfrontasi - Seorang preman kampung bernama Santoso (45) tewas setelah dikeroyok oleh ratusan warga di Desa Kota Bangun, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau. Santoso memang dikenal suka mabuk-mabukan dan membuat onar sehingga meresahkan warga.

"Kita masih melakukan penyelidikan dalam kasus pengeroyokan yang dilakukan 300 orang. Kami baru memintai keterangan sejumlah saksi dalam kasus ini," ujar Kapolsek Tapung Hilir Kab Kampar, AKP Benhardi kepada wartawan, Minggu (15/5/2016). 

Benhardi mengatakan pengeroyokan ini terjadi pada Sabtu (14/5) sekitar pukul 23.30 WIB. Massa diduga marah, karena korban Santoso pada siang harinya melakukan pemukulan terhadap dua pelajar SMA berinisial RV (17) dan RK (17) di lapangan bola. Dari lapangan bola kedua siswa tadi dipaksa Santoso ke warung tuak.

"Di warung tuak Santoso kembali melakukan pemukulan terhadap dua siswa. Kondisi siswa tadi pun luka lebam. Setelah dipukuli disuruh pulang," kata Benhardi.

Kedua siswa tersebut, lanjut Benhardi, lantas mengaku kepada orang tua mereka. Pihak keluarga siswa kemudian tidak terima atas pemukulan yang dilakukan Santoso.

Sikap Santoso yang selama ini memang suka membuat onar di kampung itu, lanjut Benhardi, akhirnya menyulut kemarahan warga. Malam itu juga, warga lantas berbondong-bondong ke rumah pelaku.

Kendati massa telah mendatangi rumahnya, kata Benhardi, rupanya tidak membuat Santoso berniat meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Malah Santoso menantang warga bila ada yang berani masuk rumahnya akan dia tembak.

"Komentar ini membuat warga semakin marah. Warga pun akhirnya mengamuk mencari Santoso. Rupanya ketika itu Santoso bersembunyi di atas plapon rumahnya. Warga akhirnya tahu dan dipaksa turun. Saat itulah Santoso dikeroyok massa hingga tewas di rumahnya," kata Benhardi.

Usai mengeroyok, lanjutnya, warga meninggalkan rumah korban. Begitu menerima laporan adanya peristiwa tersebut, pihak kepolisian langsung menuju ke lokasi kejadian.

"Ketika korban akan kita autopsi, pihak keluarga korban menolak. Kasus ini masih kita kembangkan," tutup Benhardi. (dtk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...